Mayat di Atas Tanah dengan Ribuan Tengkorak di Sekelilingnya


Kematian sebagai akhir kehidupan

Kematian adalah berhentinya semua fungsi kehidupan. Setelah napas, detak jantung, dan kegiatan otak berhenti, daya hidup lambat laun berhenti berfungsi dalam sel-sel tubuh. Kematian adalah akhir dari kehidupan, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami mati. Setiap makhluk juga tidak mengetahui kapan dia akan mati. Kematian adalah bagian dari setiap makhluk yang tidak mungkin bisa dihindari.

Ritual dalam kematian manusia biasa disebut dengan pemakaman. Di beberapa daerah, pemakaman biasanya hanya dilakukan dengan cara dikubur di dalam tanah. Setiap kelompok masyarakat, tentu memiliki tradisi yang berbeda dalam melaksanakan ritual kematian.

Sebagai contoh, di daerah Bali ritual pemakaman dilakukan dengan cara membakar jenazah yang biasa disebut Ngaben. Ngaben tidak selalu dibakar, Ngaben yang tidak melalui proses pembakaran diselenggarakan di Desa Trunyan, Kintamani. Di sana jenazah tidak dibakar, akan tetapi disiram dengan air.

Di Desa Trunyan, jenazah tidak dikubur atau dikremasi seperti yang umumnya terjadi di wilayah Bali, masyarakat Desa Trunyan menyimpan jenazah kerabatnya yang telah meninggal di atas tanah dengan ditutupi kain dan bambu yang disusun membentuk prisma yang disebut ancak saji. Inilah salah satu ritual kematian dan kuburan unik yang terkenal di Bali berlokasi di desa kuno bernama Trunyan.

Masyarakat Bali Mula atau Bali Aga yang menetap di desa ini memiliki tradisi upacara kematian Trunyan yang unik.

Tradisi unik di Desa Trunyan ini dilakukan masyarakat setempat sejak dulu sampai sekarang, yakni dengan meletakkan jenazah di atas tanah tanpa dikuburkan yang disebut Mepasah de Sema Wayah. Tradisi unik ini sangat dikenal oleh masyarakat lokal dan wisatawan mancanegara sehingga menjadi daya tarik pariwisata. Posisi jenazah berjejer bersanding dengan yang lainnya, lengkap dengan pembungkus kain sebagai pelindung tubuh di waktu prosesi.

Mengapa jenazah di sana tidak dikubur di dalam tanah?

Ritual ini pertama kali dilakukan karena kebijakan yang ditetapkan oleh Raja. Dia ingin rakyat hidup aman dan tenteram serta terhindar dari ancaman luar. Oleh karena itu, ia memerintahkan rakyatnya untuk menghilangkan bau harum menyengat yang dihasilkan oleh pohon tarumenyan.

Sejarah dari ritual ini sulit dilacak sejarah, jadi mitos yang memberitahukan bagaimana sejarah dari ritual ini. Salah satu mitos yang paling terkenal dan masih berlanjut sampai sekarang adalah cerita Ratu Sakti Pancering Jagat.

Setelah menjadi suami dari Sang Dewi, Pangeran Sulung mendapatkan gelar Ratu Sakti Pancering Jagat dan istrinya bergelar Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar. Mereka memimpin Desa Trunyan dengan arif dan bijaksana.

Lama-kelamaan desa tersebut berkembang menjadi kerajaan kecil. Sebagai raja yang arif dan bijaksana maka ia menginginkan agar kehidupan rakyatnya tenteram dan damai tanpa ada gangguan.

Sang Raja memerintahkan kepada rakyatnya untuk menghilangkan bau harum menyengat yang dihasilkan oleh pohon tarumenyan. Dia mencari cara untuk menghilangkan bau tersebut. Dia membuat kebijakan dengan meletakkan jenazah di bawah pohon tarumenyan sehingga tidak ada orang yang tertarik lagi terhadap bau yang dikeluarkan oleh pohon tarumenyan.

Sejak saat itulah, setiap penduduk Trunyan yang meninggal, jenazah mereka hanya dibiarkan membusuk di atas tanah di bawah pohon tarumenyan. Karena bau busuk itulah Desa Trunyan tidak lagi mengeluarkan bau harum menyengat. Demikian pula sebaliknya, jenazah-jenazah penduduk Trunyan juga tidak mengeluarkan bau busuk.

Siapa saja yang boleh dimakamkan di sana?

Pada awalnya ritual kematian Mepasah berlaku bagi semua orang yang tinggal di Desa Trunyan. Seiring berjalannya waktu, ternyata terdapat beberapa aturan mengenai siapa saja orang yang dimakamkan dengan ritual Mepasah. Ada beberapa kriteria mengenai siapa saja yang diperbolehkan dimakamkan dengan cara Mepasah di Desa Trunyan.

Dalam kehidupan masyarakat Trunyan terdapat tiga faktor utama untuk dapat menjalani hidup dengan baik, yaitu dengan kelahiran dengan proses tradisi Trunyan, proses perkawinan yang baik, kehidupan moral yang baik, dan meninggal dalam keadaan fisik yang utuh.

Faktor ini menjadi indikator pengukur untuk dapat menentukan apakah hidup orang tersebut sempurna atau tidak sehingga ketika meninggal dapat dikuburkan di kuburan yang paling suci atau tidak. Warga Trunyan mengatur upacara khusus untuk yang meninggal dalam keadaan yang sempurna baik fisik, moral, jiwa, dan bagi yang meninggal dalam keadaan tercela.

Bagi orang yang meninggal dalam kondisi cacat fisik dan jiwa yang kurang baik, akan diadakan upacara penyucian dosa. Seperti orang yang meninggal dalam keadaan kecelakaan, bunuh diri, atau terlibat dalam suatu perkelahian yang mengakibatkan kematian dan kondisi fisik yang tidak baik seperti bertato dan mempunyai bekas luka, serta moral hidupnya tidak baik.

Upacara penyucian dosa tidak berlaku bagi orang-orang yang meninggal dalam keadaan tubuh fisik yang baik, moral dan jiwa yang baik pula. Untuk menentukan moral dan jiwa orang yang meninggal baik atau tidak, maka pemangku adat menjadi pusat utama dari upacara tersebut, karena pemangku sebagai “penerima” perantara antara masyarakat dan dewa-dewa yang dipercaya oleh masyarakat Trunyan.

Melewati upacara “nerima” ini, masyarakat Trunyan percaya dewa-dewa akan memberitahukan apakah moral dan jiwa orang yang meninggal tersebut baik atau buruk, sehingga hal ini menjadi patokan bagi keluarga dan masyarakat, jenazah tersebut dikuburkan di kuburan utama (Sema Wayah) atau tidak.

Main yuk, ke desa seribu tengkorak!

Dengan tradisinya yang unik dan hanya ada satu-satunya di dunia, maka kita sebagai warga negara Indonesia sudah sepatutnya bangga dengan tradisi tersebut. Dengan menjadikan Desa Trunyan sebagai salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi ketika pelesiran ke Pulau Dewata. Karena Pulau Dewata tidak hanya indah pantainya, tapi juga unik dengan ribuan budaya dan adat-istiadat yang ada di dalamnya.

Bagi wisatawan yang tertarik untuk menuju ke Desa Trunyan Bali pun sangat gampang. Desa Trunyan ini berada di tepi Danau Batur Kintamani. Untuk menuju ke sana, traveler pun tinggal menyewa perahu yang ada di Dermaga Kedisan. bekisar antara Rp.50.000,00 hingga Rp.100.000,00 dengan kapasitas untuk lima orang. Perjalanan naik perahu menuju Trunyan butuh waktu kurang lebih tiga puluh menit.

Selama perjalanan kita juga bisa melihat indahnya pemandangan Bali dari sudut pandang yang berbeda. Selain pemandangan bak lukisan itu, beberapa warga yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan berkebun akan terlihat sepanjang perjalanan. Nah, karena keunikan desa ini, kita wajib banget untuk menjadikan Desa Trunyan sebagai destinasi wisata yang wajib dikunjungi ketika pelesiran ke Pulau Dewata.

Itulah tadi artikel yang ditulis oleh Rosdiana Fajrin Permatasari salah satu Siswa SMA Pradita Dirgantara. Semoga bermanfaat!

0 Response to "Mayat di Atas Tanah dengan Ribuan Tengkorak di Sekelilingnya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel