Kawasan Gunung Kawi : Menjadi Anak Tiri Di Negeri Sendiri


Gunung Kawi, sebuah kawasan peribadatan dengan beragam kekayaan budaya di Provinsi Jawa Timur yang kerap kali dipandang sebelah mata. Sebagian besar masyarakat mengatakan tempat ini tepat bagi orang-orang yang ingin mendapatkan kekayaan harta dengan tanpa harus bersusah payah, atau biasa disebut juga dengan pesugihan.

Pesugihan dianggap buruk karena melibatkan makhluk ghaib yang jelas melanggar ajaran Tuhan Yang Maha Esa bagi sebagian kepercayaan. Akan tetapi, stereotipe buruk yang melekat pada Gunung Kawi tak lantas menjadikannya sepi pengunjung. Selain mendatangi tempat peribadatan, biasanya pengunjung yang datang juga turut menikmati keindahan alam di Kawasan Gunung Kawi.

Keindahan alam di kawasan Gunung Kawi tak lepas dari lokasinya yang terletak di daerah dataran tinggi. Kawasan Gunung Kawi berada di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur dengan ketinggian mencapai ± 800 meter dpl.

Desa Wonosari sendiri terdiri dari empat dusun yaitu Dusun Wonosari, Dusun Sumbersari, Dusun Pijiombo, dan Dusun Kampung Baru. Beberapa masyarakat telah menetap di wilayah ini sejak lahir, sementara beberapa lainnya merupakan pendatang dari berbagai daerah di Indonesia.

Jika di beberapa wilayah perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan menimbulkan berbagai permasalahan, tidak dengan kawasan Gunung Kawi yang dapat dikatakan jauh dari konflik. Sikap toleransi dan tenggang rasa yang tinggi di masyarakat telah terpupuk sejak lama.

Beberapa tempat ibadah seperti masjid, gereja, dan klentheng dibangun bersebelahan. Masyarakatnya telah terbiasa melakukan kegiatan peribadatan beriringan dengan peribadatan dari agama lain. Tak heran masyarakat baik dari agama Islam, Kristen, Katolik, hingga Konghuchu dapat hidup berdampingan tanpa mempemasalahkan latar belakang agama dan ras.

Keberagaman yang tumbuh di masyarakat ini tak lepas dari peran para tokoh terdahulu di kawasan Gunung Kawi. Mereka adalah Mbah Djoego dan Raden Mas Iman Soejono, tokoh yang berperan besar dalam penyebaran ajaran agama Islam.

Pengikut dari kedua tokoh tersebut tidak terbatas pada suku, agama, ras dan kelompok. Banyak dari pengikut mereka beragama Islam, Konghuchu, Nasrani, Hindu, serta Budha. Sekitar tahun 1805 Belanda sedang melakukan penjajahan secara besar-besaran di Indonesia khusunya kepada masyarakat setempat.

Kondisi tersebut menjadikan murid-murid dari Eyang Djoego dan Iman Soedjono bersatu tanpa melihat latar belakang suku maupun agama agar dapat mencapai tujuan bersama, yaitu melepaskan Indonesia dari jeratan Belanda. Segala upaya dilakukan untuk melawan penjajahan, tak terkecuali berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Eyang Djoego dan Iman Soedjono beserta pengikutnya memohon pertolongan Tuhan dengan cara bertapa selama beberapa waktu di tempat yang tidak diketahui. Ketika Eyang Djoego turun dari tempat bertapa untuk beristirahat, ia membawa sebuah tongkat kayu dan ditanam di puncak gunung.

Tempat tersebutlah yang kini menjadi lokasi wisata dan ziarah Gunung Kawi. Eyang Djoego berpesan kepada para pengikutnya bahwa jika suatu saat beliau meninggal dunia dan seiring dengan perkembangan zaman, tongkat kayu yang ditanam tersebut akan bersemi menjadi sebuah pohon, dan siapapun tidak diperkenankan untuk memetik daun dan buah dari pohon tersebut.

Pohon yang bersemi tersebut dikenal sebagai pohon Dewa Daru. Pohon Dewa Daru dahulu menjadi sebuah tanda atau tetenger bagi Eyang Djoego dan Iman Soedjono beserta pengikutnya. Berdasarkan cerita yang ada, terdapat salah satu murid yang bertanya kepada Eyang Djoego bagaimana ketika tongkat tersebut bersemi dan mengapa orang tidak diperbolehkan untuk memetik daun atau buahnya.

Sayangnya Eyang Djoego tidak menjawab pertanyaan tersebut, beliau hanya berpesan kepada murid muridnya agar tidak memetik, memegang, ataupun menggoyang-goyangkan pohon Dewa Daru.
Pesan dari Eyang Djoego tersebut dijaga dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh hingga saat ini, baik oleh masyarakat di wilayah Gunung Kawi maupun para pengunjung.

Masyarakat memiliki kepercayaan bahwa jika mereka tidak melaksanakan apa yang telah diamanatkan oleh Eyang Djoego maka mereka akan mendapat balasan buruk. Kepercayaan tersebut mengakar dan menjelma menjadi hukum adat yang mengatur masyarakat dalam berperilaku khususnya ketika sedang mengunjungi wilayah Gunung Kawi.

Meski begitu, banyaknya pengunjung yang datang tidak serta merta menghilangkan stereotipe buruk Gunung Kawi yang disebut sebagai tempat pesugihan. Masyarakat dengan tegas menolak hal tersebut karena mereka menganggap Gunung Kawi bukan seperti yang selama ini masyarakat pikirkan.

Salah satu warga setempat bernama Bu Tutut, beliau mengatakan bahwa ciri-ciri dari tempat yang digunakan untuk pesugihan adalah yang pertama, di tempat tersebut tidak dekat dengan tempat peribadatan. Sementara di Gunung Kawi sendiri terdiri dari beberapa tempat ibadah bebagai agama, seperti terdapat masjid, gereja, dan klentheng.

Kedua, tempat pesugihan biasanya tidak dekat dengan keramaian atau pemukiman, namun di Gunung Kawi ini justru padat penduduk yang bertolak belakang dengan kriteria tempat pesugihan. Kemudian yang terakir adalah tempat pesugihan biasanya memakan korban, namun di Gunung Kawi tidak pernah terjadi hal tersebut.

Dikarenakan kawasan Gunung Kawi tidak sesuai dengan kriteria, tempat ini tidak dapat dikatakan sebagai tempat pesugihan. Sebagai upaya untuk memperkuat bukti tersebut maka diadakanlah Gebyar Wisata Ritual 1 Suro yang menojolkan kesenian khas Gunung Kawi itu sendiri.

Kegiatan ini pertama kali diadakan tahun 2001, tercetus dari keinginan Kepala Desa Wonosalam dan anggota Badan Permusyawaratan Rakyat (BPD) untuk menonjolkan Gunung Kawi dari sisi seni dan budayanya yang khas.

Sengkala merupakan salah satu yang akan ditampilkan dalam kirab budaya 1 Suro yang terinspirasi dari ogoh-ogoh di Bali. Sengkala dipilih karena ogoh-ogoh di Bali merupakan perlambangan untuk mengusir roh-roh jahat, sehingga dengan hadirnya sengkala di kirab budaya 1 Suro diharapkan juga akan dapat mengusir roh-roh jahat yang ada.

Di ujung acara sengkala tersebut akan dibakar di tanah lapang. Dengan dibakarnya sengkala menunjukkan bahwa diharapkan semua kejahatan dan kesengsaraan di bumi ini turut terbakar dan hilang seiring dengan asap dari sengkala yang membumbung ke langit.

Pemilihan tanggal 1 Suro dalam kalender Jawa sebagai waktu dilaksanakannya kirab budaya terjadi akibat kesepakatan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat setempat karena untuk memperingati meninggalnya Eyang Djoego, kemudian untuk menyongsong kematian Eyang Iman Sudjono dan juga bertepatan dengan hari libur.

Oleh karena itu, kirab budaya 1 Suro dapat dikatakan sebagai kegiatan yang dilaksanakan untuk mempersiapkan ritual 12 Suro. Kegiatan yang dilaksanakan pada 12 Suro berkaitan dengan kematian dua tokoh penting di masyarakat, yaitu Eyang Djoego dan Eyang Iman Sudjono.

Tanggal 12 Suro dipilih karena pada tanggal ini Eyang Djoego meninggal dunia. Pada hari Senin Pahing tahun 1871 jenazah Eyang Djoego di makamkan di kawasan Gunung Kawi. Kematian beliau meninggalkan duka di hati para pengikutnya, tak terkecuali Raden Mas Imam Sujono.

Sepeninggalnya Eyang Djoego, makam beliau dijaga dan dirawat oleh Raden Mas Imam Sujono sampai akhirnya beliau juga meninggal dan dimakamkan di sebelah makam Eyang Djoego.
Jika pada 1 suro merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk wisata budaya, namun berbeda dengan kegiatan 12 Suro ini yang bertujuan untuk mendoakan Eyang Djoego dan Eyang Iman Sudjono yang terlah berkonstribusi besar di Gunung Kawi sehingga tempat tersebut saat ini dapat dihuni oleh banyak penduduk.

Kegiatan 12 Suro juga menjadi sebuah ritual tahunan sebagai bentuk penghormatan, sehingga tujuan dan rangkaian acara dengan kirab budaya 1 Suro memiliki beberapa perbedaan yang menonjol, terutama pada tujuan dilaksanakannya kegiatan.

Dalam tradisi masyarakat setempat, tiap bulan pada hari Senin Pahing dan Jumat Legi dilaksanakan kegiatan doa bersama dan penyekaran agung. Pada awalnya penyekaran agung pada tanggal 12 suro melibatkan hanya kerabat pesarean saja dan mengundang kerabat Keraton Ngajogjokarto.

Persembahan yang dibawa saat ritual berlangsung antara lain yaitu tumpeng, kopi, beras, gula, dan sembako lainnya. Selain itu masyarakat setempat ada yang membuat jolen yang dihias sebagai tempat tumpeng.

Masyarakat setempat bersama para tamu undangan melakukan kegiatan adat yang dimulai dengan jalan bersama dari gapura depan sambil membawa sesaji. Kemudian sesaji dikumpulkan di pesarean untuk diberi doa-doa oleh juru kunci makam. Setelah berbagai rangkaian acara sakral dilaksanakan untuk mendoakan Eyang Djoego dan RM. Iman Sudjono, rangkaian kegiatan selanjutnya diisi dengan penampilan dari reog, jaranan, pagelaran wayang kulit, serta ada sedikit hiburan campur sari.

Serangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 12 suro tersebut dinamakan khol.
Hingga saat ini pesarean Gunung Kawi telah banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan dan dari berbagai daerah.

Heterogenitas pengunjung yang nampak mengindikasikan bahwa sosok Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono merupakan tokoh yang berpengaruh dan sangat penting keberadaanya. Hal ini juga menunjukkan bahwa masyakat Indonesia sebenarnya sangat menghargai sejarah dan jasa para tokoh yang telah memberikan kontribusi.

Namun yang perlu diperhatikan adalah masyarakat Indonesia seringkali belum dapat menerima keberagaman budaya yang ada, sehingga menimbulkan berbagai perspektif negatif yang sangat merugikan pihak lain.

Setiap kebudayaan yang ada di Indonesia memiliki keunikan masing-masing yang tidak dapat dibandingkan satu sama lain. Seperti halnya kebudayaan masyarakat di lereng Gunung Kawi yang memiliki adat dan kepercayaan tertentu.

Jika kebudayaan di Gunung Kawi tak sama dengan kebudayaan di tempat lain, bukan berarti kebudayaan yang ada di Gunung Kawi membawa pengaruh buruk dan tidak boleh diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak sepatutnya kita membeda-bedakan diri hanya karena budaya dan adat istiadat yang menjadi pedoman dalam berperilaku tidak sama. Justru dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut, dapat menjadikan masyarakat Indonesia untuk saling menghargai dan toleransi satu sama lain. Dengan kata lain, tak ada budaya yang di anak tirikan khususnya di negeri sendiri.

Setiap budaya layak untuk menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Jika bukan bangsa kita sendiri yang merawat dan menjaga keberagaman budaya yanga ada, maka siapa lagi? Jika tidak sekarang kita merangkul seluruh perbedaan menjadi satu kesatuan, maka kapan lagi?

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Kawasan Gunung Kawi. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Istidha Nur Amanah ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Kawasan Gunung Kawi : Menjadi Anak Tiri Di Negeri Sendiri"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel