Kampung Sungai Jingah sebagai Wisata Budaya di Kota Banjarmasin


Banjarmasin merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, bagi pelancong yang pernah ke kota ini pasti tidak asing dengan sebutan “Kota Seribu Sungai”. Julukan seribu sungai yang melekat untuk kota ini sangat selaras dengan kondisi geografis di kota Banjarmasin, hamparan sungai yang saling sambung menyambung seolah menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Budaya dan alam seperti berjalan beriringan ketika mendengar istilah pasar terapung, pasar terapung berawal dari kebiasaan dan pola hidup masyarakat pinggiran sungai yang melakukan kegiatan perekonomian di atas jukung (sampan).

Pasar terapung lahir dari budaya masyarakat pinggiran sungai, yang hingga kini masih eksis tidak digerus zaman. Keunikan dan keindahan pasar terapung semakin yang menjadi ciri khas kota Banjarmasin menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Tidak hanya pasar terapung, kota seribu sungai juga memiliki sebuah tempat wisata yang lain tidak kalah menarik dari pasar terapung yaitu “Kampung Tuha Sungai Jingah”. Dalam bahasa Banjar “Tuha” berarti “Tua”, sedangkan “Sungai Jingah” merupakan nama daerah perkampungan tersebut yang terletak di wilayah kelurahan Sungai Jingah kota Banjarmasin.

Sehingga dapat diartikan bahwa kampung Sungai Jingah ini merupakan kampung atau pemukiman warga di salah satu wilayah di kota Banjarmasin yang sudah ada sejak zaman dahulu.

Kampung Sungai Jingah letaknya tidak jauh dari pusat kota Banjarmasin sehingga akses menuju kampung Sungai Jingah ini sangat mudah. Sebagai salah satu wisata budaya yang ada di kota Banjarmasin ada beberapa keunikan yang di miliki kampung ini antara lain rumah-rumah warga yang masih mempertahankan khas rumah adat zaman dahulu serta aktivitas warga yang memproduksi kain tradisional suku Banjar dan terdapat kue khas kampung Sungai Jingah.

Arsitektur Rumah Tradisional di Kampung Sungai Jingah

Rumah-rumah warga di kampung Sungai Jingah sangat unik, hal ini karena masyarakat kampung Sungai Jingah tetap mempertahankan arsitektur asli bangunan zaman dahulu. Ketika berkunjung ke kampung Sungai Jingah, wisatawan dapat melihat bagaimana arsitektur asli rumah tradisional khas suku Banjar lengkap dengan ornamen dan hiasan khas zaman dulu. Masing-masing rumah di kampung tersebut memiliki bentuk bangunan yang berbeda-beda, hal ini karena rumah adat suku Banjar memiliki beberapa tipe atau jenis rumah adat, antara lain:

  • Rumah Bubungan Tinggi
  • Rumah Palimasan
  • Rumah Balai Bini
  • Rumah Gajah Manyusu
  • Rumah Palimbangan
  • Rumah Bangun Gudang

Kampung Sungai Jingah ini berada di pinggiran Sungai Martapura sehingga wisatawan juga dapat melihat hamparan sungai Martapura. Masyarakat kampung Sungai Jingah juga terkenal dengan keramahannya sehingga membuat wisatawan yang berkunjung merasa betah dan nyaman saat berkunjung ke kampung ini. Beberapa warga yang sudah ada sejak tahun 1920 an tegak berdiri kokoh hingga sekarang, namun ada juga beberapa rumah yang sudah mulai lapuk di makan usia. Salah satu rumah warga yang menarik perhatian diantaranya adalah rumah dengan tipe “Bangun Gudang”.

Gambar di atas adalah salah satu rumah dengan tipe “Bangun Gudang” yang masih kokoh hingga saat ini. Di bagian atap rumah tersebut tertulis angka 1925, yang memiliki arti bahwa rumah tersebut sudah berdiri sejak tahun 1925.

Sebagian besar rumah yang ada di kampung Sungai Jingah ini sudah berdiri sejak masa penjajahan. Menurut penuturan dari kepala Rukun Tetangga setempat, sebagai salah satu aset budaya yang ada di kota Banjarmasin, rumah ini juga sudah pernah direnovasi ringan yaitu memperbaiki bagian-bagian yang mulai lapuk dan juga dilakukan pengecatan ulang.

Akan tetapi, tetap mempertahankan struktur asli bangunan rumah tradisional khas suku Banjar tipe Bangun Gudang. Rumah tradisional tipe Bangun Gudang tersebut memiliki atap yang berbentuk perisai dengan serambi kecil di bagian tengah.

Keramahan warga kampung Sungai Jingah juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mencoba berwisata budaya. Mereka akan tersenyum hangat melihat wisatawan yang datang berkunjung ke kampung mereka.

Bagi wisawatan yang ingin menggali informasi lebih banyak mengenai kampung Sungai Jingah, masyarakat tidak segan untuk bercerita mengenai kampung mereka tersebut. 

Pengrajin Kain Tradisional Khas Suku Banjar

Kain tradisional khas kota Banjarmasin adalah kain sasirangan. Selain arsitektur bangunan yang menjadi ciri khas wisata budaya kampung Sungai Jingah, ada keunikan lain yang membuat kampung ini berbeda dengan kampung yang lain yaitu masyarakat kampung Sungai Jingah terkenal sebagai pengrajin kain sasirangan dengan kualitas yang bagus.

Hampir di sepanjang jalan kampung Sungai Jingah, wisatawan dapat melihat rumah-rumah warga yang menjual kain tradisional khas kota Banjarmasin tersebut. Sehingga tidak hanya melihat rumah tradisional khas suku Banjar, wisatawan juga dapat sekadar melihat ataupun membeli kain tradisional khas kota Banjarmasin sebagai buah tangan.

Kain sasirangan merupakan kain tradisional khas suku Banjar yang telah ada sejak zaman dahulu. Dulunya kain sasirangan ini hanya digunakan untuk pengobatan atau biasa orang Banjar menyebutnya “batatamba”, pengobatan pun dilakukan dengan orang pintar atau tabib untuk menyembuhkan penyakit yang dikeluhkan.

Seiring berkembangannya zaman, kain sasirangan justru menjadi salah satu kain tradisional yang digemari masyarakat baik lokal maupun nasional. Hal ini karena beragam inovasi yang muncul menjadikan kain sasirangan tidak hanya sekadar digunakan sebagai baju atau pakaian tetapi juga dapat dibuat produk lainnya seperti diolah menjadi tas, dompet, sepatu, bahkan sampai pada kotak tisu dan buket bunga.

Berbagai macam motif dapat dipadukan satu sama lain dengan campuran warna menarik yang diolah oleh tangan-tangan terampil masyarakat kampung Sungai Jingah.  Pengrajin kain sasirangan yang ada di kampung Sungai Jingah juga bersedia untuk memberikan edukasi kepada wisawatan yang ingin mengetahui proses pembuatan kain sasirangan tersebut.

Masyarakat kampung Sungai Jingah sangat terampil dalam membuat kain sasirangan dimulai dari proses menggambar pola, menjelujur, menyisit, mewarna, melepaskan ikatan hingga penjemuran. Tahap pembuatan kain sasirangan dimulai dari menggambar atau melukis pola motif pada kain putih  polos yang tidak bewarna, setelah pola motif ditulis pada kain tahap berikutnya adalah “menjelujur” yaitu dengan menjahit kain tersebut menggunakan jarum dan benang mengikuti pola yang ada.

Setelah dijelujur, benang kemudian ditarik sekuat mungkin sehingga kain akan mengerucut mengikuti alur jahitan benang tersebut, proses ini disebut dengan menyisit. Ketika kain sudah disisit, tahap selanjutnya adalah proses pewarnaan sesuai dengan warna yang diinginkan.

Setelah didiamkan beberapa waktu, benang yang ada di kain tersebut kemudian dilepas atau biasa disebut dengan melepaskan ikatan atau jaratan. Apabila benang sudah terlepas maka akan terbentuklah motif sasirangan yang diingikan, kemudian barulah kain tersebut dijemur dan apabila sudah kering dapat disetrika agar kain tidak kusut.

Setelah kain sasirangan sudah jadi selanjutnya dapat dibuat berbagai macam produk sesuai kebutuhan. Berwisata budaya mengenal kain tradisional khas suatu daerah memang merupakan aktivitas yang sangat menarik dan menyenangkan untuk dilakukan, terlebih lagi wisatawan dapat melihat proses pembuatan kain tradisional tersebut secara langsung yang kemudian dapat dibeli sebagai kenang-kenangan ataupun buah tangan untuk sanak saudara.


Kue Khas Kampung Sungai Jingah

Berwisata budaya ke kampung Sungai Jingah kurang lengkap rasanya apabila belum mencoba kue khas nya yaitu kue masubah. Kue masubah merupakan kue asli yang berasal dari kampung Sungai Jingah yang berasal dari resep turun temurun.

Olahan kue yang berbahan dasar telur dan tepung ini memiliki bentuk yang bulat menyerupai rebana, rasanya manis dan teksturnya hampir mirip degan kue lapis legit, namun memiliki perbedaan dari segi rasa dan proses pembuatannya.

itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Kampung Sungai Jingah. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Ditya Anggraini ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

1 Response to "Kampung Sungai Jingah sebagai Wisata Budaya di Kota Banjarmasin"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel