Pakai Kebaya dan Kampret ke Sekolah? (Studi tentang kebijakan pemerintah menggunakan kebaya dan Kampret di ke Sekolah)


Indonesia dikatakan sebagai Negara yang memiliki beragam budaya,baik dri agama, bahasa, pakaian, adat istiadat, dan lain-lain, namun era globalisasi saat in, banyak generasi muda  tidak mengetahui budaya Indonesia, bahkan tidakmengetahui budaya lokal di daerahnya sendiri.

Budaya barat yang masuk ke Indonesia terlihat sangat diminati generasi muda, mereka lebih menyukai budaya barat daripada budayanya sendiri,oleh karena itu perlunya upaya untuk menumbuhkan cinta budaya Indonesia salah satu melaui Pendidikan.

Kita tau pendidikan dan budaya salng mempengaruhi, budaya mempengaruhi pendidikan, dan pedidikan memperbaiki budaya, melalui pendidikan bisa diajarkan kebudayaan-kebidayaan Indonesia, baik dalam inkulikuler seperti Pelajaran Seni  budaya, atau ekstrakulikuler seperti Kaawitan, Seni Tari jaipong dll Salah satu kota yang mencoba meningkatkan rasa cinta generasi muda terhadap  budaya  adalah Purwaarta, Jawa Barat.

Purwakarta membuat Kebijakan penggunaan kebaya dan pangsi  atau kampret (pakaian hitam-hitam khas masyarakat adat sunda) bagi peserta didik Kebaya adalah pakaian tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung, batik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni.

Kebaya adalah busana yang dari dulu hingga sat ini masih sering digunakan oleh para perempuan Indonesia, penggunaan kebaya saat ini tidak terbatas suku dan budaya tertentu  saja kebaya ini dikenakan oleh semua kalangan, baik wanita bangsawan maupun rakyat biasa, dipakai sebagai busana sehari-hari maupun ketika ada acara tertentu.

Pada saat acara tertentu, baju kebaya menggunakan rangkaian pniti yang dipadukan dengan kain panjang bercorak batik. Lalu bagian rambut digelung atau disanggul serta dipercantik dengan perhiasan anting, cincing, kalung, gelang, dan juga kipas.

Pangsi adalah salah satu pakaian khas adat Sunda yang merupakan warisan nenek moyang sekaligus eksistansinya perlu dilestarikan. Pangsi bukan hanya sekedar pakaian untuk penutup tubuh yang melindungi badan secara fisik dari kondisi cuaca dan lingkungan sekitar, namun pangsi memiliki filosofi khusus yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat tempo dulu di ranah Sunda.

Banyak orang berpendapat bahwa filosofi pangsi Sunda hanya sekedar perkiraan semata, namun dapat dilihat kenyataannya hingga sekarang. Terlepas dari kontroversi tersebut, makna yang terkandung tidak bertentangan dengan adat, budaya, dan agama di Indonesia sehingga filosofi dari pangsi bisa dijadikan falsafah dan tuntunan hidup dalam masyarakat.

Pangsi di daerah sunda identik dengansetelan baju dan celana. Jadi hingga kini istilah pangsi sering diidentikan dengan dengan baju dan celana warna hitam-hitam, padahal jika dilihat dari bentuk dan susunan jahitannya sangat berbeda.

Kebijakan penggunaan kebaya dan pangsi  atau kampret (pakaian hitam-hitam khas masyarakat adat sunda) bagi siswa sekolah setiap hari rabu Sebelumnya program itu sukses direalisasikan di kalangan pegawai Pemkab Purwakarta. 

Maka dari itu, setiap Rabu pelajar sekolah dianjurkan menggunakan kampret (pangsi), sementara pelajar perempuan menggunakan baju kebaya. Kebijakan tersebut menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.  Ada yang setuju bahwa kebijakan tersebut direalisasikan di sekolah ada pula yang tidak setuju karena dianggap hanya memberatkan orangtua saja.

Awalnya kebijakan penggunaan kebaya dan pangsi bagi siswa Sekolah setiap hari Rabu di kabupaten Purwakarta hanya bersifat imbauan. Dengan kata lain, Pemerintah kabupaten tidak memaksakan wajib menggunakan kebaya atau pangsi. Bagi mereka yang mampu dan sudah punya diimbau untuk dipakai setiap hari Rabu. Karena,  hari Rabu untuk kabupaten Purwakarta akan ditetapkan menjadi hari tradisi kedaerahan.

Hari tradisi ini, bukan hanya cara berpakaian saja. Bahasa dan perilaku anak pun harus mencerminkan tradisi daerah (sunda). Hal ini di dasarkan karena selama ini sudah banyak warga Purwakarta yang meninggalkan tradisinya.

Contohnya adalah bahasa Sunda. Sangat banyak anak-anak saat ini yang tidak bisa dan mengerti Bahasa Sunda. Karena lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hai. Melalui kebijakan ini sangat diharapkan dengan adanya hari tradisi, pemerintah berupaya mengajak kembali masyarakat untuk mencintai budaya dan tradisinya. 

Jangan sampai, budaya dari Barat justru lebih disukai dan diterapkan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, budaya tradisi lokal justru ditinggalkan dan generasi muda enggan untuk melestarikannya. model kebaya yang digunakan para siswa dan guru, memang model yang sederhana, dengan menggunakan atasan putih dan rok batik yang bermodel kebaya, jadi tidak terkesan ribet, Model pangsi atau kampret pun dibuat sederhana, agar peserta didik dan guru nyaman saat memakainya. Setidaknya dengan adanya keiakan ini anak-anak sudah mengenal kebaya dari kecil dan bisa melestarikannya.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Kebaya dan Kampret. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Widiani ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,


0 Response to "Pakai Kebaya dan Kampret ke Sekolah? (Studi tentang kebijakan pemerintah menggunakan kebaya dan Kampret di ke Sekolah)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel