Pesona Budaya Urang Awak - Maninjau Indah



Berbicara tentang budaya, indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman budaya yang melimpah. Setiap provinsi bahkan desa yang ada di Indonesia memiliki budaya dan kekhasan sendiri, mulai dari suku, adat, bahasa, kuliner  hingga ke warna kulit yang disatukan dengan rasa nasionalisme dalam diri insannya.

Budaya dan keunikan inilah yang menjadi pesona dan daya tarik Indonesia di mata negara asing. Oleh karena itu, Budaya dapat dikatakan sebagai jantung suatu daerah. Daerah tanpa budaya ibarat hidup tapi mati, karena ia ada tapi tidak dikenal oleh orang lain.

Pesona Budaya urang awak atau budaya Padang salah satu yang banyak diminati, tidak hanya turis lokal tetapi juga mancanegara. Padang terkenal akan makanannya yang khas yaitu rendang dengan cita rasa yang superlezat.

Makanan ini tidak hanya dicintai masyarakat indonesia tetapi juga masyarakat mancanegara. Masakan padang dapat dijumpai di seluruh Indonesia bahkan juga diluar negeri karena rasanya yang unik dan kaya akan rempah-rempah. Padang memiliki falsafah adat “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”, semua aturan adat di minang diatur berdasarkan ketentuan agama islam (kitabullah).

Namun, keunikan yang akan diulas kali ini terfokus pada keunikan budaya disalah satu daerah di padang yakni kawasan danau Maninjau yang terletak di Kec. Tanjung Raya, Kab. Agam, Padang. Maninjau menawarkan keindahan alam dan keasrian dengan pemandangan danau yang di dampingi oleh sawah yang terbentang luas bak permadani hijau, kemudian dikelilingi bukit-bukit indah.

Budaya disini sama dengan budaya induknya yaitu budaya minang, namun tata cara setiap daerah di Padang berbeda-beda.

A. Cerita rakyat – “Bujang Sambilan”

Konon menurut masyarakat disana ada sebuah cerita yang dikenal “Bujang sembilan”, sebagai asal usul terbentuknya danau Maninjau tersebut. Bujang sembilan atau 9 laki-laki yang bersaudara bersepupuan dengan seorang gadis bernama Sani.

Dimana Sani dan salah satu dari 9 bernama sigiran menjalin cinta. Namun, hubungan mereka ditentang oleh saudara-saudaranya dan orang di kampung karena dianggap melanggar norma yang berlaku di Minang.

Karena tidak terima difitnah maka Sani dan Sigiran membuktikan bahwa hubungan mereka tidak salah. Mereka memutuskan melompat ke kawah gunung Sitinjau Lauik. Apabila gunung tersebut meletus setelah mereka melompat, maka hubungan mereka suci.

Tapi, apabila gunung tersebut tidak meletus maka hubungan mereka salah. Dan ternyata gunung tersebut meletus dan terbentuklah kawah dengan danau ditengah-tengahnya, yang sekarang dikenal dengan danau Maninjau.

Sedangkan, nama dari kesembilan laki-laki dan seorang gadis itu di abadikan menjadi nama-nama daerah di sekeliling danau Maninjau.  Maninjau juga memiliki keunikan tersendiri dari daerah Indonesia yang lainnya.Berikut beberapa kekhasan dan keunikan Maninjau :

1. Kuliner 

a) Rendang merupakan makanan khas orang minang. rendang terbuat dari daging sapi yang dimasak dengan santan dan berlimpah rempah-rempah yang dimasak hingga nanti warnanya berubah menjadi coklat kehitam-hitaman. Kekayaan danau endemik maninjau yaitu:

  • Rinuak,  Rinuak merupakan ikan kecil-kecil yang biasanya diolah jadi perkedel, peyek rinuak, pepes dan ditumis pakai cabe.
  • Bada, Bada merupakan ikan kecil namun tidak sekecil rinuak, biasanya diolah jadi salai bada (ikan kering asap), pepes bada, dan lain sebagainya.
  • Pensi, Pensi diolah jadi asinan pensi. Sangat cocok jadi cemilan ketika duduk bersama dengan teman ataupun keluarga.



2. Kesenian 

Setiap daerah di kawasan Maninjau memiliki persatuan seni tersendiri. Disana mereka aktif melestarikan kesenian daerah seperti tambua tansa, tari piring, randai, talempong dan sebagainya. Kesenian yang ada di maninjau :

a. Tari Indang Tuo 
Tari ini sudah hampir langka. Sekarang yang masih melestarikannya yaitu group tari indang tuo dari Jorong Balai-belo. Dimana tari ini dimainkan oleh bapak-bapak dengan memegang kipas bulat di kedua tangannya, kemudian menari diiringi lagu yang dinyanyikan bersama oleh pemain tersebut.

b. Tambua Tansa
tambua (gendang) dimainkan secara berkelompok yang dipandu oleh orang yang memainkan tansa. Namun, bisa juga tambua ini dipandu oleh pupuik batang padi, biasanya ini dipakai untuk pernikahan sebagai penggiring pengantin mengelilingi kampung. 

c. Randai
Tari yang dikombinasikan dengan nyanyian dan juga silat dalam membacwakan suatu kisah seperti “Sabai nan aluih”, “gadih si rantiah”, dan banyak lagi kisah-kisah yang ada di Maninjau pada masa dulu. Randai dimainkan berkelompok dengan ciri khas tari membentuk lingkaran.

d. Talempong Aguang, 
Talempong aguang yaitu talempong yang dikombinasikan dengan bunyi aguang. Alat musik ini dimainkan ketika malam akan diadakannya pesta pernikahan, sebagai pemecah kesunyian dan juga menemani para ibu-ibu memasak ketan pada malam hari di rumah pengantin tersebut. 

e. Tari piring dan badabuih
Tari piring badabuih,dimana para penari menari dengan memegang piring di kedua tangannya, kemudian satu orang diantara penari akan menari di atas pecahan kaca.

f. Silat 
Silat merupakan seni bela diri orang Minang. yang di mainkan oleh 2 orang dengan menggunakan keris.  Kesenian ini akan ditampilkan apabila ada lomba dan malam seni. Pada saat lebaran, setiap daerah akan mengadakan “malam kesenian” dengan mengundang seluruh group kesenian yang ada di sekeliling danau Maninjau.

Kegiatan malam kesenian memiliki ciri khas yaitu lelang singgang ayam, seperti terekam pada kegiatan kesenian malam di Jorong Balai Belo, Maninjau tahun 2018 lalu.Kegiatan ini bertujuan melestarikan kesenian minang dan mempererat silaturahmi masyarakat kampung dengan perantau.

Oktober 2018 lalu, seluruh masyarakat Maninjau yang ada di Maninjau dan juga di perantauan mengadakan “Festival 1000 tambua, save danau Maninjau” di Cibubur dalam upaya pelestarian danau Maninjau.

Setiap tahun juga, diadakan festival paralayang di puncak lawang dari berbagai negara yang tempat mendaratnya di tepian danau Maninjau.

3. Tradisi 

Ada beberapa tradisi di maninjau yaitu pernikahan, manaikan gala, dan sebagainya. Setiap daerah berbeda cara dan budayanya.

a. Penikahan

  • Baduduak : seperti lamaran, perkenalan anatara kedua keluarga
  • Batimbang tando: pertunangan yang diikat dengan sebuah cincin atau pakaian. 
  • Persiapan pernikahan : persiapan meliputi bakayu, memasak bersama, dekorasi rumah, pemasangan pelaminan, mamanggia urang kampuang (mengundang tamu), dan sebagainya.
  • Maulang Bako (Mengunjungi keluarga Ayah dari pengantin) : ini untuk memastikan bahwa pengantin akan memasangkan pakaiannya di rumah bako tersebut.
  • Malam bainai : malam sebelum pernikahan, pengantin di pakaikan inai (pewarna kuku dari daun inai) untuk mempercantik pengantin di hari pernikahannya. 
  • Akad dan pesta pernikahan : akad nikah diadakan di masjid, kemudian dilanjutkan dengan memasang baju pengantin di rumah bako (keluarga ayah dari pengantin).
  • Manjalang : pengantin mengunjungi mamak dan juga saudara yang telah membawa kado di pesta pernikahan, dengan membawa ketan. 

b. Manaikan gala 
Manaikan gala atau batagak panghulu yaitu mengangkat penghulu baru apabila penghulu lama sudah meninggal atau tidak sanggup lagi dengan jabatan tersebut. penghulu ini merupakan ketua dari masing-masing suku yang ada di maninjau.

Seperti suku koto memiliki penghulu bergelar Dt. Katumanggungan, suku tanjung penghulunya Dt. Parpatiah nan sabatang. Kegiatan batagak penghulu ini ditandai dengan menyembelih kerbau, dan dimasak bersama oleh semua anggota suku tersebut.

c. Simuntu 
Tradisi unik yang hanya dapat ditemukan hanya pada hari lebaran yaitu simuntu (orang dengan berpakaian karisiak pisang atau ijuk dengan topengnya) akan datang ke rumah-rumah diiringi sekelompok orang yang membunyikan tambua, meminta uang untuk sumbangan acara malam kesenian di daerah tersebut.

d. Balanggae Durian 
Balanggae durian merupakan mencari durian yang hanya diperbolehkan pada pukul 4 – 8 pagi bagi masyarakat yang tidak memiliki kebun durian.

e. Rakik-rakik
Rakik- rakik terbuat dari bambu yang dirancang seperti rumah adat, yang pada bagian tengah terdapat hiasan miniatur Rumah Gadang dan Masjid yang diberi lampu dari bambu sebagai penerangan. Kemudian rakik diapungkan di danau maninjau untuk memeriahkan malam takbir saat lebaran.

f. Merantau 
Anak laki-laki yang telah dewasa harus pergi ke wilayah lain untuk mencari pengalaman dan menjalani kehidupan baru disana. Laki-laki tersebut siap menghadapi segala kesulitan di negeri orang hingga sukses kembali ke kampung untuk membangun kampung.

Tradisi ini menjadikan masyarakat minang lebih gigih dalam bekerja dan meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia. seperti figur minang yang sukses di rantau yaitu Muhammad Hatta, Tan Malaka, dan Sjahrir. Sastrawan ternama Indonesia seperti Buya Hamka dan Chairil Anwar juga berasal dari Minang.

4. Rumah adat 

Rumah adat minang kabau yaitu rumah gadang atau rumah bagonjong. Memiliki atap bagonjong seperti tanduk kerbau. Setiap bagian di rumah gadang memiliki makna dan filosofi tersendiri. Rumah ini tempat tinggal keluarga satu suku, sehingga setiap suku yang ada di minang akan memiliki rumah gadang masing-masing.

Rumah ini memiliki beberapa kamar untuk satu keluarga yang sudah menikah. Sedangkan anak laki-laki tidur tidak di rumah gadang melainkan di surau atau masjid.

5. Bahasa 

Bahasa sehari-hari masyarakat maninjau yaitu bahasa minang. Namun, setiap dusun yang ada di sekeliling danau Maninjau mamiliki logat dan dialeg bicara yang berbeda-beda, dan bahkan ada beberapa kata yang sama tapi memiliki makna yang berbeda.

6. Pakaian adat 

Pakaian adat kebesaran Minangkabau untuk:
a. Laki-laki memakai pakaian penghulu yang terdiri dari :

  • Deta : tutup kepala yang menunjukkan derajat dan kedudukan si pemakai. 
  • Baju penghulu berwarna hitam sebagai lambang kepemimpinan. Lengan baju memiliki ornamen benang makao. 
  • Sarawa (Celana penghulu). Ukuran kakinya besar karena memiliki makna agar pemakai memiliki kebesaran dalam memenuhi segala panggilan dan hal yang patut dituruti dalam hidup bermasyarakat. 
  • Aksesoris  : sasampiang, cawek (ikat pinggang), sandang, keris, dan tungkek (tongkat). 


b. Perempuan diminang disebut Limpapeh Rumah Nan Gadang, memiliki makna bahwa wanita di Minang sebagai “Tiang di rumah gadang”. Pakaian adat terdiri dari:


  • Baju batabua : baju yang bertabur dengan benang emas, melambangkan kekayaan alam Minangkabau.  
  • Minsie : bagian tepi baju yang diberi benang emas. 
  • Tingkuluak tanduak : hiasan kepala perempuan yang berbentuk runcing dan bercabang, mirip dengan atap rumah gadang. 
  • Lambak atau sarung : bagian bawah pakaian adat wanita Minang. 
  • Salempang, memiliki makna filosofis bahwa wanita memiliki tanggung jawab terhadap anak cucunya dan waspada terhadap segala sesuatu.


7. Persatuan daerah 

Setiap daerah di sekeliling danau Maninjau memiliki persatuan daerah yang anggotanya tidak hanya orang di sekitar danau maninjau saja tapi juga perantau danau maninjau yang sedang merantau diseluruh Indonesia bahkan juga luar negeri.

Tujuannya untuk mengikat kembali tali persaudaraan dengan saudara yang telah merantau, sehingga dapat bersama-sama membangun kampuang menjadi lebih baik lagi.Beberapa diantaranya yaitu :

a. IKBM (Ikatan Keluarga Balai-Belo Membangun)
b. IKNP (Ikatan Keluarga Nagari Paninjauan)
c. IKEK (Ikatan Keluarga Koto Kaciak)
d. IKTR (Ikatan Keluarga Tanjung Raya)

Itulah beberapa keunikan dan kekhasan Maninjau. Masih banyak lagi hal unik dan pesona yang bisa ditemukan di Maninjau dan Padang sekitarnya jika anda berkunjung kesana seperti wisata dan festival budaya yang digelar disana.

Namun, budaya tidak akan dikenal dan bertahan apabila para generasi muda dan masyarakat tidak ikut berpartisipasi dalam melestarikan budaya tersebut. karena budaya ibarat tanaman langka, apabila tidak dilestarikan maka akan punah dan hilang ditelan zaman.

Jadi, mari lestarikan budaya yang ada di tempat tinggal kita agar tidak hilang dan tetap dikenal hingga generasi berikutnya.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Budaya Urang Awak. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Weni Suryati  ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Pesona Budaya Urang Awak - Maninjau Indah "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel