Nilai Luhur dalam Kebudayaan Jawa Nyadran


Seringkali telinga kita mendengar istilah kebudayaan atau budaya begitu saja, namun jarang dari lingkungan kita yang mendalami seluk beluk, makna, atau bahkan hanya peduli saja terlihat sangat kurang familiar, apalagi di masyarakat perkotaan.

Kalangan milenial masa kini cenderung mengalami reduksi dalam memaknai tentang budaya, hal tersebut dapat kita lihat dimana penggunaan bahasa daerah sebagai sarana komunikasi perlahan mengalami pengurangan penggunaan dalam keseharian, bahkan tidak jarang anak milenial yang malah lebih bangga ketika menggunakan bahasa asing seperti bahasa Inggris.

Hal ini bukan mengesampingkan peran bahasa Inggris pada kehidupan sehari-hari, namun sudah seyogyanya kita menggunakan bahasa daerah yang menjadi kebanggaan bagi kita semua sebagai salah satu cara untuk menjaga kebudayaan Nusantara dalam berkomunikasi.
 
Era globalisasi menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan oleh segenap masyarakat dimana akses informasi dan kebudayaan begitu mudahnya masuk ke lingkungan kita tanpa ada filter yang menyaringnya.

Budaya merupakan kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus oleh sekelompok orang yang ada didalam suatu daerah. Berbagai kebudayaan yang amat sangat kental dan masih terjaga dengan baik sebaiknya tetap dilestarikan sebagai salah satu upaya menunjukkan identitas kita sebagai bangsa yang bermartabat.

Harapannya di era sekarang ini adalah orang Jawa tidak kehilangan Jawanya, orang Sunda juga tidak kehilangan Sundanya dan lain sebagainya sehingga corak Nusantara dalam berbudaya akan terlihat indah di segala aspek kehidupan.

Kebudayaan Jawa hingga saat ini masih sangat kental terlihat diberbagai aspek kehidupan tanpa terkecuali. Kita bisa menemukannya dengan mudah di berbagai pedesaan yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, walaupun ada beberapa pihak yang berusaha mereduksinya dengan kedok agama karena tidak sesuai dengan syariat.

Contoh kebudayaan yang masih kental terlihat yaitu Gendurenan, Selametan, Nyadran, Sekaten, Tarian Jathilan, Topeng Ireng dan lain sebagainya. Ketika kita melihat Nyadran atau Selametan, yang ada dibenak kita yaitu makan bersama-sama banyak orang di suatu tempat, bisa berada di lapangan, pegunungan, atau pelataran yang luas. Namun daripada itu, banyak sekali nilai-nilai luhur yang dapat kita petik dari acara tersebut.

Kita bisa melihat nilai-nilai yang ada dalam Nyadran pada saat acaranya. Rangkaian acara Nyadran diawali dengan ziarah terlebih dahulu ke makam leluhur daerah sekitar sesuai dengan desanya. Dalam peristiwa ini terdapat makna daripada berbakti dengan cara mendoakan kepada orang tua atau leluhur kita yang sudah mendahului karena sesuai yang kita tahu bahwa doa seseorang anak kepada orang tua tidak akan terputus dan akan nyambung terus hingga orang tua kita atau leluhur kita meninggal.

Sesudah itu dilanjutkan berdoa bersama kembali untuk meminta pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT agar semua warga desa beserta alamnya dapat diberikan rahmat dan lindungan. Doa tersebut biasanya dipanjatkan oleh para tokoh masyarakat sekitar yang sudah dianggap sepuh oleh masyarakat awam.

Nah, setelah itu Nyadran ditutup dengan makan-makan bersama setelah serangkaian acara doa bersama digelar. Makanan yang disediakan tidaklah mewah, namun beberapa makanan yang sering sekali kita temui hanya di acara Sadranan/Nyadran yaitu Ingkung Ayam.


Ingkung ayam adalah se-ekor ayam utuh yang disajikan “mekungkung” atau manekung yang berarti pemanjatan doa secara sungguh-sungguh. Mengapa ingkung yang dipilih adalah ayam kampung ? karena memiliki lambang dari rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia yang telah diberikan, dimana ayam sangat bermanfaat bagi kebutuhan hidup manusia.

Makna lain yang terkandung dalam ingkung adalah ayam jawa/kampung merupakan ayam yang dapat memilih makanan mana yang baik bagi ayam tersebut, sehingga diharapkan manusia dapat meniru apa yang dilakukan oleh ayam agar bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak.
 
Tidak ada yang buruk dalam budaya Nyadran dan masih banyak lagi kebudayaan yang lain dan seharusnya tetap kita lestarikan dan kita perkenalkan kepada khalayak umum dan dunia. Pengenalan kebudayaan tersebut perlu berbagai pihak untuk mendukung dan mempromosikannya dari beberapa aspek.

Pendidikan merupakan hal yang sangat fundamental untuk mengenalkan budaya tersebut agar senantiasa dapat lestari terlebih bisa dikenal oleh kehidupan luas, kita bisa melakukan hal tersebut disela-sela kesibukan di bidang akademik kita ini.

Oleh karena itu perlu dukungan dari pemerintah dan seluruh segenap warga negara yang merasa memiliki kebudayaan Nusantara sesuai dengan daerahnya masing-masing demi menjaga kelestarian nilai luhur bangsa. Cukup sekian yang dapat disampaikan kurang lebihnya penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Kebudayaan Jawa Nyadran. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Wildan Chilmy A ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

4 Responses to "Nilai Luhur dalam Kebudayaan Jawa Nyadran "

  1. Tetap masukan pelajaran bahasa daerah dalam sekolah ya, jangan malu memperkenalkan bahasa daerah sama dunia hehe...,,☺️

    BalasHapus
  2. Mantap, Setuju pelajaran bahasa daerah tetap dilestarikan di sekolah-sekolah formal

    BalasHapus
  3. Yuks nguri-nguri budaya Kita sendiri. Kalau bukan Kita siapa lagi ye Kan ? ��

    BalasHapus
  4. Saya baru tau maksud pemilian ayam kampung yang dijadikan ingkung. Mungkin filosofi yg membuat kita bisa belajar selalu merendah, adem eram luurrrr

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel