Menelisik Budaya Yogyakarta Lewat Pasar Seni Kuliner Kaki Langit


Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan Daerah Istimewa setingkat Provinsi di Indonesia yang terjadi karena peleburan Negara Kasultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Pakualaman. Terletak di bagian selatan Pulau Jawa, Daerah Istimewa Yogykarta berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia.

Nama Yogyakarta diambil dari dua kata, yaitu ayodhya yang berarti kedamaian dan karta yang berarti baik. Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki luas 3.185, 80 Km2 yang terdiri atas satu kotamadya yaitu Kota Yogyakarta dan empat kabupaten yaitu Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Bantul.

Kotamadya dan kabupaten tersebut kemudian terbagi lagi menjadi 78 kecamatan dan 438 kelurahan.
Mangunan merupakan Desa di Kecamatan Dlingo. Secara Geografis, letak desa ini berada di ujung timur Kabupaten Bantul dan berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul.

Secara administrasi, Desa Mangunan berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Memiliki keunggulan di bidang agrowisata, nama Desa Mangunan melejit karena potensi bentang alam berupa pengunungan yang kemudian dimanfaatkan sebagai daya tarik pada sektor wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keberadaan Pasar Seni Kuliner Kaki Langit bermula dari banyaknya wisatawan yang rela datang pagi hari untuk berburu sunrise. Warga Desa Mangunan dibantu oleh GenPI Jogja kemudian mencetuskan sebuah destinasi wisata berkonsep kuliner dan budaya.

Berada di tengah Kawasan Wisata Mangunan menjadikan pasar ini sebagai alternatif untuk menikmati sarapan pagi hari. Meskipun demikian, Pasar Seni Kuliner Kaki Langit hanya buka pada hari Sabtu-Minggu pukul 06.00-12.00 WIB saja.

Wisatawan yang datang untuk membeli sarapan ataupun sekedarberjalan-jalan tidak dikenakan biaya masuk. Namun, untuk berbelanja kuliner di Pasar Seni Kuliner Kaki Langit, wisatawan harus menukarkan uang rupiah menjadi uang kayu terlebih dahulu.

Konsep penukaran uang rupiah dengan uang kayu ini mengadopsi dari sejarah Kerajaan Majapahit. Harga 1 kayu sama dengan seribu rupiah. Terdapat pecahan 1 kayu, 2 kayu, 5 kayu, dan 10 kayu. Jika saat berbelanja masih terdapat uang yang tersisa, wisatawan dapat menukarkan kembali menjadi rupiah.

Purwo Harsono, laki-laki yang akrab disapa Ipung, merupakan orang yang berperan dibalik pembangunan Pasar Seni Kuliner Kaki Langit. Nama Kaki Langit sendiri sejatinya merupakan harapan, doa, dan cita-cita.

Desa Mangunan dahulu merupakan daerah yang selalu terpinggirkan karena letaknya diatas Gunung. Hal tersebut menjadikan warganya hidup dibawah garis kemiskinan. Menurut Ipung, pemberian nama Kaki Langit memiliki filosofi selayaknya manusia yang  lahir ke dunia selalu bergerak menggunakan kaki untuk bekerja menuju kesejahteraan.

Harapannya, nama Kaki Langit dapat membawa pasar ini sebagai tonggak yang membangun dan mengangkat warga Desa Mangunan untuk terlepas dari kemiskinan dan berjalan menuju kesejahteraan.

Kuliner Yogyakarta

Berkunjung ke Pasar Seni Kuliner Kaki Langit, wisatawan akan disuguhkan menu kuliner tradisional khas Yogyakarta. Meskipun mempunyai sasaran kepada anak muda millenial, namun penyajian kuliner tersebut tetap mengusung nilai tradisional dengan menggunakan piring lidi dan gelas yang dibuat dari batok kelapa.  Beberapa kuliner yang disajikan, yaitu :

1. Bubur Kelanan

Hampir mirip dengan Sayur Bobor, Bubur kelanan berisi daun ubi jalar, singkong, umbi, dan beras. Kuah bubur kelanan berasal dari santan encer. Bumbu yang digunakan pun sederhana, hanya bawang putih dan garam saja. Rasa bubur kelanan ini sangat nikmat, terlebih jika disantap selagi hangat.

2. Bledak

Bledak atau yang biasa disebut dengan nasi jagung pernah menjadi makanan pokok bagi masyarakat pedesaan. Bahan baku pembuatan bledak terbuat dari tepung jagung dengan tiga tingkat kelembutan yang berbeda. Komposisi tersebut dilakukan agar bledak memiliki tekstur yang tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras. Cara memasak bledak cukup diliwet dengan tungku dan menggunakan kayu bakar.

3. Gembrot

Gembrot jika dilihat sekilas penampilannya mirip dengan pepes. Terbuat dari daun sembukan dan parutan kelapa, gembrot biasanya dapat ditemukan pada penjaja nasi pecel. Cara pembuatannya cukup mudah, daun sembukan dicuci dan ditumbuk halus.

Beri bumbu ketumbar, bawang putih, lengkuas, garam, dan gula merah. Lalu, siapkan daun pisang untuk membungkus dan lidi untuk menyemat. Setelah semua terbungkus kemudian kukus atau panggang.

4. Wedang Uwuh

Wedang uwuh dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai minuman sampah. Pasalnya, wedang uwuh terdiri dari bahan-bahan dedaunan yang mirip dengan sampah, yaitu daun cengkeh, kayu manis, daun pala, jahe, kayu secang, dan gula batu sebagai pemanis. Minuman ini memiliki warna merah yang dihasilkan dari kayu secang. Wedang uwuh akan nikmat disajikan dalam kondisi panas.

5. Gudeg Manggar

Berbeda dengan gudeg yang menggunakan bahan dasar nangka, gudeng manggar menggunakan bahan dasar manggar atau bunga muda pohon kelapa. Hanya bagian yang paling muda dari keseluruhan bunga kelapa yang dapat diolah, serta hanya dari pohon kelapa yang sudah tidak produktif yang dapat diambil bunga manggarnya.

Hal tersebut menyebabkan gudeg manggar sulit dicari dan harga jual tinggi. Memiliki tekstur yang lebih padat dari gudeg biasa, gudeng manggar biasanya disajikan bersama aneka bacem, peyek, dan sambel krecek.

Busana Tradisional Yogyakarta

Tidak hanya menyajikan kuliner tradisional, Pasar Seni Kuliner Kaki Langit juga melestarikan budaya melalui pakaian tradisional khas Yogyakarta yang dikenakan oleh penjaja kuliner dan penjaga loket penukaran koin kayu yang berasal dari warga Desa Mangunan. Penjaja kuliner yang sebagian besar merupakan ibu-ibu menggunakan pakaian tradisional, yaitu :

1. Baju Kebaya Model Kutubaru

Kebaya model kutubaru merupakan jenis kebaya klasik. Kutubaru merupakan secarik kain yang menghubungkan lipatan kebaya di bagian dada. Kancing pengait pada kebaya model kutubaru ini terbuat dari benang. Makna dari kebaya model kutubaru adalah menyiratkan keanggunan hakiki seorang perempuan.

2. Jarik

Jarik merupakan sebutan Bahasa jawa untuk sebuah kain yang mempunyai motif batik. Jarik digunakan sebagai bawahan dengan cara dililitkan pada kaki. Ketika memakai jarik, seseorang akan berjalan dengan lebih hati-hati. Jika yang memakai perempuan, maka ia akan berjalan dengan anggun dan terkesan lemah lembut.

Sedangkan penjaga loket penukaran koin kayu yang sebagian besar merupakan bapak-bapak menggunakan pakaian tradisional, yaitu :

1. Surjan

Surjan merupakan busana atas resmi adat jawa untuk pria. Bahan dasar surjan dapat berupa lurik ataupun kain bunga-bunga. Bentuk pakaian surjan yaitu lengan panjang, ujung baju runcing, leher dengan kancing tiga pasang, dua kancing di dada kanan kiri, dan tiga buah kancing tertutup. Surjan memiliki makna filosofi yaitu rukun iman dan tiga macam nafsu manusia.

2. Bebed

Bebed merupakan jarik yang dipakai oleh laki-laki seperti halnya pada wanita. Bebed memiliki arti manusia harus memiliki ubed, yaitu harus rajin untuk bekerja dan berhati-hati dalam menjalankan tindakannya.

3. Blangkon Yogyakarta

Blangkon yogyakarta memiliki ciri khas mondolan dibelakang kepalanya. Mondolan tersebut jika dilihat dari sejarah merupakan  perwujudan dari rambut yang diikat kebelakang. Secara filosofis, makna mondolan merupakan bukti keluhuran budi pekerti.

Kesenian Tradisional Yogyakarta

Pasar Seni Kuliner Kaki Langit juga memiliki panggung seni yang menghadirkan beragam kesenian khas Yogyakarta. Mengandalkan penampil lokal dari Desa Mangunan, bukan hanya orangtua saja, menlainkan juga melibatkan anak-anak.

Tidak hanya menyajikan pertunjukan, bagi wisatawan yang ingin belajar kesenian khas Yogyakarta tersebut juga diperbolehkan dengan cara langsung bergabung ketika pertunjukkan dimulai. Tidak dipungut biaya, pertunjukkan kesenian khas Yogyakarta ini dapat dinikmati dan dijadikan media belajar oleh wisatawan. Hanya disediakan sumbangan sukarela dibawah panggung kesenian.

Beberapa kesenian khas Yogyakarta yang ditampilkan, yaitu :

1. Gejog Lesung

Gejog Lesung merupakan kesenian tradisional berupa permainan instrumen musik perkusi menggunakan alat penumbuk padi tradisional, yaitu lesung dan alu. Gejog Lesung dimainkan oleh 4-5 orang atau lebih tergantung dengan besar lesung yang digunakan.

Secara bergantian, para penabuh memukul lesung dengan alu pada bagian atas, samping, tengah, atau tepat pada bagian cekungan sehingga menimbulkan bunyi thok thek thok thek. Seiring irama pukulan, terdapat sinden yang menyanyikan lagu jawa sembari menari.

2. Keroncong

Keroncong merupakan aliran musik di Indonesia yang memadukan antara musik daerah dan music kolonial dari masa Portugia dan Belanda. Keroncong ditandai dengan penggunaan alat musik ukulele, gitar, biola, piano, dan seruling. Jika di Daerah Istimewa Yogyakarta, adapula keroncong langgam jawa yang dipadukan dengan musik gamelan.

3. Wayang Pethilan

Wayang adalah seni pertunjukkan boneka yang dipadukan dengan unsur kebudayaan Jawa. Pethilan merupakan bagian dari cerita wayang, dimana arti dari wayang pethilan merupakan pertunjukkan wayang dengan cerita sebagian dari keseluruhan.

Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita wayang dapat menjadi pedoman hidup bagi masyarakat. Terdapat pula wayang yang menunjukkan norma yang berlaku di masyarakat dan kritikan terhadap pemerintahan Indonesia.

Dari Pemaparan diatas, Pasar Seni Kuliner Kaki Langit mampu membawa wisatawan untuk semakin mengenal kekhasan Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak hanya kuliner, melainkan juga pakaian tradisional dan kesenian tradisional.

Kekhasan daerah yang dimiliki oleh Daerah Istimewa Yogyakarta memang baru sebagian kecil dari kebudayaan yang ada di Indonesia. Hal tersebut sejatinya menyatakan bahwasanya Negara Indonesia merupakan negara yang penuh dengan kebudayaan dan dipersatukan dengan Bhinneka Tunggal Ika.

Kekayaan budaya Indonesia seharusnya mampu menginggatkan kita sebagai anak muda untuk terus melestarikan budaya agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman modern. Menjadi anak muda yang cinta dan peka budaya, dimulai dengan mengetahui budaya yang ada disekitar lingkungan tempat tinggalnya. Ayo Millenial Indonesia, peduli budaya!

Berikut adalah artikel yang ditulis oleh Brigitta Adelia Dewandari mengenai Pasar Seni Kuliner Kaki Langit Yogyakarta. Semoga dapat menjadi referensi bagi pembaca sekalian.


0 Response to "Menelisik Budaya Yogyakarta Lewat Pasar Seni Kuliner Kaki Langit"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel