Kampung Megalitikum di Indonesia


Kampung Bena adalah salah satu tempat wisata budaya di Indonesia. Hal ini dikarenakan Kampung Bena masih mempertahankan kebiasaan dan adat era megalitikum. Nama Kampung Bena sendiri disematkan dari nama orang asli pertama yang mendiami daerah tersebut.

Walaupun kampung ini sudah berumur 12 abad, warga Kampung Bena masih memegang erat tradisi nenek moyang. Mereka sama sekali tidak mengikuti perkembangan zaman. Kampung Bena menjadi destinasi kampung adat favorit wisatawan lokal maupun mancanegara. Destinasi wisata budaya ini terletak di sebelah timur Gunung Inerie, Desa Tiwuriwu, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Fasilitas dan Obyek Wisata:

1. Biji kopi khas Kampung Bena

Bejawa sebagai ibu kota Kabupaten Ngada menghasilkan kopi yang berkualitas tinggi.

2. Tenun tradisional

Menenun sudah biasa dilakukan perempuan bena sejak kecil. Pembuatan satu buah kain tenun dapat menghabiskan waktu selama satu minggu. Apabila motif tenun sulit, pembuatan akan menghabiskan waktu hingga satu bulan. Selain dijual kepada pengunjung, kain tenun atau sibe biasa digunakan dalam upacara adat.

3. Ornament bersejarah

Di kisa nata atau halaman pusat kampung terdapat dua bangunan megalitik. Kedua bangunan itu adalah ngadu sebagai representasi nenek moyang perempuan dan bhaga sebagai representasi nenek moyang laki-laki.

4. Kampung alami

Hingga saat ini, Kampung Bena termasuk kampung yang tidak terjamah oleh teknologi. Warga Kampung Bena ingin meneruskan dan melestarikan budaya nenek moyang dengan bertani dan bertenun.

4. Gunung Inerie

Warga bena percaya bahwa di puncak Gunung Inerie bersemayam Dewa Zeta yang melindungi mereka. Gunung Inerie adalah gunung dengan hutan lebat di sebelah baratnya saja. Sementara itu, di lereng bagian selatannya berupa perkebunan.

Penduduk


Saat ini Kampung Bena memiliki 326 penduduk dalam 120 keluarga. Penduduk kampung ini terdiri dari suku Bena, suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago.

Suku Bena dianggap sebagai suku tertua dan menjadi pionir pendiri kampung. Mayoritas penduduk Bena adalah penganut agama katolik. Umumnya penduduk Bena, pria dan wanita, bermata pencaharian sebagai petani. Untuk kaum wanita, masih ditambah dengan bertenun. Ada sebuah nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat Kampung Bena, yaitu tidak mengeksplotasi lingkungannya.

Kepercayaan


Kepercayaan asli Kampung Bena adalah kepercayaan kepada roh-roh leluhur nenek moyang dan roh-roh orang yang telah meninggal. Roh-roh yang bersifat baik disebut inebu (roh nenek moyang) yang selalu memberikan petunjuk yang benar, arahan demi keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakatnya.

Sedangkan makhluk halus yang bersifat jahat disebut setan. Kekuatan ini bisa menyebabkan suatu penyakit dan kematian jika tidak diperhatikan secara seksama pada saat upacara yang telah ditetapkan oleh adat. Setan sifatnya suka membuat kekacauan dan memberikan jalan yang salah.

Rumah Adat


Sao meze atau rumah keluarga inti Kampung Bena terbuat dari alang-alang dan batang bambu.  Ada tiga jenis sao meze. Yang pertama adalah sao saka pu’u yang merupakan rumah inti nenek moyang perempuan, lalu ada sa’o saka lobo yang merupakan rumah inti nenek moyang laki-laki dan yang terakhir adalah sejumlah sao pibe yang merupakan rumah adat lainnya dari para anggota suku. Setiap sao meze terdiri dari Sao yaitu bagian lantai dan dinding, iru yaitu bagian atap rumah, serta lewu yaitu tiang penunjang yang ditanam ke dalam tanah.

Terdapat ukiran-ukiran yang terukir pada beberapa kayu sao meze. Ukiran motif ayam merupakan lambang kemuliaan seseorang karena ayam bisa berpindah ke tempat yang lebih tinggi. Selain itu, ayam jantan juga dipercaya sebagai penanda untuk membangun kehidupan.

Hal ini dikarenakan kokoknya yang membangunkan manusia di pagi hari. Ukiran motif kuda memiliki arti manusia harus bekerja keras sepenuh tenaga seperti kuda. Ukiran motif sawa merupakan motif makhluk berbentuk campuran ular dan hewan lain yang dipercaya dapat melindungi rumah dari kekuatan makhluk jahat.

Kehidupan Sosial


Masyarakat Kampung Bena memiliki ciri khas dalam kehidupan sosialnya. Mereka berkomunikasi satu sama lain dalam bahasa ngadha. Dalam setiap masalah, masyarakatnya selalu menyelesaikan bersama-sama. Gotong royong sangat mendarah daging dalam diri masyarakat Kampung Bena.

Perempuan Kampung Bena sangat dihargai. Bahkan, garis keturunan mengikuti garis ibu. Jika ada gadis yang menikah, maka suaminya harus ikut tinggal di Kampung Bena. Sedangkan jika ada pria yang menikahi gadis di luar Kampung Bena, maka ia harus ke luar dari Kampung Bena mengikuti istrinya.

Masyarakat Kampung Bena sangat ramah dan terbuka. Bahkan, saat kasao atau upacara pesta rumah adat, Setiap tamu dijemput untuk diantarkan ke sao meze. Penjemputan berlaku untuk setiap tamu. Jika tamu berjumlah seratus orang, maka penjemputan pun dilakukan seratus kali.

Peninggalan Megalitik


Peninggalan megalitik tersebut antara lain adalah turesa barajo yang merupakan makam leluhur, peo merupakan menhir yang diibaratkan sebagai anak dari pertemuan ngadhu dan bagha oleh penduduk setempat, Ture merupakan susunan batu yang menyerupai bentuk batu kubur, serta meri yaitu batu di luar kampung yang berfungsi sebagai tempat diletakannya ubi pada upacara adat.

Tarian Daerah


Kasao alias tarian pesta rumah adat Kampung Bena merupakan ungkapan kebahagian masyarakat karena rumah sudah selesai dibangun. Tarian dilakukan sehari sebelum pemotongan hewan persembahan. Kasao selalu dinantikan oleh masyarakat kampung ini.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mempertahankan Kampung Bena. Saat kita mengunjungi kampung tersebut, maka secara tidak langsung kita ikut berkontribusi dalam mempertahankan budaya asli Kampung Bena. Sebagai bangsa Indonesia, tentu kita harus memperkenalkan Kampung Bena kepada negara-negara lain.

Hal ini dapat menarik wisatawan dari berbagai negara. Ketika Kampung Bena sudah terkenal, maka akan sulit bagi negara lain untuk mengakuinya.

Nah, itulah tadi serangkain artikel yang mendeskripsikan tentang "Kampung Megalitikum di Indonesia" yang diulas secara lengkap oleh Hilma Halimah. Semoga bermanfaat bagi segenap pembaca sekalian. Trimakasih,

0 Response to "Kampung Megalitikum di Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel