Presentasi Estetis Kentrung Demak

Source: Kaskus
Seni Tradisional Kentrung adalah seni sastra lisan atau seni bertutur yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan kesan moral kepada masyarakat. Kentrung dikatakan sebagai seni karena memiliki unsur kreasi dan keindahan di balik pesan yang disampaikan oleh seorang dalang dengan iringan alat atau bunyi musik yang khas. Kentrung dapat pula dikatakan sebagai budaya karena hanya dimiliki oleh beberapa kelompok, yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya.

Seni Kentrung berperan dalam proses penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa. Pada awal kemunculannya, kesenian ini dipentaskan dengan nyanyian berisi dakwah disertai tabuhan kentheng dan terbang dalam berbagai ukuran oleh Walisongo. Dakwah yang disampaikan dalam Kentrung memuat mengenai Babad Tanah Jawa, sejarah masa lalu pada masa kerajaan Islam, serta kisah-kisah para nabi.

Pertunjukan kentrung dimainkan oleh dalang dan panjak yang mendongeng tanpa menggunakan wayang, dengan iringan musik kendang dan tamburin, dapat pula menggunakan instrumen lain seperti jidor, terbang, templeng, dan gong.

Pemaknaan kata Kentrung sendiri memunculkan beragam penafsiran. Ada yang mengatakan kata Kentrung berasal dari kluntrang-kluntrung yang bermakna mengembara ke sana kemari. Ada pula yang beranggapan berawal dari kata ngreken-ngantung yang berarti menghitung dan berangan-angan.

Selain itu pula muncul anggapan bahwa kata Kentrung berasal dari alat musik yang digunakan, yakni kata “KEN” yang diambil dari awal kata alat musik yang bernama Kendang, kemudian kata “TRUNG” yang berarti bunyi ketika alat musik rebana dipukul.

Terlepas dari beragamnya pemaknaan istilah Kentrung, kesenian ini mudah diterima oleh seluruh masyarakat karena kesederhanaan tampilannya yang menggunakan bahasa Indonesia dan dialek daerah yang mudah dipahami. Melalui kesenian ini pula, masyarakat mampu mewujudkan sarana komunikasi rakyat sesama golongannya, melalui simbol-simbol dalam setiap parikannya.

Namun sangat disayangkan, kesenian tradisional khas Jawa ini adalah salah satu jajaran dari kesenian musik tradisional yang hampir punah seiring dengan perkembangan zaman. Intensitas permainan Kentrung yang terbatas menjadi salah satu faktor ketidakberkembangan kesenian ini.

Hal tersebut diperparah pula dengan makin semaraknya penggunaan alat musik modern serta pementasan yang disebarkan oleh bangsa barat seperti opera, pantomim, teater dan masih banyak lagi.

Padahal, kesenian ini sudah menyebar di seluruh wilayah Indonesia, seperti: Semarang, Pati, Jepara, Blora hingga Tuban, begitu pula dengan Kabupaten Demak, yang juga memiliki kesenian Kentrung dengan kekhasan yang berbeda dibanding Kentrung di wilayah lain.

Kentrung Demak merupakan seni bertutur yang dibawakan seorang dalang dengan iringan alat musik terbang. Salah satu pelestari Kentrung Demak yaitu Mochammad Samsuri, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Samsuri.

Meskipun usianya sudah lanjut, tidak melunturkan semangatnya untuk melestarikan kesenian yang hampir punah ini. Kentrung Demak memiliki kekhasan karena hanya dimainkan oleh satu orang saja, yang berperan sebagai dalang sekaligus pemain alat musik.

Selain itu, alat musik yang dimainkan oleh sang dalang pun hanya berupa terbang, yang terdiri atas tiga jenis terbang, yaitu terbang kecil (keteplak), terbang sedang (ketipung), dan terbang besar (gendung). Fungsi terbang dalam kesenian ini adalah sebagai penghubung antarkalimat. Cara memainkan terbang dengan dipukul menggunakan pola yang berbeda-beda.

Sebagai Kota Wali, cerita yang dibawakan dalam Kentrung Demak biasanya bernuansa Islam, dengan menggunakan bahasa Kawi (Jawa Kuno) dan Jawa Krama Alus. Tak lupa, tembang-tembang Jawa seperti Dandanggula, Pangkur, Sinom, dan Gambuh sering disisipkan di tengah-tengah cerita.

Jika biasanya kesenian Kentrung dipentaskan pada berbagai hajatan masyarakat seperti syukuran kelahiran anak, khitanan, pitonan, maupun mudun lemah, tetapi pementasan Kentrung di Demak berbeda dari segi presentasi estetisnya.

Kesenian ini sering dimanfaatkan masyarakat Demak tidak hanya pada acara-acara yang berbau ritual, tetapi juga dipentaskan dalam hajatan dan pesta. Misalnya: khitanan, perkawinan, tingkepan, boyongan rumah, ulang tahun instansi, acara yang bernuansa religius seperti Peringatan Maulid Nabi, bahkan pada acara dialog interaktif dalam seminar di perguruan tinggi dan sekolah-sekolah tertentu.

Bentuk-bentuk presentasi estetis kesenian Kentrung dilakukan sebagai upaya pelestarian Kentrung di Kabupaten Demak yang berada di ujung kepunahan karena tidak adanya regenerasi.

Lenyapnya apresiasi masyarakat dan menyusutnya komunitas seniman Kentrung di Demak merupakan faktor penyebab tidak terjadinya regenerasi dan pewarisan. Selain itu, serbuan kesenian modern seperti layar tancap, dangdut, atau pemutaran VCD juga menjadi penyebab hilangnya Kentrung di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, inovasi-inovasi baru tampilan Kentrung yang tidak terpaku pakem juga mewarnai tampilan Kentrung Demak saat ini. Maka, tidaklah heran jika kesenian ini ditemui pula di kegiatan ekstrakurikuler beberapa sekolah.

Upaya tersebut dilakukan untuk memotivasi generasi muda supaya mau dan turut andil dalam pelestarian kesenian Kentrung yang nyaris punah melalui kegiatan ekstrakurikuler tersebut, sehingga eksistensi seni tradisional Kentrung di Demak tetap terjaga.

Presentasi estetis Kentrung Demak sebagai upaya pelestarian kesenian tersebut agar tidak punah tentu saja tetap memperhatikan kekhasan dari Kentrung Demak, meskipun sudah mengalami perubahan seiring tuntutan zaman.

Semoga para seniman tidak kehilangan kreativitas serta inovasi-inovasi baru sehingga eksistensi seni tradisional Kentrung tetap terjaga sehingga popularitasnya kembali membahana, tidak akan sirna dimakan waktu dan usia.

Nah, itulah tadi serangkain artikel yang sudah dituliskan oleh Giza Arifkha Putri dengan judul "Presentasi Estetis Kentrung Demak". Semoga melalui penjelasan ini bisa memberikan wawasan serta referensi mendalam. Trimakasih,

15 Responses to "Presentasi Estetis Kentrung Demak"

  1. Wow, info baru ni. Keren. 👍👍

    BalasHapus
  2. jempol 4 buat penulis, menguak seni yg hampir terlupa

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas ilmunya mbak cantik. Betapa kaya negara kita akan kesenian tradisional yg perlu dijaga kelestariannya. Dengan memposting tulisan ini berarti sudah ada anak muda penyelamat budaya. Lanjutkan !

    BalasHapus
  4. Thanks,jadi tambah wawasanku tentang kesenian di indonesia. Nais inpo gan...��

    BalasHapus
  5. Waww terimakasih infonya kakakk!

    BalasHapus
  6. Pintar sekali mb Ghiza.. Lanjutkan ya

    BalasHapus
  7. Mb Ghina cantik dan pintar hebat deh tulisannya bikin aq salut padamu, proud of you.. Teruskan keahlianku ini, emang buah nggak jauh jatuhnya dari pohonnya.. Love you

    BalasHapus
  8. Makasih infonya, baru tahu sekarang

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel