Mengenali Ragam Potensi Kebudayaan Malang Melalui Wisata Budaya Yang Unik Nan Bersejarah


Indonesia adalah negara seribu kebudayaan yang tercermin dalam keanekaragaman budaya yang tersembunyi di berbagai daerah mulai dari Sabang hingga Merauke dari Mianggas hingga Pulau Rote. Hal tersebut tidak terlepas dari sejarah Indonesia yang dulunya banyak berdiri kerajaan-kerajaan termasyur hingga dikenal di seluruh dunia serta meninggalkan banyak kebudayaan yang hingga sampai saat ini banyak dikenal wisatawan-wisatawan domestik maupun internasional dalam bentuk wisata budaya, dan wisata budaya Malang inilah merupakan salah satu wisata budaya lokal di Indonesia yang banyak memikat wisatawan untuk berkunjung dan melihat keunikan serta sejarah dari wisata budayanya.

1. Candi Singhasari atau Candi Singosari 

Candi Singhasari atau yang biasa penduduk sekitar menyebutnya Candi Singosari merupakan salah satu candi Hindu -Buddha di Indonesia peninggalan dari Kerajaan Singosari sebagai wujud persembahan untuk menghormati Raja Kertanegara yang dibunuh oleh Jayakatwang saat penyerangan terhadap dirinya.

Candi ini dibangun sekitar tahun 1300 masehi  serta candi ini pun dijuluki sebagai Candi Cungkup atau Candi Menara karena pada masanya bangunan candi tersebut adalah yang tertinggi diantara bangunan candi-candi yang lainnya. Sekitar 300 meter ke arah barat dari Candi Singosari terdapat dua arca Dwarapala (raksasa penjaga gerbang Kerajaan Singosari) yang memiliki tinggi mencapai 3,7 meter dan berat masing-masing arca 40 ton serta letak kedua arca Dwarapala tersebut terpisahkan sejauh 20 meter.

Masyarakat sekitar Candi Singosari masih melestarikan Ritual selamatan desa yakni suatu prosesi arak tumpeng mengelilingi desa di Kecamatan Singosari dan berakhir di pelataran Candi Singosari ataupun di lapangan Tumapel Kecamatan Singosari, dimana acara tersebut rutin diadakan setiap tahunnya sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan akan pelimpahan rezeki berupa hasil bumi dan juga sebagai wujud penghormatan kepada sesepuh desa dan leluhur. Candi Singosari ini terletak di Desa Candi Renggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.


2. Candi Jago atau Candi Tumpang

Candi Jago sebenarnya berasal dari kata Jajaghu yang berarti keagungan tempat suci yang diambil dari kitab Negarakertagama dan Pararaton. Candi Jago merupakan peninggalan dari Kerajaan Singosari yang dibangun pada tahun 1268 sampai 1280 masehi oleh Raja Kertanegara sebagai bentuk penghormatan kepada ayahnya yang telah wafat bernama Sri Jaya Wisnuwarddana.

Candi Jago berbentuk segi empat dengan panjang 23 meter dan lebar 14 meter dengan ketinggian mencapai 15 meter dan oleh penduduk sekitar Candi Jago sering disebut dengan Candi Tumpang karena letak Candi tersebut di Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang.

Candi Jago memiliki corak candi Hindu-Buddha karena pada waktu itu Raja Sri Jaya Wisnuwarddana menganut agama Syiwa-Buddha. Masyarakat sekitar Candi Jago atau Candi Tumpang  masih melestarikan Ritual Padhang Mbulan (malam bulan purnama) yang rutin dilaksanakan pada malam bulan purnama tanggal 15 atau 16 peninggalan Jawa dimana ritual tersebut dilakukan di pelataran candi yang diawali do’a-do’a dengan menggunakan bahasa Jawa kuno yang dipimpin oleh pemangku adat dengan disertai sesaji berupa hasil bumi, jenang sengkala serta pecok (pacul kecil) dan ditutup dengan acara perebutan dua gunungan padi, palawija, dan hasil sayuran. Candi Jago atau Candi Tumpang ini terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

3. Candi Kidal 

Candi Kidal merupakan peninggalan dari Kerajaan Singosari yang dibangun pada tahun 1248 masehi setelah Raja Anusapati yang merupakan Raja kedua dari Kerajaan Singosari meninggal dunia. Candi Kidal merupakan wujud pendharmaan dari Raja Anusapati agar sang raja mendapat kemuliaan sebagai Syiwa Mahadewa.

Sesuai dengan namanya “kidal” (kiri) dengan menggunakan teknik prasawiya dalam pembacaan relief tersebut yakni dari kanan ke kiri (berlawanan dengan arah jarum jam). Candi Kidal memiliki ketinggian mencapai 12 meter dengan disertai adanya 3 bagian relief di dinding candi tersebut.

Relief pertama menggambarkan seekor garuda yang menggendong 3 ular besar, relief kedua menggambarkan seekor garuda dengan kendi diatas kepalanya, dan relief ketiga menggambarkan seekor garuda yang menggendong seorang wanita. 

Menurut mitos terkenal di kalangan masyarakat mengatakan bahwa kisah yang berada di dinding candi tersebut menceritakan garudheya atau seekor garuda yang berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan).

Masyarakat sekitar Candi Kidal masih melestarikan Ritual Murwakala (ruwatan) yaitu suatu prosesi pemotongan rambut yang memiliki makna pensucian untuk menjadi manusia yang bersih kembali. Rangkaian prosesi dimulai dari tari garudheya yang sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam, setelah itu dilakukanlah pemotongan rambut dan terakhir larung sesaji hasil bumi. Candi Kidal ini terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.


4. Stupa Sumberawan 

Stupa Sumberawan atau Kasurangganan (padepokan) yaitu nama yang diambil dari kitab Negarakertagama merupakan peninggalan dari Kerajaan Singosari yang digunakan oleh umat Budha pada masanya sebagai lambang kahyangan. Sumberawan berasal dari dua kata yaitu sumber dan rawan yang artinya sumber mata air yang berasal dari rerawan atau rawa-rawa.

Stupa Sumberawan ini dibangun sekitar abad ke-14 sampai 15 masehi yakni pada masa Kerajaan Majapahit yang mencapai masa keemasannya dimana stupa tersebut berbentuk segi empat dengan panjang 6,25 meter dan lebar 6,25 meter dengan ketinggian mencapai 5,23 meter.

Dulunya Stupa Sumberawan tersebut berada di tengah-tengah danau yang airnya sangat jernih di kaki Gunung Arjuno namun seiring berjalannya waktu danau tersebut sudah tertimbun tanah hingga menyisahkan sedikit danau kecil di samping stupa.

Masyarakat sekitar Stupa Sumberawan masih melestarikan Ritual Patirtaan dan sedekah bumi dalam rangkaian acara kirab budaya dan tumpeng untuk selametan Patirtaan Sumberawan tersebut.  Hawanya yang sejuk serta pemandangan yang indah  membuat banyak wisatawan baik domestik maupun internasional datang ke lokasi yang satu ini. Stupa Sumberawan ini terletak di Dusun Sumberawan, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Provinsi jawa Timur.

5. Candi Badut atau Candi Liswa

Candi Badut atau Candi Liswa merupakan peninggalan dari kerajaan Kanjuruhan yang dibangun pada tahun 760 masehi atas perintah Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan. Pada masa pemerintahannya tersebut Raja Gajayana atau Liswa (sebutan lain dari Raja Gajayana) sangatlah dicintai oleh rakyatnya karena sang raja yang sangat adil dan bijaksana dalam memimpin kerajaannya serta memiliki kebiasaan yang unik yakni senang melucu (bahasa Jawa : mbadut), oleh karena itu atas perintahnya dibangunlah sebuah candi yang diberi nama Candi Badut sebagai bentuk pengenangan kepada Raja Gajayana tersebut.

Di sepanjang dinding Candi Badut dihiasi dengan relief burung berkepala manusia dan peniup seruling serta di keempat sisi dinding candi tersebut juga terdapat relung-relung berhiaskan bunga-bunga dan burung berkepala manusia.

Candi Badut atau Candi Liswa terbuat dari batu andesit yang berdiri diatas batur dengan ketinggian 2 meter. Masyarakat sekitar Candi Badut masih melestarikan Ritual Bedah Krawangan yaitu suatu prosesi arak tumpeng sebagai bagian dari rangkaian acara selamatan desa yang diadakan rutin setiap tahunnya pada hari Senin Wage, bulan Selo dalam penanggalan Jawa.

Tujuan ritual tersebut diadakan untuk menghormati para sesepuh desa dan para leluhurnya. Candi Badut atau Candi Liswa ini terletak di Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

6. Taman Krida Budaya Malang 

Taman Krida Budaya Malang merupakan pusat pertunjukan kesenian dan kebudayaan tradisional yang berada di Kota Malang. Berbagai kesenian dan kebudayaan tradisional  Jawa Timuran ditampilkan di tempat tersebut seperti ludruk, ketoprak, wayang kulit, wayang orang, sendra tari, kuda lumping, reog hingga bantengan.

Banyak wisatawan baik domestik maupun internasional datang ke Taman Krida Budaya Malang untuk menyaksikan berbagai kesenian dan kebudayaan tradisional yang masih dilestarikan baik pada  hari-hari biasa maupun perayaan hari besar nasional seperti hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Taman Krida Budaya Malang memiliki struktur bangunan khas Jawa dimana terdapat dua pendopo yang berbeda fungsi untuk kegiatannya yakni pendopo bagian luar yang berbentuk informal dimana sering digunakan kegiatan bersifat bebas seperti penamilan hasil-hasil  kreasi baik tadisional ataupun modern pemuda-pemudi Malang.

Sedangkan untuk pendopo bagian dalam lebih berbentuk orisinal-formal dimana digunakan untuk kegiatan budaya ritual yang bersifat formal. Taman Krida Budaya Malang ini terletak di Jalan Soekarno - Hatta Nomor 7, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur.

7. Kampung Budaya Polowijen (KBP) – Malang

Kampung Budaya Polowijen atau KBP – Malang merupakan tempat wisata budaya yang berada di Kota Malang. Kampung tematik ini tidak hanya mengedepankan unsur pariwisatanya saja tetapi juga mengedepankan unsur pelestarian budayanya.

Budaya yang diangkat di kampung tersebut yaitu Budaya asli Malang yaitu tari topeng Malangan. Kampung yang diresmikan oleh Walikota Malang tersebut selalu menampilkan latihan tari topeng Malangan pada hari minggu pukul 08.00 WIB sampai selesai.

Para wisatawan selain dapat menikmati keindahan serta keasrian kampung tersebut juga dapat berpartisipasi dalam latihan tari topeng Malangan yang diikuti oleh warga kampung tersebut. Kampung Budaya Polowijen (KBP) – Malang berada di Lingkungan Ledoksari, Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur.

Negara Indonesia banyak menyimpan ragam potensi kebudayaan melalui wisata budayanya yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia itu sendiri sejak zaman kerajaan dulu hingga sampai saat ini sehingga mampu memiliki kekhasan, jati diri serta identitas bangsa Indonesia yang kuat di dalamnya dan Malang salah satu contoh daerah di Indonesia yang kaya akan wisata budayanya yang unik dan penuh akan sejarah.

Demikian artikel yang ditulis oleh Eko Prasetyono mengenai Kebudayaan Malang. Mari kenali, kunjungi, dan lestarikan keragaman kebudayaan bangsa Indonesia karena kebudayaan merupakan suatu cerminan keberadaban suatu bangsa.


4 Responses to "Mengenali Ragam Potensi Kebudayaan Malang Melalui Wisata Budaya Yang Unik Nan Bersejarah"

  1. Mantul informasinya. Terima kasih min 😉

    BalasHapus
  2. Semoga semakin dikenal Malang dengan adanya artikel kebudayaan ini.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel