Tradisi Pemakaman Mepasah

Desa Trunyan terletak di pulau Bali, tepatnya di kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, Indonesia. Masyarakat di desa Trunyan memiliki tradisi dimana orang yang sudah meninggal tidak akan dikubur dalam tanah ataupun dibakar, melainkan diletakkan di suatu tempat dan dibiarkan begitu saja.

Tradisi ini biasa disebut Mepasah. Mepasah hanya diperuntukkan bagi orang yang meninggal dengan cara yang wajar, sudah berumah tangga, bujangan dan anak kecil yang sudah tanggal gigi susunya dan orang meninggal tersebut tidak terdapat luka yang belum sembuh serta semua anggota tubuhnya lengkap.

Tradisi ini membiarkan mayat di alam terbuka yang diletakkan di dekat pohon Taru Menyan. Pohon Taru Menyan ini telah berdiri selama ribuan tahun. Dengan adanya pohon inilah mayat yang telah dibiarkan tidak akan tercium bau busuk, karena pohon menyebarkan wangi di sekelilingnya. Aturan yang dibuat oleh kepercayaan setempat, satu pohon Taru Menyan hanya terdapat 11 jenazah saja. Bila ada jenazah baru, maka jenazah terlama yang tinggal tulang belulang akan dipindahkan.

Sebelum meletakkan jenazah, terlebih dahulu dilakukan upacara pembersihan. Kemudian, memandikan jenazah dengan air hujan. Setelah itu, jenazah baru diletakkan di lubang sedalam 10-20 cm. Disekitar jenazah diberikan penghalang dari ulatan bambu bernama ancak saji yang berbentuk segitiga dan dibuat memanjang sesuai dengan ukuran tubuh mayat untuk menghindari binatang buas yang bisa merusak mayat.

Mayat akan dipindahkan apabila mayat sudah tinggal tulang. Tulang badan, tangan, dan kaki di tumpuk di samping pintu gerbang. Sedangkan untuk kepala akan diletakkan di sebuah fondasi batu dan disusun berjejer dengan yang lain.

Di lokasi ini sendiri terdapat tiga area pemakaman. Pertama, ada Sema Wayah dimana jenazah akan dimakamkan secara mepasah. Kedua ada Sema Mudi. Bedanya, jenazah di sini akan dikubur. Mayat yang dikubur di Sema Mudi adalah anak-anak dan bayi dengan gigi susu yang belum tanggal.

Terakhir ada Sema Batas. Sama seperti Sema Mudi, jenazah di sini juga akan dikuburkan. Sema Batas khusus untuk yang meninggal karena kematiannya tidak wajar, seperti kecelakaan, dibunuh, bunuh diri, atau bagian tubuhnya tidak utuh.

Demikianlah artikel yang berjudul "Tradisi Pemakaman Mepasah" di ulas oleh Maharani Nursagita. Semoga bermanfaat bagi segenap pembaca, trimakasih.

0 Response to "Tradisi Pemakaman Mepasah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel