Gambang Semarang Yang Berjuang



Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan komposisi masyarakat majemuk. Luas wilayah Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke membuat Indonesia kaya tak hanya dari sumber daya alamnya saja tetapi juga dari aspek kebudayaan.

Sehingga tak heran bila Indonesia memiliki berbagai macam suku bangsa, berbagai macam bahasa dan berbagai macam tradisi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2016) menyebutkan budaya yang dimiliki oleh bangsa ini mencapai jumlah 6.238 kebudayaan berbentuk abstrak dan 1.413 kebudayaan berupa benda.

Banyaknya budaya yang dimiliki Indonesia tak hanya memberikan kebanggaan kepada setiap warganya, tapi juga memberikan sebuah tanggung jawab besar agar kebudayaan-kebudayaan tersebut tidak hilang.

Dibutuhkan agen-agen yang dapat mengemban tugas mulia ini. Tugas untuk menjaga dan melestarikan budaya sehingga kebudayaan-kebudayaan tersebut dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya, bukan menjadi asing atau bahkan menghilang sama sekali.

Salah satu kesenian tradisional yang semakin lama semakin kehilangan pamor dan mulai ditinggalkan adalah kesenian Gambang Semarang. Kesenian Gambang Semarang adalah satu set kesenian yang terdiri atas kesenian musik, tari, lagu dan lawak.

Disebut Gambang Semarang karena kesenian ini diadaptasi dari Gambang Kromong yang sebelumnya telah berkembang di Betawi. Kesenian ini kemudian dibawa ke Semarang dan diadaptasi sesuai dengan kondisi masyarakat Semarang hingga akhirnya terbentuklah Kesenian Gambang Semarang.

Kesenian Gambang Semarang merupakan simbol persatuan masyarakat Semarang itu sendiri. keempat unsur pembentuk Kesenian yang saling berpadu membentuk suatu suguhan yang menarik dan menghibur mencerminkan kehidupan masyarakat Semarang yang memiliki berbagai macam latar belakang tapi tetap hidup rukun dan berdampingan.

Bahkan bila ditelusuri lebih jauh Gambang Semarang berasal dari akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa. Bukankah ini berarti sejak dulu masyarakat Indonesia menyukai persatuan?

Sayangnya nilai berharga yang terkandung dalam Kesenian Gambang Semarang, tidak serta merta membuat kesenian ini digilai dan diapresiasi oleh masyarakat setempat. Gambang Semarang berkali-kali harus bangkit karena berbagai peyebab, mengikuti kondisi masyarakat saat itu.

1989 saat Jepang menyerang, gambang kehilangan alat musiknya. Peristiwa G30S/PKI juga tak luput membuat Gambang kembali terdegradasi. Puncaknya 1990 Gambang pernah berada dalam kondisi diambang kepunahan saat hampir tidak ada pemain yang ahli disini.

Hal ini kemudian mendorong terlahirnya komunitas-komunitas yang berfokus untuk melestarikan Kesenian Gambang Semarang seperti NangNok Gambang Semarang, Komunitas Gambang Semarang dan Gambang Semarang Art Company yang hingga kini terus berupaya untuk memperkenalkan kembali kesenian ini pada masyarakat Semarang.

Nah, itulah penjelasan mengenai Kesenian Gambang Semarang melalui artikel yang ditulis oleh Deria Ramadayanti ini. Semoga dapat bermanfaat bagi sahabat budaya sekalian.

0 Response to "Gambang Semarang Yang Berjuang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel