Pelestarian Batik Sendang dengan Cara Produksi sebagai Peningkatan Taraf Perekonomian


Sejarah perkembangan batik Indonesia merupakan sejarah mengenai warisan turun temurun dari leluhur ke generasi selanjutnya. Kata batik sendiri meruju pada teknik pembuatan corak menggunakan canting atau cap dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna corak “malam” (wax) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna.

Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah wax-resist dyeing. Batik (atau kata batik) berasal dari kata bahasa jawa “ amba” yang berarti menulis dan “nitik”. Batik Sendang merupakan pengabadian ajaran Raden Nur Rahmad yang tertuang dalam motif dan warna.

Pengabadian dalam motif yaitu karena semasa hidupnya  beliau menganjurkan menanam tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat, disamping juga anjuran bermasyarakat. Motif-motif Batik Sendang kebanyakan tergolong pada motif non-geometris, dan yang menjadi ciri khas motif Batik Sendang antara lain Modang, Byur, dan Patinan.

Begitu juga pada warna, yang melambangkan tiga alam yang dilalui manusia dalam menghadap Tuhannya, yaitu warna putih sebagai alam Garba (kandungan), warna merah untuk alam Fana (dunia) dan warna hitam sebagai alam Baka (akhirat).

Prestasi batik Indonesia ini meluas hingga ke manca negara. Beberapa negara seperti Malaysia dan Singapura bahkan memakai bahan bercorak batik untuk keperluan pakaian resmi seragam kantor pada acara tertentu.

Seperti yang terjadi di Malaysia, para pegawai negeri yang laki-laki diwajibkan mengenakan pakaian batik pada setiap hari kamis. Hal ini dikemukakan secara resmi oleh Ketua Pengarah Jabatan Perkhidmatan Awam Tan Sri Ismail Adam, di Kuala Lumpur, Malaysia.Nampaknya kecintaan orang untuk memakain batik ini memang sangat beralasan.

Dengan kain yang nyaman maka orang akan suka memakai batik untuk kondisi santai, apalagi Indonesia yang memiliki iklim tropis dimana cuacanya panas sepanjang tahun, ataupun untuk dipakai di negara-negara yang memiliki iklim serupa dengan Indonesia.

Untuk corak batik yang unik dan menawan hati, sehingga membuat batik cocok dipakai untuk busana resmi. Bahkan corak batik juga dipakai untuk berbagai keperluan lainnya seperti tas, mukena, sprei, taplak meja, sarung bantal dan gordin.

Jaman dahulu kala, saat batik di pakai sebagai pakaian tradisional adat kerajaan, penggunaannya masih terbatas pada kain mori saja. Tetapi dengan perkembangan pertekstilan di Indonesia dan meluasnya pemakaian batik untuk berbagai masyarakat, maka kain-kain jenis lain juga dipakai, seperti kain sutera, poliester, rayon dan berbagai bahan sintesis.

Teknik untuk mewarnai batik yang dipakai adalah malam, yaitu sejenis lilin yang dipanaskan diatas wadah dan memakai alat yang disebut canting untuk menggambar motif detail dan kuas untuk corak yang lebih besar.

Malam atau lilin ini nantinya akan meresap di kain. Prosesnya berlanjut dengan pencelupan kain yang telah dilukis. Warna yang dipakai adalah warna yang diinginkan, dan biasanya bertahap dari warna yang paling muda hingga ke warna gelap.

Proses pewarnaan yang dilakukan berulang ini pada akhirnya nanti akan berakhir hingga ke proses pencelupan ke bahan kimia yang dapat meluruhkan lilin atau malam.

Pembuatan batik tulis memiliki beberapa tahapan, yaitu:

  1. Ngloyor, yaitu proses membersihkan kain dari pabrik yang biasanya masih mengandung kanji (tapioka),menggunakan air panas yang dicampur dengan merang atau jerami
  2. Ngemplong, yaitu proses memadatkan serat-serat kain yang baru di bersihkan 
  3. Memola, yaitu pembuatan pola menggunakan pensil keatas kain 
  4. Mbatik,  yaitu menenmpelkan lilin atau malam batik pada pola yang telah digambar menggunakan canting
  5. Nembok,  yaitu menutup bagian yang nantinya di biarkan putih dengan lilin tembokan 
  6. Medel , yaitu mencelup kain yang telah dipola, di lapisi lilin ke pewarna  yang sudah disiapkan 
  7. Ngerok/nggirah, yaitu proses menghilangkan lilin dengan alat pengerok 
  8. Mbironi, yaitu menutup bagian-bagian yang akan dibiarkan tetap warna putih dan tempat-tempat yang terdapat cecek (titik-titik)
  9. Nyoga, yaitu mencelup lagi warna sesuai warna yang diinginkan
  10. Lorod, yaitu proses menghilangkan lilin dengan air mendidih untuk kemudian dijemur


Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. (batik damayanti, 2018).

Di antara sekian batik yang yang bertumbuh di Nusantara ini ada batik yang berkembang dari desa Sendang Paciran Lamongan yang keberadaannya sudah berjajar dengan batik dari berbagai daerah se-Nusantara. 

Batik sendang Lamongan yang saat ini dikenal luas, tidak lepas dari perjuangan panjang dan jerih payah para pembatik, saudagar, pengguna, pecinta atau kolektor batik, jajaran pemerintah desa dan pemerintah daerah yang terus menerus menjaga dan memajukan kesinambungan hasil karya adiluhung ini.

Perjalanan itu setidaknya tampak hingga tahun 1980-an. Batik sendang Lamongan yang sudah berkembang sejak tahun 1500-an dan mengalami stagnasi berkepanjangan setelah kemerdekaan. Baru pada masa Bupati Lamongan H.M. Syafi’i As’ari (1984-1989) dan H. Moch. Farid (1989-1999), serta Gubernur Jawa Timur Soelarso (1988-1993) dan jajarannya, batik sendang Lamongan kembali menggeliat.

Pada tahun 1984 batik sendang Lamongan dianjurkan sebagai seragam pejabat Pemerintah Daerah Lamongan dan sewindu kemudian pada tahun 1992 berhasil masuk ke Istana Negara. Hj Sumikah Ishaq (UD Cahaya Utama/ Jaya Utama) mendapat apresiasi langsung dari Presiden RI Soeharto atas kepeloporan dalam mengembangkan Batik Sendang Lamongan.

Anugerah Upakarti Presiden RI tersebut merupakan tonggak penting dalam perkembangan batik sendang Lamongan berikutnya di antara batik-batik yang berkembang di Nusantara. Sejak mendapat anugerah Upakarti Presiden RI pada tahun 1992 dan memenangkan juara II Lomba Design Batik Nasional pada 2010 Batik sendang Lamongan dikenal luas baik di tingkat nasional maupun regional (Rif’ah, 2018).

Dalam rentang tahun-tahun setelah peristiwa bersejarah Upakarti, batik sendang Lamongan kemudian merambah lebih luas lagi ke tengah masyarakat dan banyak dicari kolektor asing dari Jepang, Australia, Amerika dan Belanda.

Fase perkembangan di masa Bupati Masfuk (2000-2010), batik sendang Lamongan mulai aktif ekspansi ke luar daerah dengan mengikuti berbagai pameran tingkat nasional di Jakarta, seperti Pameran Produk Unggulan Indonesia (PPI) di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ), Inacraft, Crafina dan Gelar Batik Nasional (GBN) di Jakarta Convention Center (JCC) dan lainnya.

Pada era Bupati H Fadeli (2010-2020) batik sendang Lamongan lebih popular karena masuk ke tengah masyarakat dengan kebijakan wajib mengenakan batik sendang Lamongan (tulis, cap dan printing) kepada pegawai dan siswa se-Lamongan, event batik juga secara rutin digelar ada berbagai lomba desain batik untuk memperkuat produk.

Peningkatan taraf perekonomian masyarakat dapat berkembang melalui usaha pembuatan batik sendang sebagai kebutuhan sandang pangan masyarakat. Selain itu pembuatan batik sendang sendiri bisa untuk melestarikan budaya bangsa Indonesia.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Batik Sendang. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Tahsinul Akhlaqi ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Pelestarian Batik Sendang dengan Cara Produksi sebagai Peningkatan Taraf Perekonomian"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel