Mari Mengenal Lebih Jauh Dusun Sade, Lombok


Kebanyakan orang mengenal Indonesia sebagai salah satu negara tujuan wisata di dunia, karena Indonesia kaya akan keberagamannya. Baik kaya akan Sumber Daya Alam maupun kaya akan budaya dan tradisi didalamnya. Oke, kali ini kita akan membahas salah satu kekayaan yang dimiliki oleh tanah ibu pertiwi ini. Khususnya dari segi kebudayaannya yang terdapat di salah satu pulau yang dijuluki “Pulau 1001 Masjid” yakni pulau Lombok.

Lombok merupakan salah satu pulau yang terdapat di provinsi NTB. Pulau ini terkenal pula dengan tempat pariwisata yang sangat menggiurkan untuk dikunjungi oleh para turis baik yang lokal maupun internasional. Oleh karena itu, kita akan mengenal lebih dalam tentang salah satu tempat wisata yang ada di lombok, yakni Desa Sade.

Mungkin diantara kita selama ini hanya sebatas mengenal Desa Sade sebagai desa asli pulau lombok. Padahal masih banyak hal yang sangat disayangkan jika kita tidak mengenal desa asli pulau lombok ini. Jadi, mari kita menyelam lebih dalam tentang Desa Sade.

Letak Dusun Sade

Dusun Sade terletak di Desa Rembitan, Kec. Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Pemukimannya terletak pada ketinggian 120-126 mdpl, dengan tipografi yang berbukit dan bergelombang. Pemukiman kampung Sade terletak pada sebuah bukit sehingga permukiman  dibuat berteras untuk menghindari terjadinya erosi.

Akses menuju desa ini cukup mudah, karena terletak sekitar 8 km dari Bandara International Lombok atau  sekitar 20 menit perjalanan. Sedangkan jarak dari Kota Mataram sekitar 50 Km. Dusun Sade ditetapkan oleh Pemprov NTB sebagai Desa Wisata sesuai dengan SK Gubernur NTB No. 2 tahun 1989.

Desa ini memiliki luas 5,5 Hektar dengan terdapat 150 rumah. Setiap rumah disana terdiri dari satu kepala keluarga. Semua penduduk di desa ini masih merupakan satu keturunan, karena mereka melakukan perkawinan antar saudara.

Sejarah Dusun Sade

Dusun Sade mulai di diami penduduk pada tahun 1907. Kata Sade berasal dari bahasa Jawa Kuno atau Sansekerta yaitu “Noer Sade” yang artinya ‟cahaya obat‟. Sejak masuknya agama Islam abad ke-17, berubah menjadi, ‟Noer Sahade‟ kemudian akhirnya menjadi Sade. Konon, tujuan kedatangan Hameratu  Masangaji (orang pertama yang mendiami Dusun Sade) ke Dusun Sade adalah untuk meditasi dan mencari ketenangan jiwa, serta terhindar dari hal-hal yang tidak baik, sehingga menemukan kedamaian dan ketenangan.

Sejak tahun 1975 desa ini dikunjungi oleh para wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Menurut sejarah desa ini telah ada sejak 600 tahun yang lalu dan masyarakat menganut ajaran Watte Telu (Salat tiga waktu), namun ajaran itu kini telah ditinggalkan dan semua masyarakatnya memeluk islam. Di Desa Rembitan ini dominan beragama Islam.

Di ketahui melalui jumlah penduduk yang beragama Islam sekitar 8942  jiwa. Adapun dari tiap bangunan serta pakaian yang dipercayai oleh masyarakat setempat memiliki arti yang dipercayai mengenai agama.

Rumah Adat

Dusun Sade terkenal juga dengan kekhasan rumah adat mereka yang sampai saat ini masih terjaga keasliannya sejak jaman nenek moyang Sasak ada hingga sekarang. Baik dari segi bentuk bangunan maupun cara perawatannya.

Bahkan rumah adat ini, masih digunakan sebagai rumah yang nyaman untuk melanjutkan keturunan mereka. Ada tiga model rumah yang dapat kita jumpai di kampung ini yaitu Bale Tani, Bale Kodong, dan Bale Jajar. Masing-masing rumah tersebut memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda-beda.

Bale Tani

Bale Tani merupakan bangunan rumah yang ditempati sebagai rumah. Di dalam Bale Tani terdapat satu ruang untuk Sesangkok (serambi), satu ruang Dalem Bale (kamar) dan satu ruangan lagi yaitu Pawon (dapur).

Antara serambi atau Sesangkok dengan Bale dalem tidak sama. Posisi kamar pasti lebih tinggi dari pada serambi. Kemudian, untuk masuk ke dalem bale terdapat tiga undakan, dengan pintu yang dinamakan Lawang kuri.

Masing-masing pondasi untuk Sesangkok, ke Bale dalem memiliki  tinggi yang berbeda-beda. Hal ini dimaknai, manusia sebagai ciptaan Tuhan memiliki tingkat keimanan, ilmu pengetahuan maupun kekayaan yang berbeda-beda.

Bale Kodong

Bale Kodong ini adalah rumah adat Sasak yang ukurannya paling kecil, dibandingkan dengan rumah adat jenis lainnya. Bale Kodong digunakan oleh keluarga yang lanjut usia, bersama anak cucunya. Bale Kodong pun biasa digunakan oleh pasangan penganten yang baru menikah, sebelum mereka akan membangun rumah baru yang lebih besar.

Bale Jajar

Bale jajar adalah tempat hunian Suku Sasak dengan ekonomi menengah ke atas. Bentuknya serupa dengan Bale Tani, perbedaannya terletak pada ruang Dalem Bale yang lebih banyak. Bale Jajar memiliki dua Dalem Bale (kamar) dan satu serambi (sesangkok) dan ditandai dengan adanya sambi yaitu tempat penyimpanan bahan makanan dan keperluan rumah tangga. Pada bagian depan Bale Jajar terdapat sekepat dan pada bagian belakangnya terdapat sekenam yang dijadikan sebagai tempat upacara adat.

Ciri khas, dari rumah adat Sasak menurut Mamiq Salman (Pemandu wisata) adalah atap rumahnya yang menggunakan alang-alang serta tidak memiliki jendela. Setiap 7–9 tahun sekali, alang-alang ini selalu diganti. Atap rumah ini, dipasang secara curam.

Hal ini, untuk mempermudah jalur air hujan, agar tidak bocor hingga masuk kedalam rumah. Mereka enggan menggunakan asbes maupun genting. Selain untuk mepertahankan tradisi sukunya, ternyata atap alang-alang ini membuat udara rumahnya teduh. Tidak panas seperti asbes maupun genting.

Selain itu, ciri khas lantai dari rumah Sasak ini terbuat dari tanah liat yang telah dicampur dengan sekam padi dan kotoran sapi maupun kerbau. Seminggu sekali lantai tersebut di bersihkan menggunakan kotoran sapi atau kerbau.

Hal ini dilakukan untuk menjadikan suhu rumah lebih hangat, menghilangkan debu, serta membuat lantai bisa keras seperti lantai dari semen.

Untuk membangun rumah adat Sasak yang siap huni, dibutuhkan waktu sedikitnya 2–3 bulan, dengan menghabiskan penutup atap rumah sebanyak 5–7 pikul alang-alang. Dengan biaya tidak kurang dari Rp. 30.000.000,-.

Lamanya konstruksi pembangunan dikarenakan harus terbentuknya tanah liat sebagai lantainya. Setiap konstruksi rumah adat Sasak harus selalu menyediakan ruangan bersalin, sebelum dukun bayi atau dokter memberikan pertolongan selanjutnya.

Budaya Perkawinan

Tidak hanya sebuah bangunan rumah saja yang unik, akan tetapi dalam pelaksanaan adat upacara pernikahan mereka sangat unik yaitu dengan cara kawin lari pasangan. Di Dusun Sade masih mempercayai sebuah adat yaitu pada saat kawin lari.

Kawin culik ini akan berlangsung setelah si gadis memilih satu di antara kekasih-kekasihnya. Mereka akan membuat suatu kesepakatan kapan penculikan bisa dilakukan. Perjanjian atau kesepakatan antara seorang gadis sebagai calon istri oleh penculiknya ini harus benar-benar dirahasiakan, untuk menjaga kemungkinan gagal ditengah jalannya aksi penculikan seperti dijegal oleh laki-laki lain yang juga memiliki hasrat untuk menyunting sang gadis.

Selain itu, penculikan pada siang hari dilarang keras oleh adat karena dikhawatirkan penculikan pada siang hari akan mudah diketahui oleh orang banyak termasuk juga rival-rival dari sang penculik. Disamping merupakan rahasia, penculikan ini pun harus dirahasiakan dan jangan sampai bocor ke telinga orang tua sang gadis.

Kalau saja kemudian setelah mengetahui orang tuanya tidak setujui anaknya untuk menikah, di sini orang tua baru boleh bertindak untuk menjodohkan anak gadisnya dengan pilihan mereka. Keadaan ini yang disebut Pedait (pertemuan).

Maka dari itu, demi menghindari penculikan oleh lelaki yang bukan merupakan calon menantu yang dikehendaki, begitu mendengar selentingan kabar akan adanya penculikan, maka biasanya sang gadis dilarikan ke tempat keluarga calon suami yang jauh dari desa.

Setelah adanya kawin lari, serta adanya persetujuan dari kedua pihak. Selanjutnya ada Upacara Nyongkolan yaitu diaraknya kedua mempelai ke rumah si perempuan dengan menggunakan pakaian adat yang berupa pakaian kebaya untuk bagian atas si perempuan dan bagian bawah menggunakan kain tenun, sedangkan mempelai laki-laki menggunakan kain tenun pada bagian bawah sedangkan untuk bagian atas menggunakan baju yang bahan kainnya dari sutera yang biasa disebut baju pegon.

Mata Pencaharian 

Ada beberapa penjelasan tentang mata pencaharian oleh masyarakat Dusun Pariwisata Sade adalah sebagai berikut:

a. Bertani 

Sistem bercocok tanam tradisional dengan penggunaan hewan sebagai penarik peralatan membajak sawah masih digemari oleh para wisatawan untuk disaksikan. Disamping itu, pada masa panen padi selalu dirangkai dengan upacara-upacara tradisional untuk mengusir tolak-bala dan memuji syukur kehadirat Tuhan YME atas hasil panen yang diproduksi.

b. Perajin Ukir Kayu 

Seni ukir merupakan salah satu aktifitas penduduk masyarakat Desa Wisata Sade dalam mengisi kekosongan ketika musim kering tiba. Motif ukiran/pahatan mengandung nilai-nilai magis yang dipercaya masyarakat setempat.

Pada mulanya ukiran-ukiran dengan penggunaan sentuhan seni yang sangat tinggi diperuntukkan untuk upacara-upacara tertentu dan sebagai bagian dari aksesoris peralatan seni tradisional. Sejak dikembangkanya Desa Sade sebagai tempat pariwisata para wisatawan mulai menggemari produk ini sebagai cinderamata. Pengerajin seni ukir berbahan kayu-kayuan dan berbahan dari tulang kebanyakan adalah dari anak-anak dan pemuda Dusun Sade.

c. Perajin Tenun

Pada mulanya Tenunan Desa Wisata Sade digunakan sebagai bagian untuk perlengkapan Upacara Adat dan perlengkapan Rumah Tangga, seperti: pakaian sehari-hari, taplak meja dan aksesoris lainya. Namun seiring dengan tuntutan Desa sebagai desa wisata berbagai motif tenunan sudah mulai digemari oleh para wisatawan sebagai cinderamata.

Kondisi ini menjadi peluang bagi masyarakat selama ini untuk mendapatkan penghasilan tambahan dalam rangka memperbaiki tarif hidup masyarakat. Menenun merupakan bentuk kegiatan sampingan yang dilakukan oleh para wanita.

Seni tenun ini khas Desa Wisata Sade memiliki keunikan dibanding dengan tenun lainya di belahan atmosfir, baik dilihat dari motif, warna, fungsi dan filosofi di balik keunikan kain tenun yang diproduksi.

Dilihat dari segi motifnya hasil tenun ikat yang dibuat mempunyai motif garis lurus dengan rajutan benang-benang alami beda dengan motif kebanyakan tenun ikat ditempat lain terdapat unsur batik-batik, kemudian dari warna yang diperoleh langsung dari serat dan dari unsur alam yang ada baik itu menggunakan tanah atau getah dari tumbuhan, contohnya warna merah diambil dari kulit kayu lake, warna biru dari daun nila, warna hijau dari daun kacang panjang dan warna cokelat dari serabut kelapa.

Kesenian 

Kesenian tradisional yang saat ini mulai dipertunjukan bagi para wisatawan, tamu-tamu pemerintah dan masyarakat pada umumnya, mulai menunjukan kualitas dan kuantitasnya.

1. Presean 

Presean, merupakan hiburan (permainan rakyat masyarakat Suku Sasak (untuk adu ketangkasan) yang dilakukan oleh 2 (dua) orang pemain (pepadu) dengan menggunakan rotan sebagai alat pemukul dan perisai yang terbuat dari bahan kulit sebagai tameng(ende).

Seni ketangkasan ini merupakan warisan yang ditradisikan oleh nenek moyang suku Sasak, pada zaman dahulu permainan ini dihajadkan untuk memilih perajurit kerajaan yang tangguh dan terampil dalam seni bela diri. Selain itu, kesenian ini dipercayai untuk upacara minta hujan.

Dalam penggunaan pakaian biasanya dalam kesenian presean ini hanya menggunakan bawahan yang berupa kain tenun bereng (hitam) yang pada bagian kepala digunakan sapo (ikat kepala).

2. Gendang Beleq 

Gendang Beleq merupakan seni hiburan yang lebih bersifat profan dengan menabuh drum yang terbuat dari kulit hewan. Seni hiburan ini dimainkan oleh 40 pemain dengan memainkan keharmonisan berbagi jenis peralatan yang digunakan dan dirangkai dengan berbagai tarian pendukung lainya.

Dahulu kala, Gendang Beleq ini ditabuh untuk membangkitkan semangat juang perajurit di medan pertempuran, namun demikian seiring berjalanya waktu pertunjukan Gendang Beleq ditabuh untuk mengiringi pengantin dalam proses pernikahan serta untuk menyambut tamu-tamu penting lainnya. Dari busana yang digunakan biasanya sama kesatuan dengan menggunakan bawahan yang berupa kain tenun yang bermotifkan garis-garis.

 3. Cilokaq 

Cilokaq adalah suatu bentuk seni pertunjukan berupa pagelaran musik tradisional. Musik tradisional Cilokaq menyanyikan lagu-lagu kedaerahan (Sasak). Biduan-biduan, alat-alat tradisional  dan perlengkapan pakaian serta aksesoris yang digunakan sangat kental dengan hal-hal yang bersifat kedaerahan.

Oleh karena itu, lantunan musik ini seakan-akan membawa pengunjung dalam suasana pedesaan tempo dulu. Dahulu kala, musik Cilokaq ini dinyanyikan pada musim panen tiba sebagai wujud rasa syukur terhadap Sang Pencipta atas keberhasilanya menanam padi, namun demikian pada saat ini pertunjukan musik Cilokaq tidak saja dipersiapkan untuk  syukuran panen padi, tetapi sering pula ditampilkan saat prosesi pernikahan dan acara besar lainnya.

Jadi, kita sebagai warga masyarakat Bangsa Indonesia harus bangga dan syukur atas kekayaan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada kita. Dengan cara ikut berperan aktif dalam melestarikan budaya yang ada. Salah satunya ialah Kebudayaan Dusun Sade ini. Karena jika bukan kita yang akan menjaganya terus kepada siapa lagi bangsa ini akan berharap.

Jangan kita biarkan kekayaan ini luntur begitu saja ataupun direnggut oleh bangsa lain akibat kurangnya perhatian dan kepedulian dari kita. Mari kita jaga dan lestarikan budaya yang kita miliki ini.

Penulis
Lalu M. Bisri Syamsuri

27 Responses to "Mari Mengenal Lebih Jauh Dusun Sade, Lombok"

  1. Tetap melestarikan budaya yg kita miliki

    BalasHapus
  2. Semoga ntar bisa ke sade...

    BalasHapus
  3. ITS really interesting destiny �������������������� come on guys u can make it as your next Destination in Lombok����������

    BalasHapus
  4. Makin cinta indonesia euy... The best lah

    BalasHapus
  5. Huwaaa jadi pngen je sade😍

    BalasHapus
  6. SADE...Mantap sbg tujuan utama wisata lombok...

    BalasHapus
  7. Gilaaa ternyata se unik ini desa sade

    BalasHapus
  8. Good job, cintailah produk2 Indonesia expecially in sasak Sade village ��

    BalasHapus
  9. Good jobπŸ‘ Lombok amazing! Suksess dana jaya terusssπŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  10. mari lestarikan dusun nenek moyang kitaaaaa

    BalasHapus
  11. Nice article. Mari lestarikan budaya mulai dari diri sendiri ��

    BalasHapus
  12. Mari lestarikan budaya kitaπŸ‘πŸ‘

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel