Pasar Kumandangan : Kebudayaan Ramah Lingkungan


Kawasan nrimo ing pandum” dan “Ojo mitnah marai seduluran bubrah” merupakan pesan berbahasa jawa yang menjadi daya tarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk mencoba merasakan kembali suasana lawas Jawa yang dapat ditemukan di Pasar Kumandang.

Pasar yang menyajikan kerinduan terhadap nuansa tempo dulu, mulai dari jajanan (makanan), minuman, kearifan lokal dan gaya busana yang dikenakan masyarakatnya membuat takjub, penasaran dan ingin untuk mengunjungi pasar Kumandang bergaya tempo dulu.

Lokasi pasar Kumandang berada di Dusun Bongkotan, Desa Bojasari, Kecamatan Kertek, Wonosobo. Apabila berencana mengunjungi pasar Kumandang via Yogyakarta dapat menempuh waktu kurang lebih sekitar 3 hingga 4 jam. Pemandangan disekitar pasar Kumandang memiliki view eksotis karena berlatar belakang Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Jajaran bukit sangat memanjakan mata. Pasar Kumandang yang terletak berdekatan dengan hamparan sawah, pepohonan tinggi dengan udara yang sejuk memberikan kesan yang memukau, takjub dan eksotis.

“Sugeng Rawuh” sambutan hangat yang dilanturkan seorang perempuan khas mengenakan balutan kebaya, kain batik dan rambut yang tertata seperti di ‘sanggul’. Untuk menikmati kuliner tempo dulu sebelumnya harus menukarkan uang rupiah dengan koin keping yang terbuat dari batok kelapa (tempurung kelapa) sebagai alat transaksi di pasar Kumandang.

Terdapat tulisan pesan (himbauan) untuk wisatawan seperti zero plastic dan no smoking serta beberapa pesan unik yaitu “wajib boso jowo”, “kawasan nrimo ing pandum”, “ojo mitnah marai seduluran bubrah”, “saring sakdurunge sharing”, “ojo nganti ono hoax antara nyong karo deke”.

Namun yang paling penting yakni pasar Kumandang menerapkan konsep zero plastic. Betul saja semua sajian makanan hingga jajanan dikemas dengan daun pisang, bahkan jika ingin dijadikan oleh oleh wisatawan dapat membeli besek (keranjang dari anyaman bambu) sebagai pengganti plastik.

Pasar Kumandangan hadir karena gagasan warga masyarakat Bojasar dengan kemandirian masyarakat yang memegang konsep pasar Jawa tempo dulu yang menyajikan kuliner tempo dulu, menanamkan konsep zero plastic, no smoking, dan terdapat wahana permainan tradisional anak dengan nama “Play On Bocah”. Kementerian pariwisata dikenal dengan nama Destinasi Digital.

Kangen jajanan kue cucur, kue geblek, kue klepon, mie ongklok jamu beras kencur, susu ketan, kolak ubi ? Pasar Kumandang merupakan solusi mengobati rasa rindu dengan makanan dan jajanan tempo dulu.

Untuk menyicipi langsung makanan atau jajanan biasanya kios kios akan menggunakan wadah seperti batok kelapa. Alunan musik tradisional yaitu campursari menjadi primadona sehingga pengunjung terbawa suasana.

Pementasan gamelan dan sendratari adalah pagelaran yang ditunggu-tunggu oleh pengunjung. Hidangan kuliner lawas serta iringan gamelan dan tarian merupakan perpaduan yang tepat sebagai cara terbaik menikmati tempo dulu.

Pasar Kumandangan menjadi tempat rekomendasi bagi edukasi anak-anak selain berwisata, menikmati kuliner jajanan atau makanan, anak-anak belajar tentang budaya, belajar moral (zero plastic dan no smoking), mengenal permainan tradisional seperti egrang dan pengenalan angon wedhus (menggembala kambing) dan mengenal cagar budaya karena adanya situs Bongkotan.
Sehingga anak-anak akan terus belajar menghargai dan tidak melupakan budaya.

Saya sependapat dengan Gumelar S. Sastrayuda tentang konsep pengembangan kawasan desa wisata diwujudkan dalam gaya hidup dan kualitas hidup masyarakatnya. Keaslian juga dipengaruhi keadaan ekonomi, fisik dan sosial daerah pedesaan tersebut, misalnya ruang, warisan budaya, kegiatan pertanian, bentangan alam, jasa, pariwisata sejarah dan budaya, serta pengalaman yang unik dan eksotis khas daerah.

Dengan demikian, pemodelan desa wisata harus terus dan secara kreatif mengembangkan identitas atau ciri khas daerah. Ramuan penting dalam upaya pengembangan desa wisata yang berkelanjutan yaitu pelibatan atau partisipasi masyarakat setempat, pengembangan mutu produk wisata pedesaan, pembinaan kelompok pengusaha setempat.

Berpegang teguh pada kebudayaan serta memadukan konsep zero plastic dan ramah lingkungan menjadi model konservatif yang harapannya akan sustainable. Karena menanamkan konsep ramah lingkungan (zero plastic) merupakan jalur baru yang bisa menjadi value dan tak kalah pamor dengan konsep modern masa kini.

Menyunsung konsep zero plastic, ramah lingkungan, konservatif serta kebudayaan menjadi ajang budaya yang patut dicontoh sebagai pengembangan kawasan desa wisata lain. Jadikan budaya sebagai aset dan meyakinkan bahwa budaya akan selalu eksis dan sustainable.

Demikianlah artikel yang ditulis oleh Ayu Ary Santhi Sasmitha Cahya Gunarsa mengenai Pasar Kumandangan Wonosobo. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian dalam menambah wawasan ilmu pengetahuan. Terimakasih

Referensi 
Gumelar S. Sastrayuda. 2010. Konsep Pengembangan Kawasan Desa Wisata


0 Response to "Pasar Kumandangan : Kebudayaan Ramah Lingkungan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel