Kalender Nusantara, Kekhasan Budaya yang Hampir Terlupakan


Kita semua pastinya pernah menggunakan benda yang satu ini. Namun tak jarang keberadaannya hanya sebatas dekorasi semata. Padahal penggunaan penanggalan dan kalender di menyimpan catatan sejarah panjang dan perjalanan peradaban kebudayaan suatu bangsa. Lalu seperti apakah kekhasan kalender budaya yang berkembang di nusantara?

Salah satu tolak ukur untuk menilai kemajuan budaya dan peradaban dari sebuah bangsa adalah penggunaan sistem penanggalan atau kalender di bangsa tersebut. Hal ini dikarenakan sebuah sistem penanggalan dihasilkan oleh para ahli yang mengamati fenomena alam yang terjadi dalam jangka waktu tertentu serta melakukan sebuah perhitungan tertentu atas fenomena yang terjadi itu. Dan, ternyata tak semua suku bangsa di dunia memiliki  sistem penanggalan dan kalendernya sendiri.

Selayaknya sebagai suatu bangsa kita berbangga hati karena memiliki bangsa yang besar dengan peradaban budaya yang cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan sistem penanggalan dan kalender yang telah digunakan oleh nenek moyang kita ratusan tahun yang lalu.

Namun, masihkah kalender dan sistem penanggalan yang berbasis kebudayaan tersebut digunakan oleh bangsa ini? Lalu, bagaimana upaya kita untuk melestarikan peninggalan budaya tersebut?

Kemajuan Peradaban 

Secara umum sistem penanggalan yang digunakan oleh masyarakat dunia merupakan hasil dari pengamatan ahli perbintangan yang mengamati fenomena langit pada suatu masa tertentu. Hasil pengamatan beberapa ahli perbintangan atau astronomi tersebut menghasilkan beberapa sistem penanggalan atau kalender dalam beberapa kelompok yaitu:

Kalender Solar
Kalender ini dibuat berdasarkan hasil pengamatan terhadap pergerakan matahari. Sistem penganggalan ini diterapkan dalam menyusun kalender Romawi.

Kalender Lunar
Sistem penanggalan jenis ini dibuat berdasarkan pergerakan bulan. Metode ini digunakan dalam pembuatan kalender Hijriah.

Kalender Lunisolar
Pembuatan kalender ini dilakukan dengan menyesuaikan antara pergerakan bulan dan matahari. Setem ini diterapkan pada kalender Tionghoa.

Ternyata hal yang berbeda akan kita temukan pada kalender budaya asli nusantara ini. Kalender nusantara disusun tak hanya berdasarkan pergerakan benda-benda langit semata. Namun kalender nusatara jauh lebih kompleks dari sistem penganggalan yang berkembang di dunia.

Para nenek moyang kita juga menambahkan berbagai fenomena yang berkembang di bumi nusantara ini, seperti hujan, kemarau dan lain sebagainya sebagai bagian dari penanggalan yang dibuatnya.

Keanekaragaman Budaya

Jika biasanya sebuah bangsa hanya memiliki satu sistem penanggalan atau kalender, maka bangsa kita patut berbangga karena memiliki beberapa sistem penanggalan yang memiliki kekhasannya yang berbeda-beda pula. Beberapa sistem penanggalan tersebut antara lain:

1. Kalender Sunda

Kala Sunda atau kalender masyarakat Sunda yang dipercaya sebagai sistem penanggalan yang tertua yang ada di bumi nusantara ini. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Ali Sastramidjaja (dalam https://candi.web.id/kalender-sundabukti-tingginya-peradaban-nusantara/) selaku peneliti budaya Sunda, ditemukan bahwa keberadaan Kala Sunda di nusatara ini jauh lebih dahulu muncul dibandingkan dengan kalender yang ada ada di masyarakat Jawa dan Bali.

Kalender yang digunakan oleh masyarakat Sunda memiliki tiga variasi penanggalan. Yang pertama ialah Kalender Suryakala atau Saka Sunda yang dibuat berdasarkan pergerakan matahari. Selanjutnya adalah Chandrakala atau Caka Sunda yang pembuatannya berbasis pada pergerakan bulan. Dan yang terakhir adalah Sukrakala yaitu sistem penanggalan yang dibuat berdasarkan kedudukan bintang.

Masyarakat tradisional Sunda menggunakan Kala Sunda untuk berbagai keperluan dan aktivitas seperti menentukan hari baik untuk pernikahan, waktu untuk bercocok tanam dan berbagai kegiatan lain yang bertujuan untuk kebaikan dan keselarasan kehidupan antara manusia dengan lingkungannya.

Namun setiap versi dari Kala Sunda biasanya digunakan dalam fungsi yang berbeda-beda. Misalnya Suryakal biasanya dimanfaatkan untuk keperluan pertanian. Sementara Chandrakala umumnya digunakan untuk kegiatan yang bersifat spiritualitas dan keagamaan, dan dapat pula digunakan untuk menentukan fase pasang surut air laut. Sedangakan Sukrakala, penggunaannya lebih ditenkankan untuk keperluan ilmu pengetahuan.

2. Kalender Jawa

Kalender Jawa yang berkembang dan digunakan hingga saat ini merupakan sistem penanggalan yang diinisiatifkan oleh Sultan Agung selaku raja Mataram. Keistimewaan dari kalender Jawa ini ialah perpaduan antara sistem penanggalan Jawa kuno, sistem penanggalan Islam (Hijiriah), sistem penanggalan Hindu (Saka) yang juga berpadu dengan penanggalan Julian dari negara Barat terbentuk demikian apik. Pembuatan kalender Jawa ini sebenarnya dilakukan untuk mengakomodasi berbagai kepentingan masyarakat Jawa.

Pada masa pra Islam, orang Jawa mengenal satuan pekan tak hanya sebatas tujuh hari saja, melainkan 2 hingga 10 hari dalam sepekan. Satuan pekan tersebut itu terdiri atas dwiwara, triwara, caturwara, pancawara, sadwara, saptawara, astawara, dan sangwara.

Setelah itu satuan pekan yang digunakan dalam kalender Jawa hanya terdiri dari lima hingga tujuh hari saja. Namun, yang lebih sering digunakan oleh kebanyakan orang Jawa hingga kini ialah pancawara yang terdiri atas lima hari yang dikenal sebagai hari pasaran. Hari-hari pasaran tersebut antara lain: Pahing, Pon, Wage, dan Legi.

Nama bulan dan jumlah hari dalam setahun pada kalender Jawa diambil dari kalender Hijriah yaitu: Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah (Arwah, Saban), Pasa ((Puwasa, Siyam, Ramelan), Pasa, Séla, dan Besar (Dulkahijjah).   

Namun, angka tahun pada kalender Saka masih tetap  dipertahankan dalam penanggalan Jawa ini. Alhasil, perhitungan tahun pertama kalender Jawa adalah 1 Sura 1555 Jawa, dan bukan bukan 1 Sura 1 Jawa.

3. Kalender Suku Tengger

Suku Tengger yang bermukim di daerah Jawa Timur memiliki sistem penanggalan khusus yaitu Kalender Tengger. Kalender ini merupakan turunan dari Kalender Hindu yang disusun berdasarkan pergerakan bulan dan matahari.

Namun yang membedakan Kalende Tengger dan Kalender Hindu ialah jika kalender Hindu merupakan hasil pengamatan langit berdasarkan ilmu astronomis, maka kalender Tengger terbentuk berdasarkan perhitungan angka yang sangat detail.

Kalender Tengger juga menganut sistem pekan selayaknya kalender Jawa. Ada beberapa jenis pakan yang digunakan dan penanggalan suku Tengger ini antara lain Pancawara/pasaran yang terdiri atas lima hari dalam sepekan yaitu: Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Manis. Sadwara/peringkelan, dimana terdapat enam hari dalam sepekan yaitu: Aryang, Wurukung, Paniron, Uwas, Mawulu, dan Tungle.

Saptawara/padinan yang sepekannya terdiri atas tujuh hari diantaranya: Dite, Soma, Anggara, Buda, Respati, Sukra, dan Tumpek. Hastawara/paguron dimana dalam sepekan terdapat delapan hari yaitu: Sri, Indra, Guru, Soma, Rudra, Brama, Kala, dan Uma. Dan yang terakhir ialah Nawawara/padangon yang terdiri atas sembilan hari dalam sepekan diantaranya: Dangu, Janggur, Gigis, Kerangan, Nohan, Kawokan, Wurungan, Tulus, dan Dadi.

4. Kalender Suku Madura

Kalender Madhureh merupakan kalender milik suku Madura. Sistem penanggalan pada kalender Madhureh ini pada dasarnya hampir sama dengan Kalender Jawa. Nuansa Islami yang sangat kental sangat dominan dalam kalender ini.

Nama bulan yang digunakan dalam kalender Madhureh ini  lebih banyak menggunakan nama-nama yang berasal dari bahasa Arab, walau masih ada juga nama bulan yang berasal dari bahasa Sansekerta. 

Pemberian nama bulan pada kalender Medhura berkaitan erat dengan hari-hari besar umat Islam. Nama-nama bulan pada penanggalan suku Madura antara lain: Sorah, Sappar, Molod, Rasol, Mandhilawal, Mandhilaher, Rejjeb, Rebbe, Pasah, Tong Areh, Takepek,  dan Rerajeh.

5. Kalender Bali

Walaupun agama Hindu berasal dari India, dan mayoritas orang Bali menganut agama Hindu, namun ternyata kalender Saka Bali tidak sama dengan kalender Saka dari India. Kalender Saka Bali memiliki keistimewaan karena kalender Saka Bali merupakan sistem penanggalan yang dihasilkan dari konvensi.

Hal ini dikarenakan kalender Saka Bali tak hanya dibuat berdasarkan ilmu astronomis semata, tapi juga merupakan hasil modifikasi dari berbagai elemen-elemen lokal. Prinsip dasar dari kalender Bali ini adalah penanggalan lunisolar atau berdasarkan pergerakan bulan dan matahari.

Perhitungan waktu satu bulan candra atau sasih dalam kalender Saka Bali adalah 30 hari yang terdiri atas 15 hari menjelang purnama yang disebut penanggal (suklapaksa), dan  15 hari menjelang bulan baru yang disebut panglong (kresnakapsa). Sementara itu perhitungan bulan surya pada kalender Saka Bali tidak sama panjangnya dengan bulan candra (sasih) karena perhitungan bulan surya jauh lebih rumit ketimbang pada bulan sasih.


6. Kalender Suku Sasak

Suku Sasak yang mendiami daerah Nusa Tenggara Barat memiliki kalender Rowot Sasak. Kalender Rowot Sasak ini merupakan budaya turun temurun yang masih digunakan oleh masyarakat sasak hingga saat ini.

Masyarakat Sasak biasanya menggunakan kalender Rowot ini untuk membaca dan menetukan musim tanam yang tepat agar hasil panen yang dihasilkan memuaskan. Hal ini dikarenakan masyarakat Sasak mempercayai bahwa posisi rasi bintang akan sangat berpengaruh pada pembagian musim yang pada akhirnya akan berimbas pada hasil panen yang mereka dapatkan nantinya.

Sistem penanggalan pada kalender Rowot ini terbentuk dari hasil pengamatan bintang. Nenek moyang suku Sasak selalu mengajarkan keturunannya cara mengamati bintang Rowot dan Tenggale yang menjadi acuan sistem penanggalan mereka.

Rowot merupakan rasi bintang yang muncul dalam waktu 11 bulan atau 330 hari. Rasi bintang ini muncul dari arah Timur Laut, berupa gugusan 7 bintang.  Penampakan gugus bintang Plaides yang disebut Rowot  tersebut yang kemudian digunakan sebagai penanda awal musim oleh masyarakat Sasak.

7. Kalender Suku Batak

Suku Batak memiliki sebuah kalender yang disebut Parhalaan. Parhalaan rupakan jenis kalender tradisional yang terdiri atas dua belas bulan, yang setiap bulannya terdiri atas 30 hari.   Namun kalender Parhalaan ini tidak pernah digunakan sebagai penanggalan, melainkan berfungsi untuk meramal hari baik atau panjujuron ari.

Parhalaan hingga kini masih digunakan, namun penggunanya adalah kalangan tertentu yaitu yang berasal dari golongan Parmalim. Parmalim ialah aliran kepercayaan yang diturunkan oleh para leluhur suku Batak.

Parhalaan ini biasanya diukir pada seruas bambu. Perhalaan ini ada yang terdiri atas dua belas bulan, namun ada pula yang terdiri atas tiga belas bulan di dalamnya. Perhitungan bulan ketiga belas ini digunakan untuk menyesuaikan sistem kalender bulan (Lunar) dengan sistem kalender matahari (Solar).

Kalender Parhalaan ini disusun berdasarkan pergerakan bulan saat mengitari bumi. Maka satu tahun dalam kalender Parhalaan terdiri atas 12 bulan, dengan jumlah harinya adalah 30 hari setiap bulannya. Jadi satu tahun dalam Parhalaan sama dengan 360 hari.

Walau demikian, suku Batak tidak mengenal angka tahun karena dalam Parhalaan tak memiliki perhitungan jumlah tahun . Kalender Parhalaan hanya menghitung dan mengurutkan dari bulan pertama hingga bulan akhir.

Ada pun penamaan bulan pada Parhalaan yaitu: Sipaha sada, Sipaha dua, Sipaha tolu, Sipaha opat, Sipaha lima, Spaha onom, Sipaha pitu, Sipaha ualu, Sipaha sia, Sipaha sampulu, Li dan Hurung.

8. Kalender Suku Dayak

Masyarakat Dayak, terutama suku Daya Ngaju memiliki sistem penanggalan yang dibuat berdasarkan ilmu astronomi dan pengamatan terhadap fenomena langit yang terjadi dalam jangka waktu tertentu. Kalender suku Dayak ini ditentukan dengan mengamati bintang yang berderet tiga pada sabuk Orion yaitu Mintaka, Alnitak, dan Alnilam oleh mereka disebuat sebagai Bintang Patendu atau juga Bintang Luku, atau Bintang Salampatei.

Masyarakat Dayak meyakini bintang tersebut dikuasai oleh seorang dewa waktu/masa yang disebut dengan Manyamei Rajan Patendu.

Dalam sistem penanggalan suku Dayak, terdapat perubahan musim dan kegiatan dalam satu tahun. Sehingga pembagian waktu kegitan mereka selama setahun tersebut disesuaikan menurut perubahan musim yang ada. Kalender Dayak Ngaju memiliki 11 bulan dalam sau tahunnya.

Nama-nama masa dalam setahun tersebut antara lain: Rapat Tanduk, Tahaluyang, Sarang, Nyaring, Timbuk Pambuk, Makal, Dadampan, Sampalan Kariayan, Lihang Kajang, Matengkung Nyaring, Suku Batu,  dan Taliwun.

9. Kalender Kalender Suku Bugis

Suku Bugis dari daerah Sulawesi Selatan memiliki sebuah sistem penanggalan yang disebut Kalender Bugis. Kalender Bugis ini tak hanya digunakan oleh suku Bugis sendiri, namun digunakan pula oleh suku Makassar. Kalender Bugis menggunakan sistem kalender matahari (Lunar), dimana terdapat 365 hari dalam 1 tahun, dan 7 hari dalam sepekan.

Selain itu, terdapat pula perhitungan khusus dalam kalender Bugis ini, dimana terdapat sistem dua puluh hari dalam satu pekan. Sistem tersebut berlaku dengan tujuan menentukan hari baik atau hari buruk penyelenggaraan suatu acara adat.

Sistem dua puluh hari tersebut terdiri atas: Pong, Pang, Lumawa, Wajing, Wunga, Telettuq, Anga, Webbo, Wagé, Ceppa, Tulé, Aiéng, Beruku, Panirong, Maua, Dettia, Soma, Lakkaraq, Jepati, dan Tumpakale. Ternyata nama-nama hari tersebut adalah hasil adopsi dari sistem pasaran yang ada dalam Kalender Jawa Kuno.

Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender Bugis merupakan hasil adopsi dari Kalender Hindu (dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Bugis). Nama-nama bulan dalam Kalender Bugis tersebut antara lain: Sarowan (30 hari), Padrowanae (30 hari), Sajewi (30 hari), Pachekae (31 hari), Posae (31 hari), Mangaseran (32 hari), Mangasutewe (30 hari), Mangalompae (31 hari), Nayae (30 hari), Palagunae (30 hari), Besakai (30 hari), dan Jetai (30 hari).

Berbagai Kalender Nusantara tersebut merupakan sebuah warisan budaya yang perlu dijaga kelestariannya. Namun sayangnya, masih banyak diantara kita yang belum mengenal akan keberadaan sistem penanggalan tersebut.

Menurut Ki Handaru Mansur (2017), seorang astrolog yang mempelajari dan meneliti Kalender Nusantara, minimnya pengetahuan masyarakat kita akan sistem penanggalan khas nusantara ini dikarenakan munuskrip kalender nusantara ini telah dibawa dan dipelajari oleh bangsa Belanda pada masa penjajahan dulu.

Hal ini dilakukan oleh Belanda dengan tujuan untuk mencetak astrolog-astrolog dunia. Sementara bangsa Indonesia sendiri tak pernah paham mengenai Kalender Nusantara tersebut.

Demikianlah tulisan megenai Kalender Nusantara yang ditulis oleh Susana Febryanty. Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian.


0 Response to "Kalender Nusantara, Kekhasan Budaya yang Hampir Terlupakan "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel