Kebudayaan Saya, Kebudayaan Kita, kebudayaan Mereka

Nenek moyangku orang pelaut
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa

Ada salah satu profesor yang meneliti navigasi bugis. Ia bernama Gene Ammarell, warga Amerika yang menguasai dunia navigasi orang Bugis. Dia sangat menguasai topik perahu layar Bugis. Maklum saja, ia menulis disertasi tentang “Navigasi Bugis” di Yale University at Connecticut. Demi menulis disertasi tersebut, ia rela tinggal di Pulau Balobaloang yang terletak di dekat Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Ammarel banyak belajar mengenai jenis perahu, seperti lambo, bago, dan jolloro. Di saat kita sendiri tidak mengetahui budaya orang bugis, seorang warga negara asing dari Amerika itu secara detail menceritakan setiap bagian dari perahu-perahu tersebut.

Menurut Ammarel, kemampuan navigasi orang Bugis sangat luar biasa. Sebagai pelaut, mereka tidak bergantung pada alat modern. Mereka membaca bintang di langit, melihat tanda-tanda alam, seperti gelombang, arus laut, serta semilir angina. Seorang pelaut dibekali kemampuan mengenali alam, sebagai pengetahuan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Inilah yang kemudian dicatat Gene Ammarel dalam bukunya “Navigasi Bugis”.

Navigasi ini lebih menguntungkan daripada navigasi yang dibuat oleh orang barat. Karena navigasi barat bersifat matematis, seperti Global Positioning System (GPS), kompas magnetik, dan lainnya. Ketika alat itu tidak bekerja, pelaut tidak bisa apa-apa. Sedangkan navigasi bugis mengandalkan bintang, arah angina, cuaca, serta kemampuan membaca laut. Sehingga mereka tidak membutuhkan alat apapun untuk mengetahui arah.

Memang negeri ini dikenal sebagai negara multikultural, yaitu negeri yang mempunyai berjuta macam perbedaan. Kita memiliki sejuta adat istiadat, lagu, dan kebudayaan lainnya yang berlimpah ruah. Semua kekayaan itu terkumpul menjadi satu kata yang dikenal dengan istilah kebudayaan.

Sayangnya, kebudayaan itu perlahan lahan dibuang karena terjebak modernisasi zaman. Kita terpesona oleh fatamorgana kebudayaan Barat. Mengaggap jijik kebudayaan sendiri dan merasa bangga pada kebudayaan lain. Sehingga membuangnya jauh-jauh dari ingatan, kemudian meninggalkannya tanpa alasan.

Di saat kebudayaan Nusantara redup di makan zaman, wisatawan asing membawa pelita baru sebagai penerang. Ammarel datang untuk  mengabadikan sebuah karya. Susah payah dia jalani. Kesulitan berkomunikasi hingga akses transportasi yang belum memadai menjadi makanan sehari-hari. Walaupun begitu, dia tetap belajar dan bergerak meraih sebuah keberhasilan.

Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan panjang. Setelah melalui serangkaian peristiwa panjang, dia berhasil menemukan cahaya terang. Kini, dia telah menjelma sebagai salah satu turis yang menguasai salah satu kebudayaan Nusantara. Dari mulutnya muncul berbagai fakta menarik mengenai navigasi bugis. Dan dari tangannya terbitlah sebuah buku yang menjadi sumber ilmu bagi pembacanya.

Dia telah berhasil mengungkap keindahan kebudayaan Nusantara. Dia percaya bahwa Indonesia akan menjadi negara yang besar. Sejarah panjang dari kebudayaan, akan menjadi energi yang menggerakkan bangsa Indonesia menjadi bangsa unggul di masa mendatang, dan ini hanya soal waktu saja.

Betapa bangganya dia mempelajari budaya kita. Secuil kebanggaan ini harusnya menjadi kesempatan kita untuk melebarkan sayap kebudayaan Nusantara. Membentangkannya ke seluruh pelosok dunia. Sebab, kebanggaan adalah gerbang kebudayaan. Melalui rasa bangga terbentang sebuah harapan untuk mempelajari khazanah dan ilmu pengetahuan tentang budaya serta sejarah yang sangat kaya.

Gene Ammarell telah mengajari kita bagaimana menjadi seorang pelaut sejati. Dengan meneliti dan menyebar luaskan penelitiannya, dia bisa membuat takjub seluruh dunia akan kebudayaan kita. Dahulu, saya tidak memiliki kebanggaan sebagai anak bangsa. Namun, Ammarel telah menyalakan kesadaran saya bahwa Indonesia adalah negeri yang besar dan memiliki pesona kuat di jajaran bangsa-bangsa.

Profesor Amerika itu telah membantu saya untuk menanamkan kebanggaan pada Tanah Air yang demikian kaya dengan khazanah tradisi dan kebudayaan.

Dia tak henti-hentinya membisikkan rasa cinta serta keyakinan bahwa selalu ada harapan di Tanah Air. Bahwa selalu ada cahaya yang memancar di tengah-tengah pekatnya pesimisme banyak anak bangsa. Kita hanya butuh keberanian untuk menerabas benalu masalah, serta menanamkan optimisme bahwa negeri ini bisa seperti impian Bung Karno, sebagai negeri yang menjadi mercusuar, cahayanya menyinari bangsa. Semoga!.

Kini saya ingin mengabarkan kebudayaan Indonesia ke seluruh penjuru dunia. Saya berharap tulisan kecil yang saya bagikan dapat dibaca oleh generasi muda dan menambah kecintaannya akan budaya Indonesia.

Saya ingin terus menerus belajar, kemudian membagikan pengetahuan saya kepada semua orang. Saya juga mengajak semua orang untuk melengkapi tulisan saya yang masih jauh dari kelengkapan. Mari kita sebarkan kebudayaan Nusantara bersama-sama. Penulis artikel adalah Muhammad Nur Faizi. Semoga bermanfaat!

0 Response to "Kebudayaan Saya, Kebudayaan Kita, kebudayaan Mereka"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel