“Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata! Arussss!”


Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau yang dihuni oleh sekitar 255 juta penduduk. Dari banyaknya pulau di Indonesia terdapat berbagai keanekaragaman budaya yang unik dan sayangnya masih banyak masyarakat Indonesia belum mengetahui budaya-budaya Indonesia tersebut, kebanyakan masyarakat Indonesia hanya mengetahui budaya yang ada di daerah tempat tinggalnya masing-masing.

Pengertian budaya menurut beberapa ahli yaitu :

1. Menurut Soelaiman Soemardi & Selo Soemardjan

Budaya adalah sesuatu kebudayaan yang merupakan hasil karya meliputi cipta dan rasa dari masyarakat. Budaya memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan masyarakat, sehingga masyarakat tersebutlah yang menciptakannya.

2. Ki Hajar Dewantara

Budaya adalah hasil dari usaha perjuangan masyarakat pada alam serta zaman yang memberikan bukti kemakmuran dan kejayaan hidup. Usaha perjuangan inilah yang mampu menghadapi serta menyikapi berbagai kesulitan dalam mencapai kemakmuran dan kebahagiaan hidup masyarakat tersebut.

3. Koentjaraningrat

Budaya adalah sebuah gagasan, rasa, tindakan dan karya dari manusia selama hidupnya. Bagi koentjaranigrat semua hal tersebut dihasilkan dari usaha manusia itu sendiri dalam bermasyarakat atau bersosialisi.
tian budaya secara umum yaitu suatu cara hidup yang terdapat pada sekelompok manusia, yang berkembang dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya.


Salah satu budaya unik yang pantas dikenal masyarakat dunia adalah ‘Budaya Kalimantan’ khususnya Suku Dayak yang memiliki keragaman budaya. Suku Dayak merupakan suku di Indonesia yang mendiami wilayah pedalaman Kalimantan.

Kehidupan yang primitif dan jauhnya dari akses informasi global menjadi ciri khas mereka. Dayak sebenarnya bukanlah nama untuk sebuah suku. Sebutan “Orang Dayak” dalam bahasa Kalimantan pada umumnya berarti “orang pedalaman”, yang mana mereka adalah orang-orang yang jauh dari kehidupan kota. Banyak ragam suku Dayak seperti Dayak Hiban, Dayak Tanjung, Dayak Bahau, Dayak Kenyah, Dayak Pompankg, dan masih banyak Dayak yang lain.

Terdapat berbagai macam kebudayaan suku Dayak Kalimantan, khususnya Dayak Kalimantan Barat, yaitu :

1. Pakaian Adat

King Bibinge

Pakaian suku dayak khusus wanita disebut King Bibinge. Pakaian tersebut terbuat dari bahan kulit tanaman kapuo/kapua’/ampuro. Tanaman tersebut dipilih sebagai pakaian karena memiliki serat yang tinggi. Bagian yang digunakan yaitu kulitnya, kemudian diolah menjadi baju adat yang bagus dan menawan.

Adapun seperangkat pakaian wanita terdapat kain bawahan, stagen, dan penutup dada. Pada penutup dada sudah dilengkapi dengan pernak pernih dan juga perhiasan. Seperti manik-manik, kalung, bulu burung enggang dan gelang.

King Baba

Pakain bernama King Baba ini sebutan untuk Pakaian Adat Dayak Laki-Laki Dayak. Selain king Baba ada banyak sebutan lain di pulau Kalimantan. Sebutan baju adat King Baba ini dikhususkan untuk suku dayak Laki-laki di Kalimantan Barat.

Pakaian ini terbuat dari tanaman yang sama untuk membuat King Bibinge yang diolah kemudian di beri lukisan khas etnik Dayak. Lukisan tersebut menggunakan pewarna alami, dan terlihat cerah.

Baju Upah Nyamu

Baju ini berasal dari upah nyamu yang di pipihkan yang digunakan untuk membuat pakaian dan cawat. Bajunya dibuat seperti rompi, terkadang ada juga yang seperti baju tanpa lengan.

Baju Sangkarut

Baju ini disebut juga dengan baju Basulau, karena memag bajunya di lapisi oleh Sulau atau sejenis kerang. Baju Sangkarut ini adalah baju perang bagi suku Dayak Ngaju. Baju ini digunakan oleh ksatria Dayak Ngaju yang berperang melawan Negeri Sawang. Selain itu Baju ini juga digunakan untuk acara pernikahan. Baju Sangkarut ini terbuat dari serat nanas dan jenis kerang-kerangan.

Baju Pawang

Baju ini biasanya digunakan oleh seorang BASIR atau seorang ulama agama kaharingan. Baju ini digunakan ketika menyampaikan doa untuk perlindungan roh jahat, hujan dan mengobati orang yang sedang sakit. Baju ini terbuat dari serat kayu atau tumbuhan yang dianggap memiliki kekuatan magic. Pakaian ini dihiasi manik-manik dan juga umbaian-umbaian benang.

Baju Tenunan

Baju tenunan ini terbuat dari serat tanaman seperti halnya serat nanas, nyamun dan tumbuhan lainnya. Baju Tenun ini digunakan untuk berperang. Pada saat ini baju tenunan Dayak sudah punah karena belum ada yang melestarikannya.

2. Rumah Adat

Rumah adat yang dimiliki oleh suku dayak adalah rumah Betang atau rumah Panjang yang merupakan rumah adat khas Kalimantan. mumnya rumah Betang dibangun dalam bentuk panggung dengan rentang ketinggian tiga hingga lima meter dari tanah.

Tingginya bangunan rumah Betang ini konon untuk menghindari datangnya banjir pada musim penghujan yang mengancam daerah-daerah di hulu sungai di Kalimantan. Bentuk dan besar rumah Betang ini bervariasi di berbagai daerah. Biasanya untuk ukuran  rumah Betang yaitu panjangnya mencapai 150 meter dan lebar hingga 30 meter. 

Budaya Betang merupakan gambaran mengenai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari orang Dayak. Dalam rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat secara sistematis diatur sesuai kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat suku dayak.
 
Nilai moral yang terdapat dalam bangunan yang luas dengan banyak penghuni bahkan sampai beberapa kepala keluarga, tentunya dengan latar belakang yang  berbeda, dengan penghasilan yang tidak sama melambangkan kehidupan Suku Dayak yang sangat harmonis dan menjunjung tinggi persatuan, rasa saling berbagi yang kuat dan toleransi yang mendalam.

3. Tarian Tradisional

Banyaknya suku dan subsuku Dayak menimbulkan beragamnya seni tari tradisional. Secara umum, berdasarkan vocabuler tari, bisa diklasifikasikan menjadi 4 kelompok. Sebagian besar tarian suku Dayak adalah tari ritual dalam upacara sesuai dengan agama Kaharingan, misalnya tari Adat Temuai Datai.

Tarian ini sangat populer di kalangan masyarakat Dayak Mualang dan berfungsi sebagai upacara penyambutan terhadap pahlawan sehabis pulang mengayau. Di masa lalu, mengayau berarti pergi membunuh musuh, namun saat ini arti tersebut mengalami pergeseran makna.

Mengayau berarti ‘melindungi pertanian, mendapatkan tambahan daya jiwa atau semangat, dan sebagai daya tahan berdirinya suatu bangunan’.

Tarian suku Dayak Kalimantan Barat yaitu :

  • Tari Pedang Mualang, tarian tunggal tradisional yang umumnya dipentaskan untuk menghibur masyarakat, seperti acara Gawai Belaki Bini (pesta pernikahan), acara Gawai Dayak (pesta panen padi), dan acara lainnya. 
  • Tari Kondan, mengandung nilai misteri dikarenakan ada gerakan yang tidak bisa dipahami maknanya. Tari Kondan merupakan tarian yang sering digunakan pada acara pernikahan, acara adat istiadat ataupun acara keagamaan serta ritual lainnya. 
  • Tari Pinggan, merupakan sebuah tarian tunggal tradisional Dayak yang di sajikan untuk menghibur masyarakat dalam setiap acara tradisional. Pingan dalam bahasa Dayak. Mualang yang berarti piring terbuat dari batu atau tanah liat. 
  • Tari Monong/ tari Manang, merupakan sebuah tari penyembuhan untuk menyembuhkan atau menangkal penyakit yang ada dalam tubuh seseorang yang sakit. Dalam tarian ini, penari bertindak seperti seorang dukun yang berbicara seperti menggunakan jampi-jampi. 
  • Tari Kinyah Uut Danum, merupakan salah satu tarian perang yang berasal dari Kalimantan Barat yang memperlihatkan keberanian dan teknik bela diri dalam berperang. 
  • Tari Jonggan, berasal dari bahasa Dayak yang memiliki arti joget atau menari. Setiap gerak dan lekukan tubuh sang penari mengambarkan sukacita dan kebahagiaan masyarakat suku Dayak. Tari Jonggan biasanya dipentaskan sebagai hiburan ketika pagelaran upacara adat, sebagai ajang mencari jodoh, sebagai kenikmatan estetis dan penggambaran simbolik yang memiliki fungsi edukasi kepada masyarakat.


4. Alat Musik

  • Tawaq, sejenis Gong kecil, Alat musik Tawaq yang dari Kalimantan Barat selain digunakan sebagai pengiring tari-tarian, biasanya dimainkan oleh masyarakat sebagai pengisi acara adat atau bahkan ada juga beberapa orang yang menginginkan alat musik ini dimainkan pada acara pernikahan.
  • Sapek atau sape’ lebih dikenal dengan sebutan “Gitar Dayak” atau “Gitar Kalimantan” karena bentuk dan cara memainkannya mirip dengan alat musik Gitar. Alat musik ini di claim sudah dimiliki oleh suku Dayak dengan bentuk badannya yang lebar dan tangkai bagian atas kecil untuk pegangan.
  • Balikan merupakan alat music suku Dayak yang berasal dari Kalimantan Barat yang digunakan dengan cara dipetik. Alat musik Balikan / Kutating ini memang mirip seperti dengan alat musik suku Dayak yang bernama Sape / Sapek. Balikan dibuat oleh suku Dayak yang ada di daerah Kapuas Hulu.
  • Kangkuang dibuat dari kayu yang di tengahnya dilubangi dan diukir dengan bentuk sedemikian rupa.
  • Sollokanong/kleneng dibuat dari kuningan atau kayu dan dibentuk lebih kecil dari gong atau terbuat dari kayu, penggunanya harus satu set.
  • Terah Umat adalah alat musik tradisional Kalimantan Barat yang dibuat dari besi atau umat, maka dari itu dijuluki dengan Terah Umat. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul atau diketuk, mirip seperti memainkan gamelan Jawa.


5. Adat istiadat

Salah satu tradisi yang dimiliki oleh masyarakat suku Dayak adalah upacara adat Naik Dango. Naik Dango adalah sebuah apresiasi kebudayaan masyarakat adat Dayak Kanayatn Kalimantan Barat yang kebanyakan berprofesi sebagai petani.

Makna dari upacara adat naik dango bagi masyarakat suku Dayak Kanayatn adalah sebagai suatu ungkapan rasa syukur atas karunia Jubata (Tuhan) kepada Talino (manusia) karena telah memberikan padi sebagai kebutuhan makanan manusia.

Ritual ini juga dijadikan sebagai media permohonan doa restu kepada Tuhan untuk menggunakan padi yang telah disimpan di dango padi, agar padi yang digunakan benar-benar menjadi berkat bagi manusia dan tidak cepat habis.

Selain itu, upacara adat ini sebagai pertanda penutupan tahun berladang dan sebagai sarana untuk bersilaturahmi untuk mempererat hubungan persaudaraan atau solidaritas. Ritual ini juga banyak disebut ‘Gawai’ atau ‘Gawai Dayak’.

6. Bahasa Suku Dayak

Bahasa Suku Dayak berasal dari bahasa Austronesia yang masuk dari bagian sebelah utara Kalimantan, yang mana selanjutnya menyebar menuju arah timur hingga masuk pada area pedalaman, gunung-gunung, serta pula-pulau di Samudera Pasifik. Suku Dayak terdiri dari beragam sub-suku yang memiliki dialek bahasanya sendiri-sendiri.

Secara ilmiah, ada lima kelompok bahasa yang dituturkan oleh masyarakat dayak, yaitu Barito Raya, Dayak Barat, Borneo Utara, Dayak Banuaka, Melayik. Selain itu, bahasa Indonesia juga sering digunakan untuk bersosialisasi.

Itulah beberapa sejarah dan kebudayaan dari masyarakat suku Dayak yang bertempat tinggal di pedalaman Kalimantan khususnya Kalimantan Barat. Sebagai salah satu suku yang ada di Indonesia, suku Dayak memiliki budaya yang sangat melekat dengan kehidupan masyarakatnya.

Budaya suku Dayak juga tidak dapat dilepaskan dengan catatan sejarah yang membuat ciri khas tersendiri dalam tradisinya. Oleh karena itu, jika mempelajari lebih mendalam mengenai budaya suku Dayak, maka kita dapat mengetahui mengapa kebudayaan mereka berbeda dengan suku-suku lainnya.

Nah itulah serangkaian artikel mengenai Kebudayaan Suku Dayak yang ditulis oleh Jesica Dwi Prananda.

6 Responses to "“Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata! Arussss!”"

  1. Tank yu kak, membantu tugas sekolah saya :) semangat!

    BalasHapus
  2. Ntaps! Terima kasih informasinya

    BalasHapus
  3. Sangat menarik dan bermanfaat!

    BalasHapus
  4. Tulisannya bagus, jelas dan bermanfaat. Saya seorang ibu rumah tangga, saya merasa Sangat terbantu oleh tulisan ini. Terutama untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dirumah.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel