Mengembangkan Lukisan Kulit Kayu Kampung Asei, Sentani Jayapura Papua di berbagai Negara


Latar Belakang 

Sumberdaya alam adalah semua yang terdapat di alam ( kekayaan alam ) yang dapat di manfaatkan oleh manusia untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Papua merupakan daerah yang kaya dengan sumberdaya alamnya, berdasarkan ketersediaanya sumberdaya alam terbagi dalam dua bagian yaitu sumberdaya alam yang di dapat di perbaharui dan sumberdaya alam yang tidak dapat di perbaharui.

Pada era globaisasi ini kita dapat melihat banyak hal yang timbul dari pengaruh globalisasi mulai dari pemenuhan ekonomi hingga sumber  daya alam,dari isu yang dapat dilihat dijudulnya yaitu terkait ”Lukisan Kulit Kayu”yang juga merupakan salah satu cabang dari seni rupa yang tercipta dari hasil imajinasi seniman tetapi juga Sumbe Daya alam yang memadai. 

Dunia semakin menyadari bahwa eksploitasi sumber daya alam hanya berorientasi pada ekonomi kini dan yang akan datang dan membawa efek positif,tetapi juga menimbulkan efek negatif bagi masyarakat dan juga sumber daya alam atau lingkungan alam sekitarnya.

Dalam beberapa tahun ini, banyak informasi yang menyangkut seni lukis dari kampung Asei, Danau Sentani, Kabupaten Jayapura Yang sangat terkenal.


Pembahasan

 A. Isi  
Kampung Asei adalah salah satu kampung yang berada di Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi  Papua yang memiliki sumber daya alam yang  melimpah dengan mata pencaharian sebagai petani, nelayan, pekerja seni dan sebagainya.

Kulit kayu khombouw adalah salah satu kekayaan  alam yanng sering diambil dan diproduksi untuk lukisan kulit  kayu tersebut dimana lukisan ini bukan lukisan yang terkenal dulunya, tetapi seiring perkembangan waktu.

Zaman lukisan ini menjadi salah satu ikon utama dan diperkenalkan kulit kayu  tersebut kepada beberapa pengunjung luar negeri asal perancis yang berlayar mengelilingi laut papua dan kebetulan berada di Jayapura dengan kapal turisnya, dari penawaran ini akhirnya dari masa ke masa, lukisan kulit kayu ini ternyata jadi lukisan yang indah di belahan dunia itu karena pokok utamanya adalah dari lingkungan alam sekitar.

Disini awalnya lukisan kulit kayu ini tidak mendapat perhatian khusus oleh pemerintah tetapi seiring berjalannya waktu dan pengaruh dari globalisasi akhirnya lukisan kulit kayu ini pun menjadi ikon terpenting bagi pemerintah karena menguntungkan bagi masyarakat dan juga pemerintah tetapi belum diakui oleh Organisasi intenasional sebagai Aset Budaya Intenasional. 

B.   Analisis

Desa Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura terkenal dengan lukisan kulit kayu yang unik yang bahan utamanya di dapat di lingkungan alam sekitar dapat di ketahui bahwa Festival Danau Sentani yang saat ini di gelar untuk ke-sebelas kalinya memang di maksudkan untuk menghargai keberagaman masyarakat dan hasil sumberdaya alam setempat.

Penduduk desa Asei selain bertani, nelayan mereka juga memiliki keahlian khusus yang berbeda dengan masyarakat sentani lainnya. Salah satu mata pencaharian tambahan bagi masyarakat Asei setempat adalah dengan melirik lingkungan alam sekitar untuk menjadikan satu bahan dalam mata pencaharian mereka salah satunya adalah dengan menebang pohon khombouw, kayu kering yang di bakar menjadi arang untuk membuat bahan tekstil warna hitam, sari buah merah untuk warna merah, batu kapur untuk warna putih, kunyit untuk  warna kuning.

Lukisan kulit kayu ini pun menjadi salah satu pusat perhatian bagi pemerintah kabupaten Jayapura dan juga pemerintah Indonesia. Lukisan pada kulit kayu ini awalnya di buat hanya untuk memenuhi tradisi dan budaya setempat karena lukisan yang berasal dari sumberdaya alam ini sudah turun temurun dari para leluhur kampung Asei.

Kemudian dalam beberapa dekade lukisan ini sempat punah tetapi seiring perkembangan waktu pengaruh globalisasi lukisan kulit kayu ini mulai kembali di orientasikan. Pada tahun 2017, dua orang perempuan asal kampung Asei Martha Ohee dan corry  mengikuti pameran seni lukis bahan dasar kulit kayu tingkat  nasional di Jakarta dan pameran se-Asia di Singapura.

Dimana selama pameran berlangsung ternyata banyak orang dari berbagai negara yang minati lukisan kulit kayu tersebut antara lain Jerman, Perancis, Amerika. Banyak wisatawan yang berkunjung ke kampung Asei hanya untuk membeli dan melihat proses kerja dari lukisan kulit kayu ini.

Harga dari lukisan kulit kayu ini mulai dari lima puluh ribu sampai jutaan. Lukisan kulit kayu tersebut juga merupakan salah satu lukisan budaya dari kampung Asei yang masih tersimpan sangat rapih di sejumlah museum museum besar di Eropa salah satu budayawan berkebangsaan Eropa Prof  Jack Hoogerbruge, mengumpulkan sejumlah foto foto tersebut di sejumlah Eropa dan membuat buku tentang lukisan kayu tersebut.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan ide dasar pencipta karya pelukis dengan bahan alami ini adalah kehidupan sehari hari masyarakat kampung Asei, bahan yang di gunakan adalah berasal dari lingkungan alam mulai dari kulit kayu hingga pensil pelukis. Lukisan ini sudah terkenal hingga mancanegara dan di pamerkan di pameran nasional dan internasional.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Lukisan Kulit Kayu Kampung Asei. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Djoice Menufandu ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih


DAFTAR PUSTAKA
 

  • https://www.researchgate.net/publication/321264182_EKONOMI_SUMBERDAYA_ALAM_DAN_LINGKUNGAN_ESDAL_Teori_Kebijakan_dan_Aplikasi_bagi_Pembangunan_Berkelanjutan
  • https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/gambar-kehidupan-di-kulit-kayu
  • https ://dosen ekonomi.com/ilmu_ekonomi/teori-perdagangan-internasional/merurut-para ahli di a
  • Interview langsung kepada Corry dan Martha Ohee pada saat berkunjung ke kampung Asei,sentani timur,kabupaten Jayapura (Mei 2018)
















0 Response to "Mengembangkan Lukisan Kulit Kayu Kampung Asei, Sentani Jayapura Papua di berbagai Negara"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel