Cerita di Balik Kesenian Dongkrek

Madiun merupakan salah satu kota yang terletak bagian barat provinsi jawa timur. Provinsi jawa timur telah menyimpan banyak kekayaan budaya dalam segi bahasa, musik, tari, makanan dan lain sebagainya.

Sehingga tidak heran jika kota Madiun ini juga memiliki  budaya dan khas daerah sendiri. Seperti halnya Madiun telah menyimpan banyak cerita dimasa lampau. Cerita pembantaian G-30S PKI pada tahun 1948 yang tiada habis dibicarakan hingga saat ini menyimpan sisa kesedihan yang mendalam akan peristiwa tersebut.

Selain peristiwa tersebut, madiun juga dikenal sebagai kota perindustrian kereta api Indonesia, penghasil Brem, dan sambal pecel. Namun ada lagi yang banyak orang tidak mengetahui yakni kesenian dongkrek.  Kesenian dongkrek merupakan perpaduan seni musik serta tari yang berasal dari daerah kabupaten madiun khususnya mejayan-caruban.

Asal muasal kesenian dongkrek berawal dari peristiwa adanya wabah penyakit pagebluk yakni seseorang akan menderita sakit saat pagi dan sorenya meninggal atau sakit pada sore hari, malam harinya seketika meninggal dunia.

Dalam keresahannya Raden Prawirodipuro, ia melakukan meditas dan bertapa. Sepulang dari bertapa ia mendapatkan sesuatu untuk membuat semacam tarian atau semacam yang dapat mengusir balak. maka dibuatlah  kesenian yang dapat menggambarkan fragmentasi pengusiran roh halus yang membawa pagebluk tersebut.

Kesenian ini menggambarkan para punggawa kerajaan roh halus yang menyerang penduduk dapat diusir dengan menggiring mereka keluar dari desa. Semakin berkembangnya zaman, cerita tersebut di lestarikan dalam bentuk kesenian dongkrek yang terdiri dari beberapa babak seni drama serta seni musik yang dipadu padankan dengan seni tari sehingga menjadi sajian kebudayaan yang anggun.

Kesenian ini terdiri dari  babak pertama berupa pengusiran roh halus yang dimainkan oleh  barisan buta, orang tua sakti, dan dua perempuan paruh baya. Peran dua Perempuan paruh baya ini sebagai simbol kondisi rakyat yang lemah karena dikepung pasukan buta.

Sebelum kaum buta mematikan para perempuan, muncul sosok orang tua sakti dengan tongkatnya berhasil mengusir barisan roh halus. Babak selanjutnya terjadi peperangan antara kaum buta dengan orang tua sakti yang akhirnya kaum buta kalah serta patuh. Si orang tua sakti didampingi kaum perempuan menggiring kaum buta keluar dari desa. Sirnalah pagebluk yang menyerang desa mejayan.

Sedangkan asal mula dari nama dongkrek berasal dari bunyian “dung” yang berasal dari beduk atau kendang dan “krek” dari alat musik yang disebut korek. Musik pengiring ini diselaraskan dengan seni tari yang berasal dari daerah kabupaten madiun.

Tradisi ini kemudian menjadi ciri kebudayaan masyarakat caruban yang menyiratkan pesan bahwa setiap maksut jahat akan lebur dengan kebaikan dan kebenaran, sehingga jangan pernah takut untuk menyebarkan kebaikan di muka bumi. Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Demikianlah tulisan mengenai Kesenian Dongkrekhttps://www.ilmubudaya.com/2019/08/budaya-dongkrek.html yang ditulis oleh Rahma Putri M Wies Hanif. Semoga dapat bermanfaat untuk menambah wawasan mengenai budaya di Indonesia. Masih banyak lagi budaya yang dapat kita pelajari, jadi jangan berhenti untuk terus belajar. Salam budaya!



3 Responses to "Cerita di Balik Kesenian Dongkrek"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel