Lahirnya Gotong Royong Melahirkan Indonesia


Dilihat dari perspektif atau sudut pandang sejarah, Indonesia terlahir atas tumbuhnya semangat kemerdekaan dan uluran tangan dari berbagai pihak. Dalam perspektif lain, daerah wilayah Indonesia dibangun atas dasar gotong royong ribuan pulau dan lautan, sedangkan titik awal atau gerbang kemerdekaan juga dibangun atas dasar gotong royong yang dilakukan oleh berbagai suku, ras dan agama di nusantara, juga para cendekiawan moderat.

Gotong royong merupakan istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kegiatan masyarakat Indonesia yang saling bantu membantu, bahu membahu, atau bersama-sama menuntaskan pekerjaan dengan sukarela atau tanpa imbalan sepeserpun.

Dalam Bahasa jawa, istilah gotong royong biasa dikenal dengan kata “Sambatan”. Di Lamaholot NTT gotong royong juga disebut dengan istilah “Gemohing”, dan di Sukabumi Jawa Barat juga dikenal istilah “Liliuran” yang merujuk pada kebudayaan gotong royong.

Di daerah nusantara yang lain juga memiliki istilah lain yang merujuk pada kebudayaan gotong royong. Dari banyaknya perbedaan istilah penyebutan budaya gotong royong di Indonesia mengindikasikan bahwa budaya gotong royong merupakan budaya lahiriah dan batiniah bangsa Indonesia.

Ratusan tahun yang lalu di nusantara terdapat banyak kerajaan dari ujung barat sampai ujung timur. Namun karena adanya perang antar kerajaan, perang antar saudara, dan adu domba yang dilakukan VOC  menyebabkan nusantara benar-benar terpecah belah dan luluh lantah. Sehingga munculah imperialisme dan kolonialisme barat yang kita kenal dengan kata “Penjajahan”.

Setelah sekian lama dan berabad-abad nusantara dijajah, akhirnya muncul cendekiawan-cendekiawan dan tokoh-tokoh nusantara yang tersebar di sudut-sudut nusantara. Merekalah yang mengembalikan kepercayaan persatuan dan menumbuhkan semangat gotong royong untuk mengusir penjajah dari tanah nusantara.

Budaya gotong royong dan Indonesia adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan lahirnya budaya gotong royong di tengah-tengah nusantara, memacu dan menyebabkan lahirnya bangsa  Indonesia yang terdiri dari banyak latar belakang suku, ras dan agama di nusantara.

Jika deteliti lebih dalam dan lebih luas, sebenarnya budaya gotong royong ini hampir ada diseluruh jati diri suku, ras dan agama di Indonesia. Walaupun pada saat ini budaya gotong royong semakin terkikis oleh ego, kepentingan dan ekonomi masing-masing rakyat, namun diberbagai daerah budaya ini masih sangat kental dilakukan.

Hal ini tercermin dalam tata cara mereka membangun rumah. Dalam proses mendirikan, memasang genting dan mengayam bilik-bilik bambu rumah dapat dikatakan tidak mengeluarkan uang sepeserpun.

Hal ini dikarenakan mereka menggunakan sistem saling bantu bergantian. Hanya saja konsumsi dibebankan kepada pemilik rumah yang sedang dibangun. Selain itu juga masih banyak kegiatan lain yang dilakukan secara gotong royong, seperti saat hajatan pernikahan masyarakat akan melakukan rewangan atau membantu menyiapkan segala urusan hajatan.

Selain kegiatan tersebut, contoh lain dari kegiatan gotong royong adalah seperti bekerjasama membuka lahan, membangun jembatan dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Mereka melakukan semua itu secara sukarela dan tidak diberi upah uang. Karena upah yang akan mereka dapatkan adalah bantuan dari orang yang mereka bantu.

Suku-suku pedalaman di Indonesia yang dapat dikatakan benar-benar pribumi asli nusantara, notabene tidak mengerti apa itu Indonesia, apa itu persatuan dan kemerdekaan, apa itu gotong royong pun mereka tidak tahu.

Tetapi mereka menggunakan sistem gotong royong dalam kehidupan mereka. Mereka tidak bekerja sendiri dalam membuka lahan dan bercocok tanam, berburu, membangun rumah dan masih banyak hal-hal yang lain lagi.  Mereka selalu bersama-sama dalam bekerja dan melakukan sesuatu.

Pada saat ini dan puluhan tahun yang lalu, dalam beberapa sistem pemerintahan Indonesia sendiri juga menggunakan asas gotong royong dalam penerapan peraturan dan kebijakannya. Pajak adalah salah satu program pemerintah yang menerapkan sistem gotong royong untuk mengisi kas pendapatan negara.

Sistem yang sering kali diabaikan oleh banyak masyarakat ini sebenarnya bertujuan untuk memeratakan pembangunan dan pendidikan di Indonesia. Secara tidak langsung masyarakat yang taat membayar pajak telah bergotong royong untuk membangun jalan, jembatan, sekolah, dan fasilitas-fasilitas umum lainnya di nusantara.

Di dalam lingkungan yang lebih kecil, misalnya lingkungan kelas sebuah sekolah. Siswa-siswi kelas biasanya akan iuran untuk membeli alat-alat kebersihan, seperti sapu, serok sampah, alat pel, dan lain-lain.

Terkadang jika terjadi musibah ataupun bencana alam yang terjadi di suatu daerah mereka juga berinisiatif untuk menyumbangkan sedikit uang jajan ataupun barang-barang mereka yang masih layak pakai ke daerah tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa sifat dan budaya gotong royong untuk kepentingan bersama telah tertanam dan tumbuh dihati anak-anak Indonesia sejak kecil.

Budaya gotong royong yang mengakar pada masyarakat Indonesia mampu menciptakan ciri khas tersendiri. Budaya inilah yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia yang terkesan Individualis. Melalui gotong royong kehidupan rakyat menjadi lebih ringan. Rakyat hidup makmur dan sejahtera. Dan melalui gotong royong pula nusantara terlahir dengan nama Indonesia.

Nah itulah tadi artikel mengenai Makna Gotong Royong yang ditulis oleh Ghufron Mubarok. Semoga tulisan ini dapat dijadikan rujukan bagi pembaca dalam memahanmi fenomena sosial yang ada di Indonesia. Sekian, Terimakasih.

3 Responses to "Lahirnya Gotong Royong Melahirkan Indonesia"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel