Jago, Antara Hindu Atau Budha


Ditengah-tengah pemukiman warga, berdirilah sebuah peninggalan kuno nan megah yang menjadi saksi akan betapa kuatnya kerajaan Singhasari

Malang adalah sebuah kota yang terletak di Jawa Timur dan sudah terkenal akan kota yang memiliki banyak sekali tempat wisata. Baik wisata alam, wisata keluarga dan juga wisata budaya sangat banyak sekali di kota ini.

Terlebih lagi wisata budayanya yang melimpah seperti wisata candi. Salah satu candi yang bisa dikunjungi saat berkunjung ke kota bunga ini adalah Candi Jago.

Posisi dari Candi Jago sendiri cukup unik yakni berada di tengah-tengah pemukiman warga dan juga posisi candi ini berada di dekat pasar Tumpang. Letak candi ini juga unik yakni letaknya yang tidak jauh dari jalan raya yakni kurang lebih 200 meter dari jalan raya Tumpang.

Jujur saja untuk bagi orang awam atau orang yang masih asing dengan daerah sana akan cukup kesusahan mencari jalan masuk karena tidak adanya tanda yang mengarahkan kita menuju Candi Jago.

Letak Candi Jago berada di salah satu kecamatan di daerah kabupaten Malang tepatnya di kecamatan Tumpang. Jika ingin pergi ke Candi Jago maka jarak dari pusat Kota Malang adalah sekitar 22 KM kearah timur.

Jarak Candi Jago ini bisa dikatakan cukup jauh akan tetapi jika kita sudah sampai disana kita akan disuguhkan akan kemegahan akan Candi Jago dan juga Candi Jago inii memiliki keunikan tersendiri yakni Candi ini termasuk Candi yang memadukan 2 unsur agama yakni Hindu dan Budha.

Candi Jago dibangun pada pertengahan abad ke-13 dan diresmikan pertama kali pada tahun 1280 masehi yang bertepatan dengan diadakannya upacara Cradha, yakni upacara pelepasan roh dari dunia. Dan juga Candi Jago merupakan salah satu dari dua tempat pemakaman dari Raja Singhasari  ke 4 yakni Raja Wisnuwardhana sebagai Budha.

Oleh karena itu, Candi Jago ini bisa dikatakan termasuk salah satu candi sinkritisme atau percampuran akan dua unsur agama karena Raja Wisnuwardhana merupakan penganut agama Hindu Budha atau Ciwa Budha dalam aliran Tantrayana.

Keunikan Candi Jago terdapat pada bentuk bangunannya. Dibandingkan dengan candi-candi lainnya, kaki candi terdiri dari tiga tingkat. Pada setiap tingkatnya memiliki jumlah anak tannga yang berbeda-beda.

Pada tingkat pertama terdapat delapan anak tangga, lalu untuk tingkat kedua memiliki empat belas anak tangga, dan untuk tingkat ketiga memiliki tujuh anak tangga. Selain itu keunikan candi ini juga menggunakan atap yang terbuat dari kayu berbentuk Meru seperti atap pura-pura yang ada di Bali.

Keunikan lain dari Candi Jago adalah terdapat teras pada setiap tingkatnya dan teras tersebut makin keatas makin mengecil dan bergeser ke belakang. Teras paling atas merupakan teras yang paling penting dan sakral.

Ketika saya berkunjung kesana saya melihat pada teras tersebut terdapat sebuah bunga-bunga atau bisa dikatakan “Sesajen”. Dikarenakan struktur candi yang memilik teras dan semakin keatas maka akan semakin mengecil juga terasnya akan mengingatkan pada salah satu bangunan pada masa Megalitikum yakni punden berundak dikarenakan memiliki pola bangunan yang hampir menyerupai.

Selain itu keunikan dari Candi Jago terdapat pada relief-relief yang terpahat pada dinding candi.  Keunikan tersebut ada pada sifat dari relief tersebut ada dua yakni sifat budhistis dan hinduistis. Pada relief yang bersifat budhistis terdapat 3 cerita yakni cerita Tantri atau binatang, cerita Angling Dharma, dan Cerita Kunjarakarna.

Dan untuk relief Hinduistis juga terdapat 3 cerita pada relief-relienya yakni cerita Parthayadnya, cerita Arjuna Wiwaha, dan cerita Kresnayana dan bisa disimpulkan bahwa relief hindu disini mencertitakan Mahabaratha.

Meskipun terdiri dari dua budaya, relief-relief tersebut terjalin sangat harmonis dalam satu kesatuan. Untuk cara membaca reliefnya arah membacanya adalah berlawanan dengan arah putar jam atau biasa disebut Prasawyah.


Pada relief budhistis, secara garis besar pokok isi ceritanya adalah pembelajaran moral , kebijaksanaan dan juga mengenai hukum manusia. Sebagai contoh adalah salah satu reliefnya adalah relief yang menceritakan Tantri.

Pada relief tersebut menceritakan dua ekor kura-kura yang tamak  dengan seekor burung bangau  yang hidup disebuah telaga. Walaupun kedua kura-kura tersebut sudah hidup di telaga yang melimpah airnya, mereka kurang puas dan menginginkan pindah ke telaga yang lebih besar dan airnya lebih melimpah.

Dikarenakan jaraknya yang terlalu jauh, kedua kura-kura tersebut memiliki ide untuk memanfaatkan si burung bangau agar mau membawa mereka untuk pindah menuju telaga yang lebih besar. Akhirnya si burung bangau menyetujui ide dari kedua kura-kura tersebut.

Si burung bangau menyuruh kedua kura-kura itu agar menggigit masing-masing ujung tongkat kayu dan si burung bangau akan menggigit bagian tengah dari tongkat kayu. Lalu, si burung bangau memberikan pesan terhadap kedua kura-kura tadi agar tidak berbicara dalam kondisi apapun sebelum sampai tujuan.

Akhirnya si burung bangau terbang menuju telaga. Pada saat di perjalanan, terdapat 2 serigala yang sedang beristirahat di bawah pohon sedang beristirahat dibawah pohon dan kemudian mereka menghadap ke atas dan melihat ada 2 ekor kura-kura sedang bergelantungan di tongkat kayu.

Kedua serigala tersebutpun berinsiatif untuk memangsa kedua ekor kura-kura tadi. Diejeklah kedua kura-kura tersebut oleh para serigala dengan memanggil mereka seperti kotoran kerbau yang sedang terbang dibawa angin.

Mendengar perkataan seperti itu, kedua kura-kura itu merasa jengkel dan marah akan perkataan para serigala. Lupa akan pesan dari si bangau agar tak berbicara dalam perjalanan, kedua kura-kura tersebut membuka mulut mereka untuk membalas perkataan dari serigala yang  membuat mereka terjatuh karena gigitan pada tongkat kayu jadi lepas.

Akhirnya kedua kura-kura tersebut jatuh ke tanah dan dimangsa oleh kedua serigala tadi. Berdasarkan cerita dari relief Tantri tersebut kita bisa mendapatkan pembelajaran yang berharga yakni sifat pemarah, tidak sabar dan tamak bisa merugikan diri kita sendiri.

Di sisi lain, Relief bersifat hinduistis dapat disimpulkan bahwa relief bersifat ini  menceritakan bagaimana kisah dari Mahabarata. Hal itu terlihat dalam relief Parthayadnya yang ceritanya adalah bagaimana awal mula terjadinya perang Bharatayuda (perang antara pandawa dengan kurawa). Dan cerita tersebut dilanjutkan pada relief Arjunawiwaha yang menceritakan tentang bagaimana Arjuna mendapatkan senjata saktinya.

Pada Candi Jago juga terdapat beberapa arca didalamnya. Arca yang berada di Candi Jago adalah arca Amoghapasa yang merupakan arca utama dan juga terdapat tiga arca Muka Kala. Oleh karena itu, kita bisa menyimpulkan bahwa candi ini bersifat budhistis dikarenakan keberadaan arca-arca tersebut.

Dan juga saya sarankan jika mau pergi ke Candi Jago sebaiknya pada waktu akhir minggu ketika kita sedang penat akan hiruk pikuk perkotaan kita bisa menikmati suasana tenangnya pedesaan. Jika kita ingin menikmati Candi Jago maka saya anjurkan untuk pergi dipagi hari karena kita selagi matahari belum terik, kita bisa bermain bersama keluarga dan berfoto bersama.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Candi Jago. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Nauvaldi Sulthany Akbar ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Jago, Antara Hindu Atau Budha"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel