Kebudayaan Dayak dan Filosofinya


Kalimantan Tengah dikenal sebagai Bumi Tambun Bungai. Sebutan ini memiliki makna dan arti, Bumi Tambun Bungai di adopsi dari nama tokoh legenda dan mitologi Dayak. Masyarakat Dayak merupakan masyarakat pribumi yang ada di Kalimantan dan merupakan suatu suku yang besar, terdiri dari berbagai subsuku yang tersebar di seluruh Kalimantan.

Setiap subsuku Dayak memiliki ciri khasnya masing-masing, misalkan seperti bahasa dan budaya serta adat istiadat yang berlaku. Namun hal inilah yang menarik dari Kalimantan Tengah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kebudayaan Dayak

Suku Dayak yang terdiri dari banyak subsuku, memiliki berbagai macam kebudayaannya sendiri. Kebudayaan Dayak dapat dimaknai sebagai bentuk ekspresi, cara hidup dan kebiasaan yang dilakukan, dianut dan diyakini secara turun temurun dari generasi ke generasi hingga sekarang. Kebudayaan yang sangat beragam ini tentu memiliki makna dan filosofi masing-masing.

Filosofi

Berbicara mengenai filosofi tentu tidak lepas dari kata filsafat. Filsafat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat diartikan sebagai pengetahuan dan penyelidikan mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya serta teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan dan ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika serta epistemologi.

Macam-macam Kebudayaan Dayak

Kebudayaan Dayak tentu tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Dayak itu sendiri. Hal ini tercermin dari berbagai aspek kehidupan masyarakat Dayak yang memiliki ciri khas tertentu. Berikut ini adalah beberapa kebudayaan Dayak beserta makna dan filosofinya:

Handep Hapakat

Handep merupakan budaya yang ada sejak zaman nenek moyang suku Dayak Kalimantan, khususnya Dayak Ngaju. Budaya handep ini dilaksanakan berdasarkan kesepakatan yang telah disepakati oleh masyarakat setempat. Jadi budaya handep di suku Dayak Kalimantan ini sangat mirip dengan budaya gotong-royong.

Namun yang sedikit membedakan budaya handep dengan gotong-royong adalah pada pelaksanaan atau pengaplikasiannya. Handep kerap kali digunakan pada saat-saat tertentu seperti saat musim berladang, upacara pernikahan dan upacara kematian. Untuk kegiatan lainnya bisa dilakukan dengan handep, tetapi agak jarang dilakukan.

Pahuni

Adat istiadat, tradisi dan kebudayaan dari Tanah Dayak (Borneo) memiliki begitu banyak kisah sekaligus misteri yang tidak dapat dijelaskan secara logika atau ilmiah. Salah satu contohnya adalah pahuni.

Pahuni merupakan suatu hubungan sebab akibat yang bermakna negatif dan dapat menimbulkan malapetaka bagi orang yang pahuni (terkena pahuni). Masyarakat Dayak percaya bahwa jika ada orang menolak makanan yang ditawarkan/disuguhkan kepadanya dengan ikhlas, tanpa mencicipi atau menyentuh tempat makanan tersebut maka orang itu bisa pahuni dan akan terkena malapetaka.

Malapetaka yang ditimbulkan akibat pahuni bisa sampai menyebabkan kematian. Menurut cerita masyarakat Dayak secara turun-temurun, makanan yang dapat menimbulkan malapetaka berat karena pahuni adalah kopi, nasi goreng dan makan yang terbuat dari ketan.

Tandak

Tandak adalah suatu ritual yang memiliki makna sakral bagi masyarakat Dayak. Orang yang melakukan tandak disebut manandak. Pada umumnya orang yang bisa manandak adalah seorang pemuka-pemuka agama Kaharingan (agama suku Dayak) misalnya Pesor/Basir (imam) dan orang-orang tertentu yang memiliki talenta atau orang yang dituakan oleh masyarakat Dayak.

Berdasarkan penggunaannya Tandak memiliki 2 makna yang berbeda, yaitu sebagai berikut:


  1. Tandak untuk seseorang, manandak seseorang artinya menimang dan menyanjung orang tersebut menggunakan bahasa-bahasa yang sakral (bahasa Sangiang). 
  2. Tandak untuk benda, biasanya ada benda tertentu yang bisa di-tandak misalnya seperti Mandau (senjata adat suku Dayak). Manandak Mandau biasanya dilakukan sebelum berperang karena memiliki makna untuk memanggil roh Mandau atau menghidupkan Mandau tersebut sehingga lebih sakti.


Tetek Pantan

Tradisi tetek pantan atau memotong kayu bulat yang dipasang melintang di gapura, diyakini masyarakat Dayak pedalaman Kalimantan Tengah dapat mengusir setan atau roh jahat yang menempel pada seseorang. Tetek pantan sendiri biasanya dilakukan untuk menyambut tamu kehormatan atau pejabat pemerintahan dan negara.

Manawur

Manawur berarti menabur. Menaburkan behas atau beras ke segala penjuru, juga ke atas kepala manusia, dilakukan dalam setiap upacara adat yang dilaksanakan oleh suku Dayak. Mengapa harus beras? Karena dengan perantara beras, manusia dapat berkomunikasi dengan Putir Selung Tamanang dan Raja Angking Langit yang kemudian diteruskan kepada Ranying Hatalla (Tuhan Yang Maha Esa).

Hasaki/Hapalas

Hasaki atau Hapalas ialah mengoleskan darah binatang seperti ayam, sapi, kerbau, untuk yang beragama Islam, dan untuk yang non muslim, terkadang dioleskan darah babi. Darah binatang korban tersebut dioleskan pada dahi, tangan, dada dan kaki.

Darah adalah lambang hubungan antara mahluk dan antar manusia serta dipercaya berfungsi mendinginkan atau menetralisir. Dengan hasaki/hapalas sebagai lambang penyucian diri, manusia terbebas dari pengaruh-pengaruh jahat, baik lahir maupun batin. Dalam keadaan bersih lahir batin, manusia menjadi lebih peka dan mampu menerima karunia dan anugerah dari Ranying Hatalla.

Malahap

Malahap adalah pekik rimba, yang telah menyatu dan meresap dalam jiwa dan keseharian hidup suku Dayak di daerah Kalimantan Tengah. Dengan malahap mereka mengekspresikan kegembiraan dan kesungguhan hati mereka akan suatu tekad dan tujuan yang telah mereka sepakati bersama.

Mihup Baram

Mihup Baram berarti minum tuak atau minum minuman yang mengandung alkohol sampai mabuk. Baram dibuat dengan cara tradisional. Dalam upacara-upacara adat, biasanya tradisi minum baram sampai babusau yang artinya minum tuak sampai mabuk, tidak pernah ketinggalan.

Dalam etika pergaulan suku dayak, menolak tawaran minum baram merupakan suatu hal yang tidak sopan. Seseorang yang menawarkan baram kepada tamunya menunjukan kegembiraan dan rasa hormat kepada tamunya. Dengan sedikit mabuk, mereka mampu mengekspresi kegembiraan mereka tanpa rasa malu-malu. Didampingi itu, disaat mabuk kepribadian asli seseorang dapat terdeteksi.

Nahunan

Nahunan (baptisan Dayak Ngaju), ritual Nahunan biasanya dilakukan untuk memberi nama pada bayi yang baru lahir.

Nyadiri

Ritual Nyadiri biasanya dilakukan ketika seseorang sering bermimpi bertemu dengan orang yang sudah meninggal dunia. Sehingga mengakibatkan orang yang mimpi tersebut mengalami berbagai gejala yang tidak menentu, mulai dari tidak bersemangat, pusing, lemah, letih, lesu dan tidak nafsu makan hingga jatuh sakit.

Karena mimpi tersebut dimaknai oleh orang Dayak, bahwa roh orang yang bermimpi itu sedang tersesat ke alam lain (alam orang yang sudah meninggal dunia), sehingga orang tersebut menjadi sakit. Untuk memanggil roh tersebut maka dilakukan ritual Nyadiri, sehingga orang yang sakit itu akan sembuh dengan sendirinya.

Mapas Ngius Dahiang Bala
Mapas Ngius Dahiang Bala tuntang Sial Hawe yang artinya adalah membersihkan diri dari sial dan bala. Ritual ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Dayak setelah pemakaman. Fungsinya untuk membersihkan diri dari sial dan bala atau menetralisir berbagai pengaruh negatif.

Kebudayaan yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan kebiasaan dan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Dayak sejak zaman dahulu, yang kemudian tetap dipertahankan dan dilestarikan hingga saat ini.

Dengan begitu banyak dan beragamnya kebudayaan serta adat-istiadat yang ada di Indonesia, membuktikan bahwa Indonesia adalah suatu bangsa yang besar serta kaya akan keberagaman suku dan budayanya.

Demikian adalah artikel Kebudayaan Dayak. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Adventino Budi  bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih, Salam budaya

4 Responses to "Kebudayaan Dayak dan Filosofinya"

  1. Sangat bagus untuk memberikan pengetahuan kepada org tentang kebudayaan dayak dan filosopinya agar bisa di pahami dan dimengerti. 👏

    BalasHapus
  2. Menambah pengetahuan tentang budaya suku dayak

    BalasHapus
  3. Ini tulisan yang menarik, menambah wawasan terkait kebudayaan di Indonesia

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel