Keunikan Menyambut Bulan Suro di Desa Kedungjati


Menyambut Bulan Suro merupakan salah satu kekhasan daerah yang ada di Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan berbagai macam budaya, tradisi dan beragam keunikan didalamnya.
Salah satu keunikan yang ada adalah dalam memperingati Bulan Suro yang menggunakan tata cara yang berbeda-beda disetiap daerahnya.

Perbedaan tersebutlah yang membuatnya menjadi unik dan perlu untuk diketahui. Keanekaragaman ini, menjadi salah satu pesona yang bernilai tinggi bagi masyarakat Indonesia. Bulan Suro merupakan penanggalan Jawa yang bertepatan dengan Bulan Muharram dalam Kalender Hijriyah.

Banyak pandangan masyarakat Jawa terkait bulan Suro. Salah satunya adalah anggapan bahwa bulan Suro merupakan bulan yang keramat, terlebih jika 1 Suro jatuh pada hari Jumat Legi.

Menyambut Bulan Suro

Peringatan Bulan Suro di setiap daerah khususnya di Pulau Jawa, memiliki tata cara yang berbeda. Termasuk di Desa Kedungjati, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.  Masyarakat Desa Kedungjati sering menyebut Bulan Suro menjadi Bulan Sura (Bahasa Ngapak).

Sedangkan untuk tradisi yang ada di Bulan Suro disebut sebagai Suran. Tradisi ini menjadi salah satu tradisi yang masih dilestarikan sampai sekarang. Tradisi Suran di Desa Kedungjati selalu diperingati dengan diadakannya penampilan kesenian wayang yang dijalankan oleh seorang dalang. Sebenarnya penampilan ini biasa saja. Hal ini karena daerah lain juga banyak yang mengadakan acara ini.

Tradisi dalam Menyambut Bulan Suro di Desa Kedungjati

Penampilan wayang kulit di daerah Jawa memang bukan suatu hal yang unik. Bahkan penampilan wayang ini tergolong penampilan yang biasa saja bagi masyarakat Jawa. Hal ini dikarenakan masyarakat Jawa sudah biasa dengan penampilan wayang kulit.

Namun, di Desa Kedungjati ada yang unik dan berbeda dari daerah lain. Menurut kepercayaan masyarakat, Desa Kedungjati merupakan  salah satu desa yang menjadi tempat tinggal oleh Sunan Buyut Saringan. Seorang prajurit Pangeran Diponegoro yang menjadi mata-mata menyamar menjadi orang biasa.

Sunan Buyut Saringan merupakan orang yang berpengaruh di kalangan masyarakat. Ia membangun tempat ibadah dan sendang untuk bersuci. Sendang tersebut digunakan oleh masyarakat  sampai sekang untuk mandi sebelum berdoa di makam Sunan Buyut Saringan.

Tradisi tersebut biasanya juga dijalankan oleh dalang-dalan yang akan pentas di Desa Kedungjati. Mereka mandi/bersuci di telaga makam Sunan Buyut Saringan sebelum pentas. Hal ini dipercayai masyarakat jika dalang tersebut terlebih dahulu ke makam Sunan Buyut Saringan makan akan semakin terkenal.

Tradisi ini juga dilakukan oleh Ki Dalang Manteb yang pernah pentas di Desa Kedungjati. Sebelum pentas, Beliau ke makam Sunan Buyut Saringan. Sesampainya di gerbang, Baliau langsung berjalan jongkok seperti orang yang sedang memasuki sebuah kerajaan.

Sesampainya di makan Beliau wudhu kemudian melakukan sholat. Setelah selesai ia pun jalan jongkok seperti dalam sebuah kerajaan.  Kepercayaan dan tradisi tersebut hanya ada di Desa Kedungjati, Sempor. Hal tersebutlah yang menjadikan tradisi suran lebih unik dan berbeda dengan tradisi di daerah lainnya.

Semoga tradisi dalam menyambut Bulan Suro tersebut bisa dilaksanakan terus menerus. Sehingga, generasi yang akan datangpun dapat menikmati dan berperan langsung dalam melestarikan budaya tersebut.

Selain itu, dengan adanya pengenalan budaya ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dan menambah pengetahun serta menginspirasi dan dapat menjadikan tradisi ini sebagai salah satu keaneka ragaman budaya yang nyata adanya di masyarakat Jawa, khususnya Desa Kedungjati.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tradisi Menyambut Bulan Suro. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Hikmatul Fisa Yasinta ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Keunikan Menyambut Bulan Suro di Desa Kedungjati"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel