Pulau Banda Naira, Warisan Sejarah Nan Eksotis dari Wilayah Timur Indonesia


Pulau Banda Naira adalah salah satu pulau kecil yang terletak di daerah Kepulauan Banda, dan merupakan pusat administratif dari Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Indonesia. Secara administratif, Banda Naira sendiri terbagi dalam 6 desa yaitu Dwiwara, Kampung Baru, Merdeka, Nusantara, Rajawali dan Tanah Rata.

Topografi pulau kecil ini cenderung datar, sehingga sangat memungkinkan untuk didirikan kota kecil. Pulau Banda Neira sendiri memiliki kantor pemerintahan, toko, dermaga, dan bandara. Penduduk pulau ini berjumlah kurang lebih sebanyak 14.000 orang.

Untuk mencapai pulau ini, kita dapat menggunakan pesawat Susi Air berkapasitas 10 orang yang biasa berangkat pada hari Senin dan Rabu dari Bandara Pattimura, Ambon dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. Bandara di Banda Naira ini memiliki berbagai macam fungsi seperti tempat bermain anak-anak jika ada ekstrakulikuler dan tempat para hewan peliharaan seperti sapi biasa memakan rumput.

Pulau kecil ini memiliki tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Di pulau ini, kita akan menemukan banyak rumah panggung dan nyaris tidak ada lagi lahan kosong untuk rumput agar tumbuh dan lahan untuk tempat bermain anak-anak.

Pulau kecil ini menyimpan banyak cerita tentang sejarah penjajahan dari bangsa Eropa. Di pulau Banda Naira, terdapat sebuah gereja tua yang sudah tidak digunakan lagi. Gereja tua itu dibangun oleh Daendels. Menurut catatan sejarah, sebelum Belanda menguasai kota Batavia atau Jakarta, Belanda ternyata sudah lebih dulu menguasai Banda Naira.

Hal ini dikarenakan Banda Naira kaya akan pala, salah satu jenis rempah-rempah termahal di pasar Eropa pada waktu itu. Hal ini dibuktikan dengan adanya Istana Mini, yang dulunya merupakan tempat tinggal Joen Pieterszoen Coen, Gubernur Jenderal pertama di Indonesia.

Istana ini disebut dengan Istana Mini karena ukuran bangunannya yang cukup kecil. Istana Mini ini kabarnya dibangun oleh Belanda, yaitu setahun sebelum dibangunnya Istana Merdeka yang berada di Bogor.

Selain itu, salah satu bukti lain dari kisah penjajahan Bangsa Eropa di pulau kecil ini yaitu Monumen Parigi Rante. Monumen ini dibangun untuk memperingati peristiwa pembantaian saudagar-saudagar kaya di Banda Neira. Pembantaian ini terjadi karena Belanda ingin merampas kekayaan rempah-rempah pala dari tangan mereka.

Di Pulau Banda Naira ini, terdapat Rumah Pengasingan peninggalan Bung Hatta, Sutan Syahrir dan Dr. Cipto Mangunkusumo. Rumah ini menjadi saksi bisu tempat tinggal mereka saat menjalani pengasingan di Banda Naira.

Selain itu, ada juga rumah bekas tempat Bbung Hatta mengajar anak-anak di pulau itu pada masa pengasingan tersebut. Pengasingan inilah yang menjadi alasan nama Sutan Syahrir dan Bung Hata akhirnya dijadikan sebagai nama salah satu pulau yang berada di kepulauan Banda Neira termasuk nama universitas di pulau ini yaitu STTP Muhammadiyah Hatta-Syahrir yang sudah terakreditasi oleh BAN-PT.

Selain rumah pengasingan Bung Hatta dan STTP Muhammadiyah Hatta-Syahrir, kita juga bisa menemukan berbagai macam Benteng nan indah yang dibangun oleh Portugis dan Belanda, salah satunya yaitu benteng Belgica. Benteng ini dibangun oleh bangsa Portugis sebelum akhirnya diambil alih oleh bangsa Belanda.

Benteng Belgica digunakan sebagai tempat untuk memantau kedatangan musuh. Namun, pada saat pasukan VOC datang dan menguasai Banda Neira, benteng ini pun dialihfungsikan sebagai tempat untuk memantau lalu lintas kapal dagang yang berada di sepanjang perairan pulau Banda Naira. Benteng-benteng lainnya yang juga digunakan sebagai tembok pertahanan Belanda adalah Benteng Nassau, Benteng Revengie, Benteng Hollandia, dan Benteng Concordia.

Pada saat periode pertama kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dibangun rumah pesanggrahan Presiden di pinggir pantai Banda Naira ketika Presiden SBY melakukan kunjungan kerja ke sana. Rumah pesanggrahan ini dibangun tepat berhadapan dengan Gunung Banda Api. Di dekat gunung Banda Api ini, kita juga bisa melihat 2 kapal besar yang selalu beroperasi untuk mengolah ikan untuk siap diekspor ke luar negeri.

Ada satu lagi warisan sejarah nan eksotis di Banda Naira yaitu Rumah Budaya. Jika biasanya rumah hanya merupakan tempat tinggal, tetapi rumah yang kali ini berbeda. Berlokasi di Pulau Banda Naira, Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Rumah ini berisikan info dan sejarah mengenai Pulau Banda Naira.

Rumah Budaya ini ibarat museum mini yang menyimpan benda-benda bersejarah di Banda Neira. Bangunan yang didesain berasistektur Belanda ini merupakan milik keluarga Des Alwi, sejarawan yang berpengaruh untuk Banda Neira, serta Indonesia. Beliau sendiri merupakan anak angkat dari Bung Hatta.

Di dalam rumah budaya ini, kita bisa menemukan berbagai macam benda-benda peninggalan VOC, berupa meriam yang memiliki bentuk beragam jenis, keramik-keramik, koin-koin, alat musik, serta lukisan khas Belanda. Banyak hal unik dapat ditemukan di tempat ini, contohnya seperti sejumlah lonceng yang bertuliskan teks Belanda seperti: Spice Eaves dan lainnya yang berada di bagian belakang museum.

Lonceng ini dulu difungsikan sebagai alat untuk memberitahu para pekerja rempah-rempah pala kapan harus memulai dan kapan berhenti beraktifitas. Hal yang menarik lainnya yaitu lukisan yang berada di ruang utama museum dengan posisi tergantung. Itu adalah lukisan raksasa yang menceritakan pembantaian orang-orang terpandang di Banda tahun 1621.

Lukisan-lukisan itu memberikan gambaran yang jelas tentang kengerian yang telah terjadi di sekitar lokasi. Berbagai jenis alat perang seperti senjata dan meriam, alat musik, keramik Tiongkok, uang kuno serta benda lainnya juga turut mengisi tempat ini. Selain berbagai macam peralatan di atas, banyak juga yang bisa ditemukan di tempat ini tentang berbagai tradisi budaya kuno yang masih hidup.

Seperti tarian perang Cakalele yang dilakukan oleh anak laki-laki berpakaian dengan helm Portugis serta lomba perahu perang Kora-Kora. Menurut info yang saya peroleh, biaya untuk masuk ke rumah budaya ini adalah Rp. 20.000,- yang sudah termasuk uang retribusi masuk dan biaya perawatan.

Demikianlah sedikit cerita mengenai Pulau Banda Naira beserta berbagai macam sejarah di dalamnya yang ditulis oleh Irving Josafat Alexander Silaban. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Trimakasih!

0 Response to "Pulau Banda Naira, Warisan Sejarah Nan Eksotis dari Wilayah Timur Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel