Memperkenalkan Nilai Budaya Sunda dengan Karakter Jabar Masagi pada Animasi Webtoon

Mengenali Identitas Budaya

Saat kita lihat masyarakat yang memakai baju koko di hari raya kita katakan itu merupakan budaya orang muslim, saat kita amati masyarakat yang terbiasa menggunakan gawai kita sebut itu sudah membudaya. Lantas kata “Budaya” menjadi sulit dimaknai secara spesifik, para ahli banyak memperdebatkan makna budaya sehingga perdebatan itu akhirnya mengklasifikasikan budaya menjadi dua jenis yaitu budaya keseharian atau umum dan budaya sebagai identitas.

Stefan Czarnowski seorang bapak Sosiolog Polandia berpendapat “Culture is the entirety of objectivised elements of social output of groups of the same rank by virtue of their objectivity, set and capable of spreading”. Budaya adalah keseluruhan elemen objektivitas dari keluaran sosial kelompok-kelompok dengan peringkat yang sama berdasarkan pada objektivitas mereka, aset dan mampu menyebar. (Kloskowska 1964, Krasuska 2015 : 234)

Kata “Objektivitas” menurutnya merupakan bentuk materil dan non-materil yang dihasilkan dari daya cipta manusia seperti musik, pakaian, buku, kesenian, struktur bangunan, tata aturan tertulis dan tidak tertulis yang bersifat umum, sedangkan identitas merupakan klaim kelompok maupun masyarakat atas kepemilikan suatu budaya yang berguna untuk mengindentifikasi keragaman jenis budaya pada suatu bangsa atau negara.

Budaya Sunda sebagai sebagai identitas Lokal

Sudah disinggung sebelumnya bahwa identitas merupakan klaim, bagaimana dengan Sunda? Secara historis bahwa Sunda merupakan klaim budaya dari suku Sunda yang bertempat di Wilayah Nusantra Barat yang sekarang menjadi Jawa Barat. Klaim yang di dasarkan pada salah satu suku atau kelompok masyarakat tertentu (bukan masyakat Indonesia keseluruhan) menjadikan status budaya Sunda sebagai identitas lokal.

Walaupun statusnya sebagai identitas lokal, Sunda memiliki kekayaan seni yang melimpah baik dari kosa kata, sastra maupun nilai-nilai ideologis yang ekslusif seperti sunda wiwitan yang terkandung di dalam Budaya Sunda. menurut Prof. Ganjar Kurnia Suku Sunda merupakan kerajaan terbesar kedua setelah Maja Pahit yang memiliki klaim 500 lebih jenis kesenian. (Arief Maulana, 2013).

Secara bahasa, kekayaan kosa kata Sunda memiliki makna yang majemuk contohnya kata “saya” bisa bermakna “Abdi”, “Urang” dan “dewek” tergantung penggunaannya secara bijak, dalam kesenian Sunda pun memiliki banyak tarian adat seperti Jaipong, Goyang merak, Beluk dan masih banyak tarian lainnya yang menjadi asset kesian yang dimiliki.

Selain kosa kata dan kesenian, masyarakat Sunda memiliki alat musik angklung yang diminati dunia terutama diakui oleh UNESCO dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, prestasi tersebut menjadikan asset alat musik angklung sebagai kebangaan milik Sunda. (Indonesia.go.id, 2018).

Secara ideologis, Sunda memiliki empat prinsip utama yang menjadi pilar dalam membagun etos budaya yaitu Cageur, Bageur, Singer dan Pinter (Sehat, baik secara rohani, mawas dan Cerdas).

Empat prinsip tersebut yang menjadi nilai edukasi untuk ditanamkan kepada anak-anak bangsa sebagai profil karakter ideal dan pembangkit etos kerja. Dalam Perkembangannya prinsip tersebut oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil diadopsi menjadi progam pendidikan karakter “Jabar Masagi” yaitu konsep pendidikan yang menerapkan prinsip Surti (merasakan), Harti (memahami), Bukti (membuktikan) dan Bakti (berbakti) pada masyarakat Jawa Barat terutama kepada generasi Milenial.(PPID Prov Jabar, 2018).

Nilai- nilai inilah yang menjadi poin utama untuk ditanamkan kepada Generasi milenial karena mereka memiliki peran sebagai Iron Stock atau biasa kita sebut genarasi penerus bangsa, namun untuk menanamkan nilai-nilai Sunda yang terprogam dalam “Jabar Masagi” perlunya media gawai yang biasa digunakan oleh para milenialis agar nilai-nilai tersebut terlestari karena selalu di lihat bahkan mereka juga dapat berpartisipasi aktif memperkenalkan identitas budaya lokal Sunda kepada dunia.

Webtoon Sebagai media visual efektif menanamkan nilai-nilai Budaya Sunda

Akhir-akhir ini muncul media animasi digital yang sejenis dengan Manga namun lebih sederhana dan berwarna (full colour) mulai membuming terutama diminati oleh remaja yakni “Webtoon”. Perusahaan yang didirikan oleh Kim Jun Koo asal Korea Selatan mampu meraup 35 juta pembaca di dunia, 6 juta diantaranya berasal dari Indonesia sehingga perusahaan tersebut menargetkan Indonesia sebagai kontributor dan pasar prioritas.(Tia Agnes, 2016).

Para pengguna Webtoon di Indonesia tidak hanya menjadi konsumen namun dapat menjadi kontributor utama, hal tersebut terbukti saat acara “Webtoon Challenge” lima komik buatan Indonesia masuk kedalam komik terfavorit diantaranya “Eggnoid” 1,4 juta subscriber, “My Prewedding” 1,1 juta subscieber, “Tahilalats”, “Flawless” dan “304th” 1 juta subscriber.

Dalam konten-konten kebudayaan Indonesia yang diminati oleh para pembaca Webtoon dunia ialah “Gundala: Son of Lightning” dan “Tahilalats” yang mengadopsi nilai Jawa sisanya mereka menyukai konten drama Korea dan Jepang, Sunda sendiri sudah memiliki cerita menarik yaitu “Kabayan” yang ditulis oleh Avani sudah dilihat sampai 13.400 orang walaupun belum menjadi promosi konten utama karena hanya memproduksi tiga episode.

Selain Cerita Kabayan yang penuh dengan cerita Humor, Jawa Barat terutama masyarakat Sunda memiliki sosok maskot bernama “Prabu Siliwangi” yang diambil dari kisah sastra keluarga Prabu yang berkuasa di tanah Padjajaran seluas Wilayah Jawa Barat, Jika menggunakan konsep semiotik Barthes pada konteks “Prabu Siliwangi” maka terdapat tiga tanda simbol karismatik yang ditemukan yaitu kehormatan karena pujian rakyatnya, kebanggan atas prestasi mempertahankan kerajaanya dan kekuasaan sebagai raja agung tanah Padjajaran.(Barthes, Retty Isnendes, 2017 : 1).

Karakter Prabu cocok untuk dikonvergensi ke dalam Line Webtoon yang bergenre histori dan fantasi yang menceritakan kisah kerajaan Prabu yang berapa kali diserang oleh kerjaan Majapahit. Pembaca akan sangat tertarik dengan sensasi-sensasi action yang di ciptakan oleh illustrator apalagi jika penampilan karakternya disesuaikan dengan fashion anak muda.

Menjadi pertanyaan apakah efektif penyampaian nilai Sunda dengan cara konservatif? Jawabanya ialah tidak karena yang ditargetkan ialah generasi Milenial dan Z yang mayoritas  lebih menyukai konten digital, menggunakan cara yang lama akan membuat anak muda jenuh dan terancam dilupakan, maka dengan adanya konvergensi nilai sunda ke dalam animasi digital Webtoon menjadi media edukasi penanaman karakter “Masagi” dalam cerita Prabu kepada para pembaca webtoon.

Pertanyaan kedua bagaima pembaca yang tidak berasal dari ketururan Sunda dapat memahami isi konten cerita tersebut? Disini kita mesti menggunakan bahasa Nasional yaitu Indonesia, bahasa lokal yang di pakai pada global pastinya banyak orang yang tidak paham karena perbedaan bahasa maka bahasa Sunda ini digunakan untuk kutipan atau istilah-istilah untik seperti “ari maneh jelema atawa kalkulator? Meni henteu menang salah” “kamu itu orang atau kalkulator? Sampai gak boleh salah” salah satu contoh untuk kutipan komedi yang bisa diselipkan pada adegan tertentu.

Pertanyaan terakhir, apakah dengan Webtoon langkah paling efektif dalam memperkenalkan Sunda? Melihat kenyataan pada nasib TVRI yang banyak memperkenalkan pelbagai budaya lokal dalam saluran televisi nasional ternyata kurang dilirik oleh milenialis, memperkenalkan Sunda dengan cara mengupload ke dalam youtube juga tidak terlalu efektif karena video yang disajikan kurang update dan kalah saing dengan video Popculture.

Oleh karena itu memperkenalkan dengan media Webtoon merupakan langkah efektif karena tidak
terlalu memakan biaya jika dibandingkan menyiarkannya di acara Televisi nasional dan kelebihan webtoon ceritanya terpotong-potong sehingga membuat pembaca merasa penasaran dan menanti-nanti episode yang akan update.

Kesimpulan

Anthony Giddens seorang Sosiolog berkebangsaan Inggris melihat adanya fenomena Juggernaut yaitu perubahan yang cepat (revolusi) yang mampu menyingkirkan nilai-nilai lama ditengah globalisasi. Teori ini memandang bahwa nilai yang disampaikan dengan metode konservatif yang bertolak belakang dengan kreativitas digital pada persaingan pasar global, mudah untuk ditinggalkan atau dilupakan dengan pengalihan pandangan pada informasi digital yang lebih update.(Anthony Giddens, Ritzer, 2012 : 935)

Pada konteks tradisi Sunda yang masih menggunakan cara konservatif dalam penyampaian tradisinya akan mudah dilupakan karena perbedaan pandangan dengan kaum moderat yang melihat cara lama atau “jadul” sudah tidak menarik, penulis melihat bahwa semangat untuk mempertahankan budaya lokal tidak mesti menggunakan cara tradisional yang terus diulang-ulang, perlu ada dinamisasi dalam metode yang saat ini di kembangkan kearah digital yang paling ampuh dan efektif.

Gawai yang memberikan kebanjiran informasi kepada masyarakat dunia menuntut adanya kompetisi antar budaya secara global untuk memperkenalkan budayanya kepada pasar bebas yang lebih cepat. Komik digital Webtoon yang saat ini menjadi komoditi paling popular menjadi arena yang strategis untuk memasarkan kisah Prabu yang berkarakter “Masagi” kedalam pasar Webtoon agar budaya Sunda menjadi populis dan menjadi kompetitor yang unggul ditengah para pesaing lainnya.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Jabar Masagi . Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Fariz Muntashir Billah ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

Referensi

  • Ritzer, G. (2012). Teori Sosiologi Klasik sampai Postmodern. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.
  • Matuchniak-Krasuska, A. (2015). Culture and Society. Lodz, Polandia: Departement of Sosiology of Art University of Lodz.
  • Isnendes, R. (2017). Semiotika Siliwangi Pada Masyarakat Sunda. Jurnal FPBS,
  • Agnes, T. (2016). Pembaca Line Web Toon di Indonesia Terbesar di Dunia. Jakarta: hot.detik.com.
  • Indonesia, P. I. (2018). Alat Musik Indonesia yang Mendunia. Jakarta: www.indonesia.go.id.
  • Jabar, A. H. (2018). Punya Tiga Budaya, Jabar Masagi Ingin Wujudkan Karakter Generasi Milenial Melalui
  • Kearifan Lokal. Bandung: ppid.jabarprov.go.id.
  • Maulana, A. (2012). Perlu Ada Kesadaran untuk Meningkatkan Eksistensi Suku Sunda. Jatinangor:
  • www.unpad.ac.id.

11 Responses to "Memperkenalkan Nilai Budaya Sunda dengan Karakter Jabar Masagi pada Animasi Webtoon"

  1. Sangat edukatif dan informatif. Mantap!

    BalasHapus
  2. Luar biasa memang saya setuju dengan ide, memperkenalkan budaya sunda lewat webtoon. Tetapi dengan begitu apakah tidak mengurangi nilai budayanya. Jangan sampai nilai budaya sunda runtuh dan tidak terdapat rasa dan karsa yang terdapat dikebudayaan sunda. Jangan sampai nilai yang terkandung hilang bahkan tidak merasakan lagi bahwa ini adalah kebudayan sunda.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel