Meretas Nilai dan Filosofi Kampung Tujuh sebagai Kearifan Lokal Asli Bangsa Indonesia

Keindahan Indonesia yang menjuntai dari sabang sampai merauke diibaratkan sebagai surga dunia yang tersembunyi. Bisa dikatakan tersembunyi dikarenakan belum seluruh keindahan yang ada mampu terdeteksi oleh manusia.

Pengakuan keindahan yang tersemat pada alamnya, ataupun budayanya tidak diragukan lagi keelokannya. Sehingga hal ini menjadi daya tarik tersendiri negara yang memperingati kemerdekaannnya setiap 17 Agustus ini.

Setiap wilayah yang berada di Indonesiapun memiliki kekhasannya tersendiri yang unik. Kekhasan tersendiri dari wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia menambah kekayaaan budaya negeri yang permai ini.

Desa wisata merupakan salah satu fenomena yang menarik di Indonesia, melalui desa wisata diupayakan pengembangan potensi dari wilayah yang ada, misalnya potensi alam atau budaya. Salah satu desa wisata yang menarik adalah Desa Wisata Nglanggeran, Daerah Istimewa Yogyakarta.

 Destinasi wisata yang ditawarkan oleh Desa Wisata Nglanggeran antara lain Embung Nglanggeran, Gunung Api Purba, dan Kampung Tujuh. Dari ketiga destinasi wisata yang ada, kampung tujuh akan dikulik lebih dalam di pembahasan selanjutnya.

Kampung Tujuh ini tepatnya berada di Dusun Nglanggeran Wetan, RT 19/RW 04, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta. Lokasi Kampung Tujuh ini bernama Tlogo Mardhido dan hanya memilik tujuh kepala keluarga.

Kampung tujuh ini sudah ada sejak dulu kala dan dipercaya turun temurun oleh generasinya. Bahwasannya di Kampung Tujuh ini yang tinggal harus tujuh kepala keluarga, tidak boleh lebih ataupun kurang.

Menurut kepercayaan mereka apabila desa ini dihuni melebihi tujuh kepala keluarga ataupun kurang akan berdampak buruk terhadap keberlangsungan kehidupan mereka.

Beberapa tradisi yang masih dipertahankan di Kampung Tujuh diantaranya rasulan, tingalan dan bersih makam. Tradisi rasulan adalah tradisi yang dilaksanakan sebgai upaya ucapan syukur atas hasil panen yang didapatkan dan dilaksanakan dua kali setahun.

Selanjutnya adalah tradisi tinggalan, tradisi ini dilaksankan dimana jika ada warga yang berulang tahun maka akan memotong beberapa ayam jawa dan mengundang warga sekitar untuk bersama sama menikmati hidangan.

Hal lain yang unik karena tidak hanya penduduk lokal yang merayakan ulang tahun, tetapi juga binatang seperti sapi dan kerbau juga merayakan ulang tahun. Tradisi yang terakhir adalah bersih makam.  Makam yang dibersihkan adalah makan dari leluhur dari Kampung Tujuh ini. Pembersihan makan ini dilaksanakan setahun sekali, beberapa hari menjelang puasa Ramadhan.

Selain menarik dikulik dari segi tradisi, hal unik lain dari Kampung Tujuh adalah terdapat sendang atau mata air yang apabila musim kemarau melanda, mata air ini tidak pernah kering. Mata air ini digunakan oleh masyrakat sekitar untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, pada hari hari tertentu di sendang ini biasa diadakan sebagi tempat tirakatan.

Perlu diketahui bersama bahwa di Kampung Tujuh ini memiliki beberapa pantangan kebudayaan yaitu cerita wayang tidak boleh menceritakan tentang hal Ongko Wijaya yang disakiti. Selanjutnya apabila diadakan kesenian wayang kulit, dalang dilarang atau tidak boleh membelakangi Gunung Nglanggeran.

Pantangan kebudayaan yang terakhir yaitu zona bagian utara Gunung Nglanggeran tidak boleh mengadakan kesenian wayang kulit.

Keunikan dari Kampung Tujuh yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta ini, membawa berkah tersendiri untuk masyarakat penganutnya. Wisatawan baik domestik maupun manca negara dibawa rasa penasaran untuk mengunjungi dan merasakan langsung keunikan dari Desa Wisata Ngalenggeran.

Tak sedikit pula yang merasa penasaran terhadap keberadaan Kampung Tujuh ini, sehingga dirasa menarik dijadikan tambahan ilmu pengetahuan asli Indonesia. Menanggapi keunikan asli yang ada, namun arus globalisasi yang baik secara langsung maupun tidak langsung dikawatirkan akan menggerus keeksistensian dari Kampung Tujuh ini.

Meskipun sampai sekarang keeksistensian Kampung Tujuh masih terjaga dengan baik, namun dapat dimungkinkan suatu ketika di masa depan keunikan yang ada akan luntur termakan zaman. Sehingga upaya khusus baik dari pemerintah ataupun masyarakat dirasa harus benar-benar serius menggarap ataupun memastikan keeksistensian dari Kampung Tujuh ini sebagai warisan budaya lokal asli Indonesia.

Kekawatiran akan tergerusnya dengan perkembangan zaman terhadap keeksistensian Kampung Tujuh menjadi pekerjaan rumah yang tidak boleh disepelekan untuk digarap. Pasalnya apabila tidak ada upaya pelestarian ataupun pemertahanan dari kearifan lokal Indonesia ini, bisa saja Kampung Tujuh punah tegerus oleh perkembangan zaman.

Kampung Tujuh hanya salah satu contoh dari kearifan lokal yang ada di Indonesia, masih banyak contoh kearifan lokal yang menjadi ciri khas daerah-daerah di Indonesia. Kearifan lokal yang ada pasti tersemat makna-makna positif yang mampu memberikan keselarasan bagi masyarakat penganutnya. 

Sehingga upaya pelestarian dan pemertahanan dari kerarifan lokal yang ada harus digarap serius agar menjadi tolak ukur ataupun kekhasan bangsa Indonesia ini.

Demikian rangkaian artikel yang menjelaskan tentang Filosofi Kampung Tujuh Jogja. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Dina Apriyanti ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. TerimakasihNur Syifa Caesaria

0 Response to "Meretas Nilai dan Filosofi Kampung Tujuh sebagai Kearifan Lokal Asli Bangsa Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel