Subahnale : Kain Songket Penghias Jiwa Dan Raga


Kain songket merupakan pakaian yang sangat akrab dengan warisan budaya di Indonesia. Kain sendiri merupakan bahan yang dibuat dari jaringan serat. Adapun songket merupakan kata yang berasal dari bahasa melayu “sungkit” yang berarti mengait atau mencungkil.

Berdasarkan pemaknaan dua kata tersebut, Kain Songket dapat dipahami sebagai jaringan serat yang diproses melalui teknik pengaitan tertentu sehingga menjadi kain. Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya memiliki berbagai macam motfi Kain Songket yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara.

Tiap-tiap motif Kain Songket timbul dari berbagai latar belakang daerah dimana Kain Songket tersebut dibuat. Selain itu, Kain Songket juga menyimpan makna-makna filosofis tersendiri yang mana makna-makna tersebut harus disadari oleh pemakainya sehingga dapat mempresentasikan Kain Songket yang dikenakan. Salah satu Kain Songket Nusantara yang penuh akan makna filosofis adalah Kain Songket Subahnale.

Kain Songket Subahnale



Kain Songket Subahnale
(Sumber : dokumentasi pribadi penulis, 2019)

Kain Songket Subahnale merupakan Kain Songket yang berasal dari Desa Sukarara, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Nama Subahnale memiliki keterkaitan dengan salah satu kalimat suci pengagungan terhadap Tuhan yang dilafazkan oleh Umat Islam, yaitu SubhanAllah yang berarti Mahas Suci Allah.

Penamaan tersebut berasal dari sebuah kisah ketika Kain Songket Subahnale pertama kali dibuat. Kain Songket tersebut dibuat dalam waktu yang lama dan di dalam ruangan yang tertutup sehingga tidak ada satu pun orang yang mengetahui penampilannya.

Ketika pembuatan Kain Songket tersebut telah selesai, sang pengrajin kemudian menunjukan hasil karyanya kepada masyarakat dan sontak para masyarakat mengucapkan “SubhanAllah” sebagai wujud kagum atas Kain Songket yang begitu indah.

Pembuatan Kain Songket Subahnale

Pembuatan Kain Songket Subahnale dilakukan di waktu luang oleh Masyarakat Desa Sukarara. Waktu luang yang dimaksud adalah waktu dimana masyarakat tidak disibukan oleh kegiatan pertanian.

Terdapat aturan dalam hal pembuatan Kain Songket Subahnale, yaitu (1) hanya dibuat oleh seorang wanita dan (2) beberapa Kain Songket Subahnale tertentu hanya boleh dibuat pada hari-hari tertentu serta dibuat oleh wanita yang sudah tidak mengalami datang bulan. Adapun proses yang dilalui untuk membuat Kain Songket Subahnale terdiri dari:


  • Menyusun benang, yaitu proses memilih warna benang sesuai motif kemudian melilitkan benang pada apit.
  • Memasukan benang, yaitu proses memasukan benang ke dalam sisir (seperti memasukan benang ke dalam jarum jahit dengan jumlah yang sangat banyak).
  • Menenun benang, yaitu proses membuat kain dengan menyilangkan antara benang lungsi dan benang pakan.


Terdapat beberapa alat dan bahan yang digunakan dalam membuat Kain Songket Subahnale. Alat yang digunakan adalah alat tradisional yang disebut gedokan. Gedokan merupakan alat tenun yang bersifat portable dimana dalam proses penggunaannya menggunakan tekan dari tubuh penenun untuk mentur ketegangan benang. Adapun rincian alat yang digunakan adalah:


  • Batang, yaitu dua buah kayu besar yang berada di kanan dan kiri alat pembuat tenun yang mana berfungsi sebagai penjepit tempat benang dan penyeimbang.
  • Tutuk, yaitu tempat benang yang terbuat dari kayu yang mana berfungsi sebagai tempat menggulung benang.
  • Lekot, yaitu alat yang terbuat daru batang kayu yang mana digunakan oleh pengrajin sebagai tempat bersandar sekaligus berfungsi sebagai mengatur ketegangan benang.
  • Suri, yaitu alat yang terbuat dari kayu yang mana berfungsi untuk mengencangkan benang yang telah diselipkan.
  • Apit, yaitu alat berbentuk persegi panjang pipih yang berada di bagian depan guna menggulung benang.


Adapun bahan yang digunakan dalam membuat Kain Songket Subahnale adalah benang katun yang terbuat dari kapas.

Makna Filosofis Kain Songket Subahnale


Kain Songket Subahnale memiliki hubungan yang erat dengan Masyarakat Desa Sukarara. Kain tersebut memiliki peran tersendiri sebagai pakaian yang digunakan dalam menjalankan upacara adat hingga upacara keagamaan.

Songket Subahnale memiliki motif yang terinspirasi dari kombinasi flora dan fauna serta bidang geometris yang mana tiap-tiap motifnya menyimpan makna filosofis tersendiri. Terdapat beberapa motif dari Kain Songket Subhanale dengan makna filosofis yang berbeda-beda pula, di antaranya sebagai berikut :

Motif Serat Penginang

Penginang berarti tempat makan sirih dalam Bahasa Sasak. Motif ini berbentuk segi empat dengan hiasan fauna dan garis yang silang menyilang. Kain Songket Subahnale ini digunakan oleh penduduk laki-laki maupun wanita dalam melakukan upacara adat. Makna filosofi dari motif ini adalah setiap manusia di dalam kehidupannya harus memelihara kebersamaan dan kerukunan dengan manusia lainnya.

Motif Panah

Kain Songket Subahnale Motif Panah memiliki ciri khas berupa adanya hiasan berbentuk anak panah. Songket ini biasa digunakan oleh masyarakat dalam menghadiri upacara adat berupa Nyongkolan (upacara adat pernikahan Suku Sasak). Makna filosofis dari motif ini adalah setiap manusia haruslah bersifat jujur sebagaimana anak panah yang ketika dilepasakan akan bergerak lurus ke depan.

Motif Keker

Kain Songket Subahnale Motif Keker merupakan songket yang memiliki motif fauna berupa burung merak yang saling berhadap-hadapan di bawah pohon yang rindang. Kain Songket ini digunakan oleh masyarakat untuk menhadiri pesta. Makna filosofis dari motif ini adalah menjalani kehidupan dengan kebahagiaan atau suka cita.

Motif Nanas

Kain Songket Subahnale Motif Nanas sebagaimana namanya merupakan motif flora berupa Buah Nanas. Kain Songket ini biasa digunakan oleh masyarakat di dalam aktivitas sehari-harinya. Makna filosofis dari motif ini adalah manusia harus bersyukur kepada Tuhan Ynag Maha Kuasa yang mana telah memberikan berkah berupa lahan pertanian yang subur.

Motif Bulan Berkurung

Kain Songket Subahnale Motif Bulan Berkurung merupakan Kain Songket dengan motif geometris segi enam. Songket ini biasa digunakan pada saat-saat tertentu seperti digunakan saat pasangan suami istri yang baru menikah. Makna filosofis dari motif ini adalah pengakuan bahwa Tuhan itu ada serta Kebesarannya harus selalu diingat sehingga manusia senantiasa bersyukur.

Motif Wayang

Kain Songket Subahnale Motif Wayang memiliki hiasan berupa wayang yang berpasang-pasangan. Songket ini biasa digunakan dalam menghadiri upacara adat. Makna filosofis dari kain songket ini adalah manusia tidak dapat hidup sendirian di dunia ini (manusia saling membutuhkan satu sama lain).

Motif Bintang Empat

Kain Songket Subahnale motif bintang empat memiliki ciri-ciri berupa corak kotak-kotak berwarna merah dan hijau muda atau garis-garis mendatar dengan warna merah dan hitam. Istilah bintang empat berhubungan dengan arah mata angin yang mana terinspirasi dari keluarnya bintang timur pada pagi hari sebgagai pertanda bahwa matahari akan segera terbit.

Kain ini merupakan salah satu kain yang wajib dipersiapkan wanita Suku Sasak ketika akan menikah sebagai hadiah untuk calon suami. Makna filosofis dari motif ini berkaitan dengan penaggalan zaman dahulu untuk mengetahui musim.

Kain Songket Subahnale Sebagai Penghias Jiwa dan Raga

Pakaian tidaklah hanya sekedar untuk menutupi badan dan memperindah penampilan, melainkan juga untuk dikenal sehingga dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran. Pakaian tidak hanya sekedar untuk dipakai, melainkan juga untuk diresapi, sebagaimana Kain Songket Subahnale yang penuh akan makna guna menghias jiwa dan raga.

Demikian tulisan mengenai Kain Songket Subahnale yang ditulis oleh Lalu Cahya Rizqika. Semoga bermanfaat.

0 Response to "Subahnale : Kain Songket Penghias Jiwa Dan Raga"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel