Mengenal Baratan, Festival Lampion Sambut Ramadlan dari Jepara

Setiap tanggal 15 Bulan Sya’ban diperingati ummat Islam sebagai Nishfu Sya’ban, malam Nishfu Sya’ban juga dikenal sebagai Laylatul Bara’ah, yang memiliki makna sebagai malam pengampunan dan pembebasan dari dosa.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yang kaya akan berjuta keindahan dan kebudayaan, tentunya memiliki tradisi tersendiri dalam memperingati hari-hari spesial keagamaan maupun kebudayaan, tak terkecuali malam nishfu sya’ban (kalender hijriyah), setiap daerah di Indonesia memiliki budaya yang unik dan khas, sehingga menarik untuk ditelusuri.

Salah satunya adalah tradisi di Kota Jepara Jawa Tengah, yang memiliki tradisi unik dalam merayakan malam nishfu sya’ban, di mana tradisi ini dikenal dengan Pesta Baratan.

Pesta baratan merupakan tradisi yang tahunan yang dilakukan oleh masyarakat kota Jepara, khusunnya kecamatan Kalinyamatan, yang berpusat di Desa Kriyan, Robayan, dan Bakalan. Kata Baratan sendiri diambil dari bahasa Arab baroatan yang memiliki arti lembaran, karena pada tanggal 15 Sya’ban (Nishfu Sya’ban) terjadi pergantian lembaran atas amalan yang telah dilakukan oleh umat Islam, yang memiliki kaitan erat menyambut datangnya bulan suci Ramadlan.

Pada malam nishfu sya’ban masyarakat melakukan penerangan yang meriah di berbagai sudut kampung dan masjid-masjid, yang berhiaskan lilin-lilin hingga impes (lampion khas Jepara), sambil melantunkan do’a bersama masyarakat yang tercipta dalam sebuah festival Baratan, atau Pesta Baratan.

Pesta baratan menjadi wadah ritual agama yang dibungkus dengan adat jawa yang kental. Dalam perayaanya, baratan tak melupakan nilai-nilai Islami yang terkandung dalam malam nishfu sya’ban, pesta baratan diawali dengan serangkaian do’a bersama sesudah shalat maghrib secara berjama’ah di masjid dengan pembacaan surat Yasiin sebanyak tiga kali dilanjutkan dengan shalat Isya’ berjama’ah, yang kemudian ditutup dengan do’a nishfu sya’ban.

Setelah melakukan do’a bersama masyarakat Jepara menyantap puli, atau yang biasa dikenal dengan istilah ‘sego puli’, yakni olahan dari bahan dasar beras dan ketan yang ditumbuk halus dan dimakan dengan kelapa bakar.

Nama ‘puli’ diambil dari bahasa Arab awfu lii yang memiliki arti maafkan aku, maksudnya adalah kita harus kembali bersih atau suci dari dosa-dosa untuk menyambut bulan Ramadlan dengan cara berdzikir dan beristighfar Kepada Allah swt.

Kental akan budaya Jawanya, baratan mengusung iring-iringan dengan tema Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin, tokoh pahlawan dari Kota Jepara. Ratu Kalinyamat merupakan seorang ratu (pemimpin) dari kerajaan Kalinyamat yang berada di tanah Jepara khususnya kecamatan Kalinyamatan, karena sebab itulah festival ini hanya diselenggarakan di Desa Kriyan, Robayan, dan Bakalan kecamatan Kalinyamatan, yang masih terlindung dalam wilayah kerajaan Kalinyamat.

Arak-arakan Ratu Kalinyamat dimeriahkan oleh para pemuda dengan berkeliling desa membawa obor keliling kampung, kegiatan berkeliling dengan obor ini dimaknai umat Islam sebagai upaya menyambut lembaran amal catatannya yang terang atau baik demi menyambut datangnya bulan suci Ramadlan.

Warga berkeliling desa dengan membawa obor dan impes sambil meneriakan yel-yel ritmis, yakni, “tong-tong jik tong jeder, pak kaji nabuh jeder”, selain yel-yel tersebut, warga juga melantunkan shalawat atas Nabi saw.

Dahulu warga Kalinyamatan membagi formasi arak-arakan menjadi lima barisan saja, namun kini festival baratan telah berkembang menajdi lebih menarik dengan berbagai bentuk formasi di dalamnya, yang terdiri dari enam belas formasi atau barisan.

Selain sebagai upaya untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri Kepada Sang Pencipta, pesta baratan juga menegnalkan berbagai macam bentuk kebudayaan lokal, misalnya adalah Barongan Dencong, Reog Ponorogo, Singo Ulung, dan Naga Leong. Semua Barongan tersebut ditampilkan pada barisan paling awal sebagai wujud perlawanan terhadap setan atau hal yang buruk yang diusir oleh Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin, karena umat Muslim hendak melaksanakan ibadah puasa Ramadlan.

Memegang kekhasan nusantara, masyarakat jawa pada umunya memiliki status budaya yang kental dan beragam, tercermin dalam pesta baratan ini, masyarakat tumpah ruah dan menyatu dalam balutan adat Jawa, yang digambarkan dalam pesta kostum, simbol, dan nyanyian-nyanyian yang kental dengan aroma ritual Jawa.

Tradisi baratan juga dikenal sebagai ritual penyucian jiwa bagi umat Islam menjelang bulan Ramadlan, yang menggambarkan semangat dan kekuatan dalam menjalani hidup, yang terangkum dalam ritual Baratan.

Festival Baratan menjadi salah satu ritual keagamaan dan kebudayaan yang dinanti oleh masyarakat Jepara setiap tahunnya, festival ini juga terukir dalam buku MURI (Museum Rekor Indonesia), yaitu dalam kategori karnaval dengan peserta pembawa lampion terbanyak. Hal ini menunjukkan antusiasme yang luar biasa oleh masyarakat dalam mengembangkan kebudayaan dan adat istiadat lokal.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Festival Baratan. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Lutfiyanti Axmi Reza ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

1 Response to "Mengenal Baratan, Festival Lampion Sambut Ramadlan dari Jepara"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel