Memperkenalkan Drama Tari Jawa Langendriyan dan Kekhasannya


Pendahuluan 

Tradisi seni teater Nusantara telah berkembang cukup lama. Bentuk pertunjukan itu banyak yang memiliki konvensi tradisi yang masih berjalan hingga sekarang. Prof. Dr. H. Soediro Satoto menjelaskan bahwa drama bermula dari kegiatan ritual. 

Pada awalnya pertunjukan sebuah drama bermula dari ritual, bahkan hingga kini masih banyak upacara atau ritual yang memakai media drama. Bentuk drama ritual dan drama tradisional belum mengenal naskah seperti drama modern (lih : Satoto, 2016 : 64-65). 

Salah satu bentuk drama tradisional yang masih dapat kita jumpai adalah langendriyan. Langendriyan merupakan salah satu bentuk teater tradisi yang berkembang dalam tradisi kesenian di Jawa, khususnya di lingkup Surakarta-Yogyakarta. 

Langendriyan tidak sedinamis dan seterkenal pertunjukan Wayang Orang yang meluas keluar dari lingkup keraton-keraton Jawa. Langendriyan hanya dikenal di lingkup terbatas saja. 
Langendriyan memiliki bentuk yang cukup kompleks. 

Walaupun langendriyan adalah bentuk drama, namun harus dimainkan dengan bernyanyi atau menembang. Tembang yang dilantunkan sebagai dialog berbentuk puisi macapat yang terikat oleh aturan prosodi sastra. 

Selain itu seluruh pemain juga harus bergerak dalam bentuk tari. Hal ini yang mengakibatkan tidak banyak seniman yang mampu menggelar Langendriyan. Dalam tulisan ini, saya hendak menampilkan kekhasan Langendriyan berdasarkan struktur pembentuknya. 

Sekilas Sejarah Langendriyan 

Langendriyan bermula dari kehidupan para pembatik di rumah saudagar Belanda bernama Godlieb. Pada masa itu, para pembatik wanita sering bekerja sambil mendendangkan tembang-tembang macapat. Godlieb yang tertarik dengan tembang yang bersahut-sahutan itu hendak membuat semacam pertunjukan dengan media tembang itu. 

Atas prakarsa tersebut, para pembatik itu dilatih oleh R. M. H. Tandhakusuma, seorang bangsawan sekaligus mpu tari dari Mangkunegaran, Surakarta. Penciptaan Langendriyan itu pertama kali terjadi di masa kepemimpinan Mangkunegara IV di Mangkunegaran. 

Pertunjukan Langendriyan mengalami pasang surut di Mangkunegaran. Pada masa kepemimpinan Mangkunegara VII dilakukan pembenahan pada banyak kesenian termasuk Langendriyan. 
Ketika Indonesia mulai merdeka, perlahan-lahan Langendriyan mulai keluar dari dinding keraton. 

Langendriyan sampai sekarang masih terus dipelajari dan dikembangkan baik di dalam lingkup istana Mangkunegaran, maupun di luar lingkup istana itu. Lembaga-lembaga sanggar seni dan lembaga pendidikan formal seperti SMKI Surakarta dan ISI Surakarta juga memasukkan langendriyan dalam kurikulumnya. 

Penyajian Langendriyan 

Langendriyan menampilkan cerita dari Serat Damarwulan yang berlatar belakang kerajaan Majapahit. Lakon-lakon yang dibawakan antara lain Ranggalawe Gugur, Damarwulan Ngarit, Menakjingga Lena dan sebagainya. 

Lakon yang sampai sekarang paling sering dimainkan yaitu Menakjingga Lena. Durasi penyajian Langendriyan dewasa ini berkisar antara 30 menit hingga 2 jam tergantung lakon apa yang dibawakan. 

Pada awalnya Langendriyan dibawakan tiga orang penari yang berperan sebagai Damarwulan, Menakjingga, dan Dayun. Pada perkembangan berikutnya ditambah tokoh Wahita, Puyengan, Sabda Palon, dan Melik. 

Pada masa lalu, Langendriyan juga ditampilkan dengan jumlah pemain sangat banyak seperti wayang orang, lengkap dengan prajurit, patih, dan penari puteri taman. Durasi penyajiannya menjadi berjam-jam seperti wayang orang umumnya.

Langendriyan yang ada di lingkup Mangkunegaran, seluruh pemainnya adalah perempuan. Awalnya bentuk penyajian Langendriyan dengan menari sambil ndhodhok  atau berjalan jongkok. Busana yang dipakai berupa ageman kejawen  (lih Kholifah, 2018 : 33). 

Pada masa pemerintahan Mangkunegara VII, busana Langendriyan diubah seperti busana Wayang Orang. Cara menarinya juga diubah bukan dengan duduk, namun memakai ragam tari biasa. Pemeran Damarwulan memakai hiasan kepala berupa irah-irahan tekes, sedang pemeran Menakjingga memakai irah-irahan pogogan. 

Ketika Langendriyan mulai dipertunjukkan di luar lingkup istana Mangkunegaran, terdapat banyak perubahan mendasar. Seluruh penari tidak lagi ditarikan oleh perempuan, namun sesuai dengan gender masing-masing tokoh. 

Tokoh laki-laki dibawakan oleh penari laki-laki, dan tokoh perempuan dibawakan oleh penari perempuan. Bahkan pada beberapa pagelaran, lantunan tembang tidak lagi dibawakan oleh penari, namun oleh para waranggana.

Secara umum, kisah yang diangkat dalam Langendriyan bermula setelah lamaran Menakjingga, adipati dari Blambangan ditolak Ratu Kencanawungu. Beliau murka dan hendak menaklukan Majapahit. 

Kencanawungu mencari cara untuk mengalahkan Menakjingga. Adipati Ranggalawe kalah ketika diutus menaklukan Menakjingga. Akhirnya diutus Damarwulan, keponakan sekaligus menantu Patih Logender. 

Damarwulan berhasil masuk ke Blambangan dan bertemu istri Menakjingga, yaitu Wahita dan Puyengan. Kejadian itu dipergoki Menakjingga dan Dayun, abdinya. Damarwulan dikalahkan oleh Menakjingga, namun diberi pertolongan oleh Wahita dan Puyengan. 

Damarwulan diberi pusaka gada wesi kuning untuk membunuh Menakjingga oleh istrinya itu. Pada akhirnya Damarwulan berhasil membunuh Menakjingga. Kemudian secara Damarwulan pulang membawa kemenangan ke Majapahit. 

Rangkaian epos Damarwulan itu dipenggal menjadi beberapa lakon, antara lain Ranggalawe Gugur, Damarwulan Ngarit, Menakjingga Lena, dan Damarwulan Rabi. 

Struktur Drama dalam Langendriyan

Dalam drama, unsur utama yang ditekankan adalah tikaian atau konflik. Dalam realisasinya, tikaian itu akan ditampilkan melalui percakapan dan lakuan (lih Satoto, 2016 : 59). Untuk melihat struktur drama tersebut, maka hendaknya diamati melalui ujaran atau percakapan, serta melalui lakuan atau gerak pemain. 

Secara mudah, struktur Langendriyan dapat diamati melalui jalannya pagelaran. Pembabakan dalam pagelaran Langendriyan lebih mudah diamati bila ditampilkan dengan durasi panjang, dibanding dalam penyajian ringkas. 

Secara umum, struktur Langendriyan sama dengan teater modern, Wayang Orang, Kethoprak, atau sejenisnya. Pembabakannya menampilkan pembuka, munculnya konflik, puncak konflik, penyelesaian konflik, dan penutup.
 
Keadaan di masyarakat tari memberikan gambaran yang lebih dinamis. Langendriyan dewasa ini tidak lagi ditampilkan sama dengan naskah langendriyan yang ada dalam manuskrip-manuskrip atau buku terbitan seperti Serat Mandraswara  karangan R. M. H. Tandhakusuma. 

Masyarakat tari dewasa ini melakukan banyak perombakan dan penafsiran baru terhadap naskah asli yang telah dikenal itu. Penafsiran baru itu membuat alur cerita berubah-ubah. Naskah buatan R. M. H.

Tandhakusuma itu juga sudah tidak ditampilkan utuh, namun hanya sampai adegan Menakjingga dibunuh Damarwulan, disertai pemangkasan adegan. Ada kalanya dibuat semacam kilas balik ketika Menakjingga melamar Ratu Kencanawungu. Ada pula penggarapan Langendriyan dengan memulai alur cerita dari gugurnya Ranggalawe, lalu disambung ke lakon Menakjingga Lena. 

Struktur Puisi dalam Langendriyan

Yang dimaksud dengan puisi ialah teks-teks monolog yang isinya tidak pertama-tama merupakan sebuah alur. Selain itu teks puisi bercirikan penyajian tipografik tertentu (Luxemburk dkk, 1982 : 175).

Salah satu bentuk puisi yang dikenal dalam ranah budaya Jawa yaitu Macapat. Macapat menjadi salah satu genre puisi bertembang yang dikenal selain Kakawin, Kidung, Sekar Ageng.
Macapat merupakan salah satu bentuk puisi Jawa bertembang.

Macapat memakai bahasa Jawa Baru. Dalam penulisannya terdapat hukum-hukum yang wajib dipatuhi dalam Macapat. Hukum pertama yaitu guru gatra, yaitu jumlah baris tiap bait. Hukum kedua yaitu guru wilangan, yaitu jumlah suku kata tiap baris.

Hukum terakhir yaitu guru lagu, atau bunyi vokal akhir dalam tiap baris. Untuk memahami lebih dalam terkait struktur Macapat dapat melihat tulisan Karsono H. Saputra (lih Saputra, 2017 : 116-126).

Bentuk ujaran dalam Langendriyan memakai bentuk tembang Macapat. Walaupun masih ada perdebatan pada tembang-tembang tertentu seperti Girisa, Wirangrong, Balabak, dan sebagainya apakah masuk atau tidak ke dalam bentuk Macapat.

Namun secara umum isi ujaran dalam Langendriyan memakai tembang-tembang Macapat. Walau demikian berbeda dengan tradisi Langendriyan Yogyakarta yang mengenal dialog memakai Sekar Ageng seperti tembang Gondakusuma dan Patralalita. Coba perhatikan contoh dialog berikut :

“Menakjingga : Lah sira iku wong apa
wani malbeng taman sari ?
rupamu bagus taruna!
pinangkanira ing ngendi
lah sapa kang wewangi?
angakua mupung durung
palastra siya-siya!
baya tan kulak pawarti
lamun Bisma, lagya winongwong jawata? (Tandhakusuma, 1954 : 11)

Dalam kutipan teks itu memakai tembang berpola Sinom. Tembang Sinom memiliki pola yaitu 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12u. Struktur tersebut masih mematuhi hukum-hukum Macapat tradisional.


Struktur Musikal dalam Langendriyan

Dalam berbagai bentuk drama tradisi di Jawa, umumnya dikenal istilah pathet. Pathet mengacu pada sistem yang mengatur pengrawit atau penabuh gamelan memainkan alat musiknya atau menembang. Pathet berkaitan dengan tinggi rendahnya tingkat nada dalam laras  pada gamelan. Pathet juga menjadi acuan pembabakan pada pagelaran wayang  (lih Supanggah, 2007 : 226-232).

Pada penggarapan Langendriyan dewasa ini tampaknya tidak terlalu memperhatikan pathet. Gendhing-gendhing yang tecantum dalam tulisan R. M. H. Tandhakusuma disajikan dengan lebih singkat karena adanya pengurangan durasi pagelaran. Terkadang gendhing-gendhing itu diubah dan diganti dengan gendhing lainnya.

Langendriyan yang lumrah ditampilkan dewasa ini memakai gamelan Slendro. Gendhing-gendhing yang dipakai yaitu memakai pathet sanga. Namun ketika membuka tulisan R. M. H. Tandhakusuma akan tampak bahwa adegan yang banyak dipertunjukkan dewasa ini hanya mengandung 1/3 alur teks naskah asli.

Pada bagian awal teks itu mengandung gendhing-gendhing ber-pathet sanga antara lain Ladrang Dhandhanggula Subasiti, Ketawang Pangkur Dhudha Kasmaran, Ketawang Sinom Wenikenya dan sebagainya.

Pada bagian tengah teks ada pergantian ke pathet nem. Hal itu ditandai dengan gendhing seperti Ketawang Maskumambang, Ketawang Kinanthi Sandhung, dan sebagainya. Kemudian akhir teks memuat gendhing dengan pathet manyura seperti Ayak-ayak Manyura, Ketawang Gambuh, Ketawang Pocung dan sebagainya.

Secara umum akan tampak bahwa Langendriyan secara tekstual memiliki struktur musical sama dengan struktur pagelaran Wayang.

Struktur Tari dalam Langendriyan 

Dalam mengamati struktur tarian dalam Langendriyan, kita harus membandingkannya dengan bentuk tari non-teater. Struktur pembanding yang paling sesuai adalah struktur tari Wireng. Wireng secara umum terdiri dari maju beksa (masuknya penari), beksa (tarian pokok), dan mundur beksa (keluarnya penari) (lih Prihatin, 2007 : 129-131) Bagian beksa juga dapat dibagi menjadi kiprahan, enjer, perangan, dan sebagainya.

Dalam Langendriyan, penari akan masuk dengan menyembah sambil duduk jengkeng. Kemudian penari akan berjalan masuk dengan aneka ragam gerak. Tokoh yang melakukan ragam kiprahan hanya Menakjingga atau tokoh-tokoh dengan watak kasaran seperti Angkatbuta, atau lanyap seperti Menak Koncar.

Struktur perang dalam Langendriyan memiliki kesamaan yang tampak sangat mirip dengan genre Wireng dan juga Wayang Orang. Sebelum memasuki perkelahian, aka nada tahap enjer atau saling menantang dengan dialog tembang.

Struktur ini menjadi semacam konvensi tradisi dalam tari Jawa. Secara garis besar, struktur Langendriyan memiliki kemiripan dengan Wireng, namun Langendriyan memiliki struktur yang tampak lebih kompleks, serupa dengan Wayang Orang.

Kesimpulan 

Langendriyan merupakan bentuk drama tradisi yang memakai tembang sebagai wahana percakapannya. Langendriyan muncul dan berkembang dalam lingkup istana Mangkunegaran. Langendriyan memiliki ciri dramatik yang mirip dengan teater tradisi lainnya.

Secara puitik, tembang-tembang yang dipakai sebagai wahana dialog memakai bentuk Macapat, yaitu salah satu bentuk puisi bertembang. Secara musikal, Langendriyan memiliki struktur yang menyerupai pertunjukan Wayang.

Secara kepenarian, tari yang dipakai dalam Langendriyan memiliki kesamaan struktur dengan Wayang Orang dan Wireng.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tari Jawa Langendriyan. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Naufal Anggito Yudhistira ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih

0 Response to "Memperkenalkan Drama Tari Jawa Langendriyan dan Kekhasannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel