Ragam Upacara Adat Mandar, Bukti Awetnya Warisan Leluhur


Indonesia memiliki suku dan budaya dengan keanekaragamannya yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Salah satu kebudayaan yang menarik untuk disaksikan adalah Upacara – Upacara adat.
Sebab ada banyak hal unik dan tak terduga yang dilakukan selama proses upacara tradisional tersebut.

Sama halnya dengan salah satu suku yang ada di wilayah barat sulawesi yang disebut suku Mandar. Di Mandar Sendiri ada banyak Upacara – Upacara Adat yang sudah menjadi tradisi turun temurun yang dilakukan sejak bertahun – tahun lamanya dan yang paling menarik untuk ditelusuri adalah Upacara adat Lingkungan hidup ( Daur hidup).

Upacara ini merupakan tahapan yang dilakukan oleh seorang ibu dimulai dari mengandung anaknya hingga setelah anaknya lahir, upacara sunatan dan upacara kematian. Upacara ini sudah sangat kental dimasyarakat dan menarik untuk disaksikan.

Untuk itu mari kita menelusuri lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana norma – norma budaya yang melekat pada masyarakat mandar melalui upacara adat tersebut.

1. Upacara Meuri’
Upacara ini merupakan prosesi yang harus dilakukan oleh wanita Mandar yang tengah hamil. Jadi setelah seorang perempuan hamil 7 bulan sampai 8 bulan, biasanya dilaksanakan upacara meuri’. Upacara ini dimaksudkan agar proses melahirkan nanti berjalan lancar, terutama bagi perempuan yang baru pertama kali melahirkan.

Pada acara ini, tuan rumah menyiapkan kue – kue berbagai jenis bentuknya, ayam betina 1 ekor, tempayang berisi air, kayu, beras, dan sebagainya. Adapun proses pelaksanaannya adalah : perempuan hamil duduk bersanding dengan suaminya.

Keduanya memakai pakaian adat mandar. Lalu suami istri itu diminta memilih kue – kue untuk dimakan. Jika yang dipilih kue bentuknya bundar atau bulat, maka dapat diperkirakan bayi yang akan lahir adalah seorang bayi laki – laki. Tetapi jika yang dipilih adalah kue yang bentuknya gepeng, maka diperkirakan bayinya seorang bayi perempuan.

Selesai makan bersama (Ni pande mangirang), perempuan hamil berbaring diatas kasur, kemudian sando piana (dukun) menaburkan beras diatas dahi dan perut orang hamil. Ayam yang telah disiapkan mencotot beras yang ditaburkan tadi sampai habis.

Kemudian dukun meletakkan sebuah piring berisi beras ketan, telur, dan lilin yang menyala diatas perut perempuan hamil, dipindahkan kebagian dahi. Kemudian dukun menyayun – ayunkan piring beberapa kali dari atas kepala sampai ke kaki perempuan hamil.

Setelah itu ayam di lambai – lambaikan di sekujur tubuh toniuri’ sebanyak tiga kali atau lima kali dan sebanyak – banyaknya tujuh kali. Selanjutnya ayam dilepas melalui pintu depan rumah, dan toniuri’ dibangunkan, lalu diantar ke pintu depan rumah.

Di pintu depan rumah, dukun memegang kayu yang sedang menyala dibagian atas kepala toniuri’ dan nyala api disiram dengan air yang dicampur dengan burewe tadhu, banguttuwo, ribu – ribu, daun atawang dan daun alinduang.

Penyiraman dilakukan berkali – kali sampai nyala api padam dan membasahi seluruh tubuh toniuri’ sisanya segera dibuang ke tanah dan pakaian toniuri’ dilepas (nilullusi) untuk dihadirkan kepada sando. Penyiraman air kepala toniuri’ sebanyak empat belas kali, dimaksudkan agar bayi yang dikandungnya kelak berwajah bagaikan bulan purnama.

2. Upacara Mappepiana’
Upacara ini merupakan lanjutan dari upacara sebelumnya yaitu Sando piana ( dukun beranak) membaringkan perempuan yang akan melahirkan, dengan posisi yang dapat memudahkan melahirkan.

Kemudian memberikan tuntunan kepada yang akan melahirkan, sekaligus memberikan semangat dengan ucapan “pingge’ dengo’o” (meminta mendorong bayinya keluar dengan tehnik pernapasan). Hal ini dilakukan berkali – kali sampai jabang bayi keluar dari rahim ibunya.

Setelah jabang bayi keluar, sando piana membakar dupa lalu mencairkan garam dan diminumkan kepada yang melahirkan, agar tidak terjadi pendarahan yang berlebihan. Kemudian pamaissang ( asam mangga) diberi air secukupnya dan diremas – remas.

Air remasan tersebut diminumkan kepada ibu yang baru melahirkan agar peranakan yang tadinya kembung menjadi normal kembali. Bayi yang baru lahir, ujung lidahnya diolesi gula merah atau cani’ ( madu ) dan garam, agar kelak jika dewasa memiliki sifat – sifat yang manis ( baik) , beruntung, dan memiliki ilmu pengetahuan yang luas.

Pemotongan tali plasenta (tauni), dilakukan dengan menggunakan sembilu. Setelah itu dilanjutkan dengan membungkus bekas potongan tali plasenta dengan kulit waru. Setelah luka diperkirakan sembuh, barulah pembungkus dibuka.

Sementara itu, tali plasenta yang dipotong tadi langsung diberi ramuan yang terdiri dari garam, gula merah, potongan rambut dari ibunya, asam, dan daun waru. Setelah itu dimasukkan kedalam bilangang tertutup kain putih, dan ditenggelamkan kedasar laut.

Sesudah sando piana membersihkan bayi, selanjutnya bayi dipakaikan selimut, lalu diserahkan kepada Kadhi/Imam. Kemudian Kadhi/Imam menggendong bayi tersebut sambil menghadap kiblat dan melantunkan iqamah (Maqqama).

Ketika Kadhi/Imam melantunkan kalimat “baiya alash shalah” mulut Kadhi/Imam didekatkan ditelinga kanan si bayi. Dan saat melantunkan “baiya alash falah”, mulut Kadhi/Imam didekatkan ditelinga kiri si bayi.

3. Upacara Mappandhai’ Di Toyang
Sebelum bayi dinaikkan ke atas ayunan, terlebih dahulu dinyalakan tiga buah lilin dibagian kepala dan 2 lilin di kaki. Kemudian si bayi dinaikkan kedalam ayunan oleh sang ibu disamping istri Kadhi/Imam. Sang ibu mengayun si bayi sambil melantunkan nyanyian syair yang mengandung petuah atau pesan – pesan.

4. Upacara Ma’akeka’
Upacara ini dilaksanakan pada hari ke tujuh atau ke empat belas setelah bayi lahir. Inti dari acara ini adalah pemotongan hewan, kambing dua ekor untuk bayi laki – laki dan satu ekor untuk bayi perempuan.

Setelah pemotongan kambing, keesokan harinya dilaksanakan acara pembacaan Al-Barzanji diatas rumah, yang dihadiri oleh tamu – tamu undangan. Pada saat pembacaan Al-Barzanji sampai pada kalimat “asy raykal badru alaina” para pembaca Al- Barzanji berdiri, diikuti oleh para undangan.

Pada saat itulah bayi digendong oleh sang ayah diikuti oleh sang ibu yang membawa kelapa muda yang telah dilubangi, menuju ke orang – orang yang telah ditunjuk untuk menggunting rambut si bayi.

Pemotongan rambut dimulai oleh Kadhi/Imam, disusul orang – orang yang ditunjuk tadi, biasanya terdiri dari lima atau tujuh orang yang dianggap berhasil mendidik anaknya, berilmu, mapan kehidupan ekonominya, juga pemuka masyarakat lainnya. Pemotongan rambut dimasukkan kedalam kelapa tersebut.

5. Upacara Masunna
Upacara masunna dibagi dalam beberapa tahapan, yaitu :

a. Pembacaan Al-barzanji
Perbacaan Al- barzanji dilakukan secara bergantian, disaat pembacaan akan masuk pada kalimat “Asyrakal badru alaina” seluruh hadirin berdiri. Pada saat itulah dilakukan acara pala ttigian (pengolesan daun pacar yang sudah dihaluskan, pada kedua telapak tangan anak yang akan disunna). Dimulai oleh Kadhi/Imam dilanjutkan oleh enam orang pemuka masyarakat lainnya secara berturut – turut.

b. Masunna’
Setelah acara palattingian, anak yang akan disunna’ duduk diatas kelapa tua. Kemudian sando/dukun emnjepit kulit bagian ujung alat kelamin anak tersebut, lalu sando dengan suara yang agak keras mengucapkan “allahumma shalli ala muhammad, allahumma shalli ala saidina muhammad” dan disambut oleh para hadirin dnegan ucapan “Shallu alaihi” kemudian sando memotong kulit pada bagian ujung alat kelamin si anak sampai putus, dan si ibu si anak memanggil nama anak tersebut.

Setelah anak itu menjawab panggilan ibunya, maka sianak diberi air untuk diminumnya. Setelah itu, sando memberikan ramuan penangkal roh jahat, berupa biji kunyit, bawang merah dan lombok besar dalam satu tusukan bulu enau.

c. Nigeso’ atau Nirata’
Acara ini adalah acara meratakan gigi anak yang telah disunna’, dengan menggunakan batu asahan dan batu keras tetapi halus permukaannya.

d. Mambaca
Acara selanjutnya adalah acara doa keselamatan yang dilakukan oleh Kadhi/Imam bersama para undangan kemudian tuan rumah membagikan barakka’ (bingkisan beberapa bungkusan sokkol, beberapa buah pisang, telur, dan sebagainya) kepada para hadirin. Tuan rumah juga menyiakan hidangan untuk disantap bersam – sama.

e. Mattarima passolo
biasanya, setiap melaksanakan acara penyunatan, orang tua menyampaikan undangn kepada kerabat dan handai taulan (mappepissang). Para undangan tersebut akan hadir dan menyampaikan ucapan selamat. Setiap passolo’ juga akan membawa hadiah kepada tuan rumah, yang telah mengundang dan menyuguhkan makanan.

6. Upacara Mapperewai tomate
Upacara Mapperewai tomate adalah upacara pemakaman orang mati. Rangkaian acara tersebut ialah sebagai berikut :

  • Mappangajiang tomate, yaitu pembacaan ayat suci Al-Quran, pahalanya ditujukan kepada orang yang meninggal dunia.
  • Mappandoe’ tomate, yaitu acara memandikan mayat.
  • Mambalung tomate, yaitu acara pembungkusan mayat (mengkafani) dengan kain putih.
  • Massambayang tomate, yaitu acara menshalati mayat.
  • Mambulle tomate, yaitu acara memikul mayat ke tempat pemakaman.
  • Mallamung tomate, yaitu acara menurunkan mayat ke liang lahat lalu ditimbun dengan galian tanah liang lahat, seiring dengan nisulapa’ ( pembacaan ayat – ayat suci alquran yang dilakukan oleh empat orang dari arah timur, barat, utara dan selatan. Setelah liang lahat tertimbun penuh, maka dilanjutkan dengan mappake’de’ tinda (memasang nisan kubur). Dan terakhir adalah mattalakking atau pembacaan doa keselamatan untuk orang mati.
Upacara adat tersebut masih terus dilakukan oleh masyarakat Mandar hingga saat ini sebagai bentuk kehormatan kepada nenek moyang. Ini menjadi bukti bahwa setiap daerah memiliki upacara adat masing – masing dan saling menghormati akan setiap budaya yang dimiliki. Itulah Indonesia, dimana kita berada tempat – tempat yang memiliki jarak serta budaya yang berbeda – beda namun hal tersebut tetap menjadikan kita hidup rukun dan tentram.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Upacara Adat Mandar. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Triana Wulandari ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Ragam Upacara Adat Mandar, Bukti Awetnya Warisan Leluhur"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel