Ma'nene : Memaknai Kematian dengan Sebuah Tradisi



Ma'nene begitulah sebutan untuk sebuah upacara adat yang erat dengan unsur mistis ini. Ma'nene dapat dijumpai di Kabupaten Toraja Utara pada Juli hingga puncaknya pada Agustus. Ritual tersebut dilakukan usai musim padi tiap tiga tahun sesuai kesepakatan para pemuka adat.

Mayat-mayat dikeluarkan dari tempat penyimpanan lalu dibersihkan dengan kuas untuk kemudian dipakaikan pakaian baru dan mewah. Tak berhenti begitu saja sebelum kembali dimasukkan ke dalam peti, jenazah tadi akan dijemur di bawah terik sinar matahari untuk dikeringkan.

Agar jasad tersebut tetap awet. Selain mengganti pakaian mayat, ritual ini juga diikuti oleh ritual pemotongan hewan kerbau dan babi sebagai bentuk persembahan.

Tradisi ini sangat unik karena tiap orang yang melaksanakannya diharuskan bersuka cita saat melakukan tiap prosesinya. Selesai menggantikan pakaian leluhur, masyarakat kemudian berkumpul untuk makan bersama.

Hidangan yang disajikan berupa hasil sumbangan setiap keluarga keturunan leluhur yang melaksanakan upacara Ma'nene. Usai makan, acara dilanjutkan dengan temu kangen antar anggota keluarga besar yang pada hari-hari biasa terpisah-pisah. Terkadang, jenazah juga “dilibatkan".

Selain dilakukan sebagai bentuk penghormatan pada roh leluhur para Suku Toraja, upacara Ma'nene juga bertujuan agar kerabat yang berada jauh di perantauan tetap baik ikatan persaudaraannya dengan saudara di kampung halaman dan ingat terhadap leluhurnya.

Tradisi ini sendiri berawal dari sebuah kisah dari tanah Toraja yang mengisahkan seorang yang bernama Pong Rumasek yang menemukan sesosok mayat tak terawat yang hanya menyisakan tulang-belulang.

Tak sampai hati iapun memakaikan pakaiannya pada mayat tadi kemudian memindahkannya ke tempat layak. Sesampainya di rumahnya, Pong Rumasek terkejut karena mendapati lahan pertaniannya sudah siap panen, padahal seharusnya belum waktunya. Dari situlah tradisi ini berawal dan berkembang.

Mereka tak pernah menganggap bahwa leluhurnya telah benar-benar pergi dan kehilangan ikatan dengan mereka. Mereka percaya masih ada kasih sayang diantara mereka walaupun raga leluhur mereka hanya menyisakan tulang belulang.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tradisi Ma'nene. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Nabilla Zahwa ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

2 Responses to "Ma'nene : Memaknai Kematian dengan Sebuah Tradisi"

  1. Artikel yang bagus. Meski kurang menarik penjelasannya. Dengan kata lain penjelasannya kurang epik

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel