Masyarakat Adat Cireundeu


Cireundeu mempunyai asal nama dari “Pohon Reundeu”, karena dahulu kampung ini mempunyai banyak sekali pohon reundeu. pohon itu adalah pohon yang biasanya digunakan untuk bahan obat herbal. 

Maka dari itu kampung ini di sebut Kampung Cireundeu. Kampung Adat ini terdapat di daerah Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi, Jawa Barat 40532
Kepercayaan dan Istiadat

Masyarakat adat Cireundeu masih memegang teguh kepercayaan, kebudayaan serta adat istiadatnya. Masyarakat adat ini memiliki prinsip “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman” arti kata dari “Ngindung Ka Waktu” ialah kita sebagai warga kampung adat memiliki cara, ciri dan keyakinan masing-masing. Sedangkan “Mibapa Ka Jaman” memiliki arti masyarakat Kampung Adat Cireundeu itu mengikuti alur, mengikuti jaman tidak terpaku ke jaman tradisional saja, tetapi ke jaman modern juga.

Masyarakat Adat ini mempunyai daerah yang selalu diingat sejak zaman dulu dan harus dilakukan maupun dijaga keadaannya, yaitu suatu daerah itu terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:


  1. Leuweung Larangan (hutan terlarang) yaitu hutan yang tidak boleh ditebang pepohonannya karena bertujuan sebagai penyimpanan air untuk masyarakat adat Cireundeu khususnya.
  2. Tutupan (hutan reboisasi) yaitu hutan yang dapat digunakan untuk masyarakat sekitar. Masyarakat disana boleh menggunakan hutan tersebut. Tetapi ada syaratnya masyarakat tersebut setelah menggunakan hasil dari hutan tersebut harus menanam kembali pohon-pohon yang baru.
  3. Baladahan (hutan pertanian) yaitu hutan yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk berkebun. Biasanya hutan itu ditanami oleh jagung, kacang tanah, singkong atau ketela, dan umbi-umbian.


Kehidupan Sosial

Masyarakat kampung adat Cirendeu sama seperti masyarakat pada umumnya yang mengikuti perkembangan zaman. Tetapi, masyarakatnya masih menerapkan adat istiadat yang selama ini berlangsung di kampung tersebut.

Contohnya seperti ketika sakit, disana masih mendahulukan pemberian dedaunan yang di percaya dapat mengobati dari pada membawa orang sakit ke dokter, hal ini dikarenakan obatan dari dokter mengandung bahan kimia.

Ketika di rasa dedaunan tidak berefek maka barulah mereka membawanya ke dokter. Sebagai contoh, yaitu pada saat melahirkan. Masyarakat dahulu mereka tidak pergi ke rumah sakit. Namun, mereka melahirkan dengan bantuan Paraji atau Indung beurang (Dukun bayi). Dan ketika memotong tali pusarpun menggunakan bambu tipis atau yang biasa disebut oleh masyarakat sunda hinis.

Seperti kampung adat lainnya, Masyarakat Adat Cireundeu juga sering melakukan upacara adat, baik itu upacara pernikahan, kematian ataupun kelahiran dan yang paling besar biasa dilakukan tiap tahun yaitu Syura’an atau tahun baru saka. Tahun baru saka dilakukan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat adat kepada Tuhan yang MahaKuasa atas nikmat yang telah diberikan.

Mata Pencaharian di kampung adat Cirendeu, mayoritas penduduknya lebih dekat dengan alam. Namun, sejauh apapun zaman, tetap diikuti. Dalam segi pendidikan, anak adat disini pun sudah ada yang jadi sarjana.

Karena pendidikan itu kebutuhan. Sebagian besar aktivitas kampung adat Cirendeu yaitu petani, berkebun, namun ada juga yang menjadi guru, dosen, dll. Berbeda dengan di Baduy. Jika disana, sekolah pun tidak. Menurut masyarakat tersebut, hal seperti itu cukup baik untuk adat sendiri.

Karena ada sebuah ketakutan, jika anaknya mempunyai jabatan, maka dikhawatirkan akan lupa terhadap adatnya. Mungkin setiap masyarakat adat itu mempunyai ciri-ciri masing-masing.
Kata salah satu masyarakat disana semenjak lahir tidak pernah memakan beras, namun memakan singkong.

Proses pengolahannya tidak hanya dikukus ataupun digoreng saja. Namun, singkong digiling, sesudah digiling di peras, lalu dijemur. Sari patinya diendapkan untuk mendapatkan aci atau tepung kanji.

Yang dimakan itu ampas dari hasil perasan singkong tersebut. Setelah dijemur lalu digiling, pada zaman dahulu masih ditumbuk. Setelah itu, hasil gilingan singkong tersebut dimasak seperti nasi pada umumnya.

Di era millenia ini Masyarakat Adat Cirendeu sudah mengalami perubahan dalam bidang tekhnologi komunikasi banyak orang yang sudah menggunakan Handphone, anak SD kelas 5-6 sudah biasa menggunakan Handphone dibandingkan bermain bersama teman-temannya, kecuali anak-anak yang masih kelas satu mereka masih bermain tradisional seperti ucing sumput dan ucing udag.

Pendidikan disana pun sudah menggunakan tekhnologi seperti gurunya sudah menggunakan laptop sebagai media belajar. Hal penting yang masih melekat untuk diajarkan di Sekolah supaya tidak melupakan adat istiadatnya yaitu budi pekerti.

Berikut tadi adalah tulisan mengenai Masyarakat Adat Cireundeu. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Nur Fitri Syahidah ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

3 Responses to "Masyarakat Adat Cireundeu"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel