Kenduri Pemersatu Warga Dusun di Desa Kemiri

Disiapke segone” (Nasinya disiapkan)

Matahari belum bersinar lama tetapi aktivitas  sudah terlihat ramai di balai dusun. Beberapa warga sudah bersiap untuk mempersiapkan acara besar. Terlihat warga bergantian ke balai dusun untuk menyerahkan olahan hasil bumi. Olahan hasil bumi yang diterima segera dipisahkan panitia menurut jenis makanannya. Dalam tempat yang sama, ibu-ibu membuat teh untuk para tamu, pemuda-pemuda menggelar tikar, dan bapak-bapak merapikan tenda ataupun mengecek sistem audio hingga suaranya pas.

Itulah pemandangan kegiatan rutin menjelang Kenduri yang dilaksanakan oleh dusun yang ada di Desa Kemiri,Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunung Kidul.

Kenduri yang biasa juga disebut sebagai Merti Dusun (Bersih dusun) atau Rasulan adalah kegiatan  ucapan syukur atas panen raya para petani.

Keunikan dari festival Kenduri ini adalah tanggalnya selalu tetap dalam kalender Jawa yang dianggap waktu baik oleh generasi  sesepuh sebelumnya, seperti di Dusun Kemiri yang selalu menyelenggarakan Kenduri setiap hari Rabu Pahing.

Kenduri ini biasanya dilakukan oleh satu atau dua dusun bergantung dari kemampuan dan kesepakatan antar dusun. Kegiatan Kenduri ini biasanya terdiri dari tiga acara pokok, yakni kerja bakti,Kenduri,dan hiburan budaya.

Menjelang kegiatan Kenduri dilaksanakan kerja bakti. Kegiatan kerja bakti ini meliputi pemasangan umbul-umbul, pengecatan pagar bambu atau pagar rumah, serta mendirikan panggung dan tenda untuk acara Kenduri. Biasanya kegiatan ini dilakukan oleh bapak-bapak dan dilaksanakan pada hari libur maupun pada pagi hari atau sore hari selama bukan dalam waktu bertani mereka.

Selanjutnya adalah kegiatan pokok yaitu Kenduri. Kegiatan ini sangat unik karena setiap warga menyumbangkan hasil bumi untuk dibagikan bersama. Olahan hasil bumi yang disiapkan setiap warga yakni nasi putih, nasi uduk, ayam rebus utuh, ayam goreng ,bihun goreng, sambal kentang,dan tahu tempe.

Sumbangan dari warga ini selanjutnya diletakkan di meja besar. Meja pertama untuk nasi uduk, Meja kedua untuk nasi putih, dan meja ketiga untuk olahan hasil bumi lainnya. Kegiatan penyortiran ini dilakukan pada pagi hari sebelum acara Kenduri dimulai. Ayam rebus utuh nantinya akan dibagi dari bagian kepala sampai bagian dada.

Acara Kenduri ini bernuansa Jawa kental. Pembawa acara dan among tamu mengenakan busana Jawa dan acara dibawakan dengan bahasa Jawa krama . Setiap among tamu menyambut orang-orang yang hadir dalam acara Kenduri.

Acara ini tidak terbatas bagi masyarakat di dusun tempat Kenduri diselenggarakan namun juga untuk dusun lainnya atau bahkan masyarakat luar. Semua tamu duduk menyamping dan berhadapan tanpa membeda-bedakan strata sosial masing-masing. Umumnya, hanya kaum lelaki saja yang duduk di area tamu Kenduri  sementara ibu-ibu dan anak-anak berada di luar tempat lesehan Kenduri.

Bagi dusun yang cukup mampu, Kenduri dapat diawali dengan kirab sedekah bumi yang terdiri dari sayur dan buah serta uang kertas yang dibentuk seperti bendera. Sedekah bumi yang dibentuk seperti gunungan diarak dari satu tempat dan berakhir di balai dusun. Kegiatan selanjutnya adalah sambutan dari beberapa pihak untuk menunjukkan sinergitas antar masyarakat dan semua pihak.

Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama. Inilah momen dimana semua tamu dilayani. Setiap tamu menerima satu piring berisi lauk pauk dan di setiap selang deret tertentu diberikan nasi putih dan nasi uduk.

Setelah acara makan siang selesai, tibalah ke acara puncak kenduri yaitu doa syukur. Doa syukur ini dipimpin oleh seseorang yang berusia sekitar 60-an tahun dan disediakan nasi uduk dan ayam utuh yang merupakan simbolisasi atas rasa syukur panen raya oleh para petani. Saat doa selesai dipanjatkan, mangkok berisi air beras dicurahkan ke atas genteng sebagai syukur atas panen raya dan penanda festival  Kenduri telah selesai.

Bagi dusun yang membuat gunungan sedekah bumi, setelah doa selesai dipanjatkan hasil bumi tersebut langsung menjadi rebutan masyarakat,khususnya bagi ibu-ibu dan anak-anak yang menunggu di luar tempat lesehan Kenduri.
Warga Dusun di Desa Kemiri

Panitia kemudian membagi olahan hasil bumi kepada semua tamu yang ada. Untuk setiap tamu mendapatkan satu besek besar berisi nasi putih,satu plastik berisi nasi uduk dan potongan ayam rebus, serta olahan lauk pauk lainnya. Setelah menerima besek, para tamu berjalan untuk menyalami among tamu lalu pergi ke rumah masing-masing.
Kenduri tidak akan lepas dari kegiatan seni. Beberapa kegiatan seni yang diselenggarakan antara lain campursari, jathilan, dan wayangan. Kegiatn seni ini biasanya digelar malam sebelum Kenduri, sore setelah Kenduri, dan malam setelah Kenduri.

Kegiatan ini biasanya ramai dengan partisipasi warga dan pendatang luar. Dalam kegiatan wayangan contohnya,lakon yang ditampilkan selalu berkaitan dengan tema persatuan yang merupakan spirit kegiatan Kenduri.

Itulah kegiatan Kenduri yang merupakan kegiatan rutin di Desa Kemiri. Kegiatan ini adalah kegiatan dari warga dan ditujukan untuk warga dan masyarakat lain. Semangat gotong royong dan saling melayani sangat terasa saat kegiatan ini berlangsung. Kenduri, kegiatan pemersatu dusun dan berkah bagi masyarakat. 

Itulah artikel yang disajikan oleh Nicholaus Valentino dengan judul "Kenduri Pemersatu Warga Dusun di Desa Kemiri". Semoga bisa memberikan wawasan kepada segenap pembaca sekalian. Trimakasih!

0 Response to "Kenduri Pemersatu Warga Dusun di Desa Kemiri"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel