Nilai Budaya dan Pengorbanan dalam Upacara Rambu Solo



Upacara Rambu Solo merupakan upacara adat yang berasal dari Suku Toraja, Sulawesi Selatan. Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan dengan jumlah penduduk sebanyak 231.519 jiwa pada 2017, menurut BPS.

Penduduk suku ini beragama mayoritas Kristen dan beberapa beragama Islam. Suku Toraja memiliki beberapa keunikan antara lain:


  1. Upacara Pemakaman Rambu Solo
  2. Ukiran Kayu
  3. Rumah Adat Tongkonan


Dari beberapa keunikan yang dimiliki suku Toraja, tradisi upacara pemakaman rambu solo sangat terkenal diantara para wisatawan, baik itu wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Upacara pemakaman rambu solo ini berbeda dari upacara pemakaman di tempat-tempa lain.

Karena upacara pemakaman ini dirayakan sangat meriah yang diiringi dengan suara nyanyian, musik dan puisi. Dibalik kemeriahan upacara pemakaman tersebut, keluarga biasanya harus menunggu berminggu-minggu, bulan hingga tahun agar dapat melaksanakan upacara tersebut karena biaya yang mahal.

Biaya yang mahal ini disebabkan banyaknya kerbau dan babi yang dipersembahkan dan lamanya upacara ini dilaksanakan. Dari perspektif ekonomi, biaya yang dikeluarkan dalam upacara rambu solo dapat disebut sebagai pemborosan, namun hal tersebut dianggap berbeda oleh masyarakat Toraja.

Masyarakat Toraja tidak menganggap biaya yang mereka korbankan dalam upacara rambu solo sebuah beban, sehingga sampai saat ini upacara rambu solo ini tetap dilestarikan oleh masyarakat. Masyarakat suku Toraja percaya bahwa terdapat nilai-nilai yang terkandung dibalik upacara rambu solo tersebut, antara lain:

1. Sebagai Bentuk Gotong Royong

Ketika sebuah keluarga akan melaksanakan upacara rambu solo mereka akan mengundang seluruh keluarga besar dan seluruh tetangga sekitar untuk meminta bantuan. Karena upacara ini besar, hewan yang dikurbankan pun banyak dan berlangsung beberapa hari mereka tidak akan mampu jika mempersiapkan upacara tersebut sendiri. Sehingga keluarga besar dan tetangga akan saling gotong royong untuk membantu terlaksanakannya upacara rambu solo tersebut.

2. Menunjukkan Status Sosial

Status sosial dalam masyarakat Toraja terbagi menjadi empat tingkat yaitu:
a. Tana’ Bulan yang merupakan golongan bangsawan
b. Tana’ Bassi merupakan golongan bangsawan menengah
c. Tana’ Kururung merupakan golongan rakyat biasa atau rakyat merdeka
d. Tana’ Kua-Kua yang merupakan golongan hamba

Dilihat dari banyaknya hewan yang dikurbankan, meriahnya pesta dan lamanya pesta diselenggarakan dapat menunjukan status sosial mereka. Mereka juga percaya bahwa semakin banyak hewan yang dikurbankan semakin lancar perjalanan arwah tersebut.

Contohnya keluarga golongan bangsawan tinggi dalam menyelenggarakan upacraa rambu solo, mereka akan membuat upacara sangat meriah dengan syarat minimal menyembelih 24 ekor kerbau hingga membuat patung yang mirip dengan orang yang meninggal.

3. Utang – Piutang

Utang-piutang dalam upacara rambu solo ini terjadi secara tidak langsung. Karena biaya yang dikeluarkan besar, sehingga setiap keluarga akan membantu dengan menyumbangkan apa yang mereka punya seperti seekor babi.

Bagi keluarga yang mengadakan upacara, sumbangan tersebut merupakan hutang budi yang harus mereka bayar ketika nanti keluarga mereka akan melaksanakan upacara. Jika mereka dulu menerima seekor babi, maka mereka wajib mengembalikan seekor babi juga sebagai bentuk balas budi.

Agar tidak melupakan sumbangan yang diterima, keluarga akan mencatat dengan teliti apa saja yang diterima dan dari siapa.

Upacara rambu solo dari Toraja merupakan salah satu dari jutaan tradisi atau kebudayaan yang dimiliki Indonesia. Dengan banyaknya kebudayaan yang dimiliki membuat Indonesia semakin indah dan beragam. Tidak hanya sekedar mengagumi, dengan mempelajari dan melestarikannya membuat seduah tradisi atau budaya tersebut tetap ada sampai kapanpun.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Upacara Rambu Solo. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Jelin Maulidiavitasari ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Nilai Budaya dan Pengorbanan dalam Upacara Rambu Solo"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel