Ragam Budaya Ramah dan Ragam Wisata: Indonesia sebagai Potensi Destinasi Wisata Dunia



Seorang blogger wisata Cailin O'Neil di dalam tulisannya yang berjudul "10 reason you should visit Indonesia" menyebutkan bahwa salah satu alasan yang membuat Indonesia menjadi tempat yang wajib dikunjungi adalah "orang-orangya".

O'Neil mengatakan bagaiamana pengalamannya berwisata ke Indonesia itu telah membawanya mejadi lebih bahagia. Kebahagiaan itu Ia dapat ketika melihat bagaimana orang-orang Indonesia yang Ia temui selalu memberikan senyuman yang tulus kepadanya.

Erupa dengan O'Neil, Alex Waltner seorang blogger asal Swedia di dalam tulisannya yang berjudul "7 Reason to Love Indonesia" menyebutkan bahwa salah satu hal penting kenapa Indonesia dicintai oleh pelancong dunia adalah kebudayaannya.

Waltner mengetahui bahwa Indonesia adalah negara dengan ribuan pulau. Pulau-pulau itu terpisah dan orang-orang di dalamnya memiliki kebudayaan yang unik. Bagi pelancong seperti dirinya, keberagaman budaya itulah yang menyebabkannya mencintai Indonesia.

"Anda bisa berjalan ke berbagai tempat di Indonesia dan menemui sesuatu (kebudayaan) yang baru", jelasnya. Oleh karenanya, Indonesia adalah tempat yang tidak akan pernah "habis" untuk dieksplor.

Harrison dan Lugosi (2013), menyebutkan bahwa salah satu hal penting di dalam pariwisata adalah kebudayaan. Budaya menjadi penyekat antara penerima (host) dan tamu (guest). Sekat yang mebelah kedua kebudayaan itu menjadi hal yang menarik bagi pelancong.

Terutama pelancong dari luar negeri. Penerima tamu dan tamu memiliki perbedaan bahasa, adat-istiadat, makanan dan berbagai atribut budaya lainnya. Hal itulah yang menyebabkan, bagaimana pelancong dari berbagai negara merasa penasaran untuk mengetahui lebih jauh tentang kebudayaan Indonesia.

Will Tang, seorang blogger wisata menyebutkan pengalaman spiritualnya yang amat menyenangkan ketika mengunjungi Bali. Pengemudi mobil sewaannya mengantarkannya ke kampung-kampung di Bali dan di sana Ia melihat kehidupan tradisional orang Bali. Di sana, Ia melihat candi dan cara beribadah orang lokal, tari Barong, pasar lokal, dan pembuatan kerajinan tradisional.

Bagi kita, orang lokal atau mereka yang tinggal di Bali. Melihat kegiatan yang demikian sudah menjadi hal yang biasa. Tapi, bagi mereka yang berada di luar negeri melihat hal tersebut merupakan pengalaman menarik dan relijius yang tidak terlupakan.

Di situlah kita bisa melihat adanya sekat yang membelah antara dua kebudayaan. Kebudayaan lokal (penerima tamu) dan kebudayaan asing (tamu). Menurut BPS, setidaknya terdapat 614 suku bangsa dan sub suku bangsa yang berada di Indonesia.

Di setiap bangsa dan sub suku bangsa itu memiliki bahasa yang berbeda. Indonesia merupakan negara peringkat dua dengan keberagaman budaya terbanyak setelah Papua Nugini. Jika kebudayaan itu didefinisikan berdasarkan perbedaan bahasa.

Maka, setidaknya Indonesia memiliki 600 kebudayaan yang menjadi potensi wisata Dunia. Budaya adalah konsep yang kompleks. Secara antropologis setidaknya ada 500 lebih definisi mengenai budaya.

Salah satu definisi budaya yang paling familiar adalah seperangkat norma, aturan dan adat istiadat. Budaya secara materil merupakan praktik keseharian yang manusia lakukan melalui bahasa, organisasi sosial, religi, dan sistem kekerabatan. Setiap budaya memiliki kekhasannya masing-masing.

Sejak abad ke 17, kekhasan budaya telah menarik minat bangsa-bangsa di dunia untuk saling terhubung. Beberapa peneliti ilmu budaya, etnolog, etnografer dan antropolog pada masa itu rela datang jauh-jauh untuk mempelajari budaya "orang-orang diluarnya".

Orang-orang yang mereka anggap unik. Perbedaan budaya bukanlah batasan yang memisahkan kelompok yang satu dan lainnya. Lebih dari itu, budaya bisa menjadi alat yang saling mempertemukan bangsa-bangsa di dunia untuk bertemu, bertukar pikiran, dan saling mempelajari.

Pada milenium baru ini, budaya menjadi aspek yang penting. Budaya bukan lagi menjadi praktik keseharian tetapi menjadi "kelebihan" yang bisa dimanfaatkan. Salah satunya adalah pariwisata. Salah satu hal penting di dalam pariwisata adalah budaya ramah (hospitality).

Keramahan seperti menjadi pra syarat sebuah negara untuk menjadi destinasi wisata di Dunia. Beberapa negara di Dunia menggunakan tanda keramahan di dalam slogan pariwisatanya. Salah satu contohnya adalah Thailand. Thailand menggunakan slogan "Amazing Thailand" dan mereka menyebut negaranya sebagai "Land of Smile".

Sementara, Indonesia menggunakan slogan "Wonderful Indonesia". Tidak seperti Thailand yang gencar menyebarkan slogan sebagai tanah yang ramah. Indonesia tidak menyebarkan hal tersebut, akibatnya hanya turis-turis asing yang pernah mengunjungi Indonesia lah yang menulisnya di dalam blognya.

Padahal, jika pemerintah secara serius memplokamirkan slogan mengenai keramahan orang Indonesia hal itu bisa menjadi potensi datangnya wisatawan asing ke Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kunjungan wisatawan terbanyak di Dunia.

Budaya keramahan datang di Indonesia datang secara mendasar dari berbagai kebudaayan suku-bangsa di Indonesia. Ketika membicarakan budaya Indonesia, maka kita tidak bisa melepaskan dari berbadai kebudayaan suku bangsa di dalamnya.

Anderson menyebutnya sebagai mosaik kebudayaan bangsa Indonesia. Indonesia yang diisi 600-an suku bangsa di dalamnya, sehingga kebudayaan nasional Indonesian adalah gabungan dari berbagai suku bangsa yang ada di dalamnya.

Perlu dipahami sebelumnya bahwa kebudayaan adalah sebuah hal yang abstrak. Sehingga, adat-istiadat dan norma yang dikenal dalam satu kebudayaan belum tentu akan menentukan seseorang di akan bersikap baik, ramah, dan sopan kedapa orang lain.

Di bawah ini, merupakan beberapa pemahaman dan ideologi yang dimiliki oleh suku-bangsa di Indonesia yang setidaknya mengajarkan tentang berbuat baik kepada orang lain. Suku bangsa Jawa mengenal isitilah tata krama, andhap-ansor, dan tanggap ing sasmita.

Seperti yang kita ketahui, tata krama merupakan tingkah laku yang digambarkan sebagai sebuah tindakan yang baik dan sopan. Sebagai contoh bagaimana kita harus menunduk kepada orang yang lebih tua ketika melewatinya.

Andhap ansor merupakan nilai yang dipegang oleh orang Jawa untuk selalu memuji orang lain dan merendahkan dirinya. Dengan kata lain, orang Jawa akan berusaha membuat dirinya biasa-biasa saja di depan orang lain.

Tanggap ing sasmita dimaknai sebagai "maksud". Bagi orang Jawa, melihat maksud tersirat adalah hal yang harus dimiliki oleh orang Jawa. Dengan kata lain, orang Jawa tidak akan secara langsung berbicara mengenai kejelekan atau hal yang tidak Ia sukai dari orang lain. Hal itu akan digantikan dengan tanggap ing sasmita itu tadi.

Oleh karena itu, orang Jawa memiiki filosofi hidup berupa tepo sliro, artinya jangan melakukan hal-hal yang akan menyakiti hati orang lain. Jangan lakukan suatu hal yang kita tidak suka jika hal itu terjadi kepada diri kita sendiri.

Bukan hanya Jawa, suku bangsa Sunda juga memiliki filosofi hidup dan budaya yang menjurus kepada sikap-sikap ramah. Bagi suku bangsa Sunda, mengacu kepada Salamadian (2015) mereka memiliki filosofi hidup yang disebut sebagai "someah hade ka semah".

Filosofi itu bermakna ramah, baik, menjamu, dan menjaga setiap tamunya. Sikap-sikap keramahan itu juga terlihat dari bagaiamana orang Sunda biasanya memiliki selera humor yang tinggi. Mengacu kepada Salamadian, budaya humor itu termaniferstasikan ke dalam artefak kebudayaan berupa wayang golek, bodoran, dongeng-dongen Sunda, Si Ijem, ceramah Jujun dan lainnya.

Setidaknya ada dua budaya yang termanifestasikan ke dalam filosofi orang Jawa. Filosofi itu adalah karma phala dan sopan santun. Bagi orang Bali, karma phala merupakan tuntunan untuk selalu berbuat baik bagi sesama.

Orang Bali percaya bahwa ketika kita berbuat baik, maka di kehidupa selanjutnya juga akan hidup dengan baik. Dengan kata lain, orang-orang yang kurang beruntung merupakan kondisi yang menandakan bahwa orang itu berbuat tidak baik pada kehidupan sebelumnya. Selanjutnya adalah sopan santun. Sopan santun berasal dari kasta yang ada di Bali.

Sehingga, orang Bali akan bersikap baik kepada orang-orang yang lebih tua. Tidak hanya itu, sikap itu juga ditunjukan dengan bahasa Bali yang lembut dan cara mereka memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan "Bli".

Suku Dani di Lembah Baliem Papua merupakan suku bangsa yang ramah. Suku bangsa Dani telah lama menerima kedatangan tamu, peneliti, maupun orang-orang di luar kelompoknya. Tidak heran jika kemudian, suku Dani menjadi destinasi wisata maupun tempat belajar banyak ilmuan dari Indonesia dan luar negeri.

Dibalik penampilannya yang garang, tubuh tegap dan taring babi di hidungnya. Suku Dani mampu menerima kontak budaya dari luar sekaligus mereka menjadi tuan rumah dari festival besar dan terkenal bernama "Festival Lembah Baliem".

Ketika saya mengunjungi festival budaya di Lembah Baliem, saya merasa orang Dani  berprilaku sangat ramah. Di balik megah dan ramainya acara. Saya memperhatikan bagaimana orang Dani kala itu ramai-rama menyediakan tempat duduk bagi penonton.

Di sana saya merasa tersentuh. Bangsa Dani telah memiliki sejarah panjang sebagai  suku bangsa yang biasa menerima orang-orang di luarnya. Budaya keramahan itu merupakan suatu filosofi hidup semua suku bangsa di Indonesia

Suku bangsa Melayu merupakan salah satu dari suku bangsa mayoritas di Indonesia. Bangsa Melayu merupakan kelompok yang tersebar dari semenanjung Malaysia sampai ke ujung pulang Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.

Suku bangsa Melayu memiliki sejarah panjang sebagai bangsa penerima (host). Aktifitas dagang di Selat Malaka, menjadi awal kontak budaya suku bangsa Melayu dengna orang-orang di luarnya. Pada wilayah-wilayah itu hidup berbagai kelompok kebudyaan selain suku bangsa Melyau semisal: etnik Tionghoa, ras Indo-Cina, India, Arab dan kelompok kebudayaan lainnya di Dunia.

Mereka menjalin hubungan dagang, bisnis, juga perkawinan. Sikap menerima itu pernah di bahas dalam sebuah artikel "Adat Istiadat Orang Melayu" yang kurang lebih isinya membahas bagaimana suku Melayu adalah suku bangsa yang bisa berkomunikasi dan menjalin hubungan baik dengan kelompok di luarnya.

Paragraf sebelumnya menunjukkan beberapa filosofi hidup, adat istidat, budaya, dan cara pandang sebagian suku bangsa di Indonesia. Masih banyak suku bangsa di Indonesia yang memiliki karakter dan adat istiadat keramahan yang beragam.

Potensi keramahan dan ragam budaya itu telah menjadi modal besar bangsa Indonesia untuk mengembangkan sektor pariwisatanya lebih jauh lagi. Tidak setiap negara memiliki ragam budaya yang hiper diversity seperti Indonesia tapi mampu mengembangkan sektor wisata budayanya lebih jauh. Salah satunya adalah Jepang.

Di Jepang, hanya terdapat tiga suku bangsa besar. Namun, dengan memaksimalkan potensi kebudayaan yang mereka miliki Jepang menjadi salah satu destinasi wisata paling favorit di Dunia.

Mengingat Indonesia memiliki potensi yang besar mengenai wisata budaya dan modal awal berupa keramahan orang-orangnya, bangsa Indonesia akan menjadi destinasi utama di Dunia. Sektor wisata juga dapat menyubang pemasukan kepada negara Indonesia.

Lebih dari itu, sektor wisata juga akan membuka banyak lapangan pekerjaan bagi warga lokal di Indonesia. Namun, tentunya dengan syarat-syarat utama lainnya yaitu, infrastruktur yang baik dan juga keamanan dan tingkat kriminialitas yang rendah. Jika semuanya sudah siap, maka suku bangsa di seluruh Indonesia sudah siap menyajikan keramahan yang datang dari hati mereka.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Ragam Budaya Ramah dan Ragam Wisata. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Moh. Rifaldi Akbar ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Ragam Budaya Ramah dan Ragam Wisata: Indonesia sebagai Potensi Destinasi Wisata Dunia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel