Ritual 100 Tahun : Budaya untuk Melestarikan Hewan Langka


Pesona alam nan eksotis, paras yang anggun, rempah pemikat sajian makanan, tak lupa budaya dan kearifan lokal menjadi daya tarik kehadiran mancanegara untuk mengeksplor nilai, estetika dan makna apa itu Bali.

Menyentuh keseimbangan antara budaya dan alam merupakan kunci kesinambungan bagi masyarakat Bali. Prinsip utamanya Tri Hita Karana (tiga penyebab terciptanya kebahagiaan) meliputi hubungan manusia dengan Tuhan sebagai maha pencipta, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan tumbuhan dan hewan. Begitulah tujuan harmonis bisa tercapai.

Banyak cerita, sejarah dan filosofi yang menarik untuk di ulik khususnya tentang makna ritual atau upacara 100 Tahun Saka di Bali.  Aroma wewangian dupa atau menyan biasanya berkesan mistis, tak jarang para pelancong (wisatawan) merespon dalam ekspresi yang mungkin seram, unik, aneh, dan penasaran.

Tetapi sesungguhnya masyarakat Bali setiap hari (pagi dan sore) berkewajiban memberikan persembahan (sesajen), maknanya sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Namun bagaimana dengan ritual 100 Tahun sekali ? Ritual 100 Tahun diselenggarakan dan berpusat di Pura Besakih, lokasinya di kaki Gunung Agung, Kabupaten Karangasem.

Upacara atau ritual 100 Tahun ini disebut upacara Eka Dasa Rudra. Rudra (Ludra) yakni dewa sebagai manifestasi dari Tuhan. Dalam beberapa kitab Weda dewa Rudra memiliki sifat rwa bhineda, kejam sekaligus lembut, menyakiti dan menyembuhkan, marah tetapi juga tenang. Konsep Eka Dasa Rudra berasal dari pemujaan terhadap sebelas Rudra yang merupakan simbol dari sebelas kekuatan dan menguasai bhuta/kala di setiap arah penjuru angin.

Menurut babad Gunung Agung (dokumen tersimpan di Karangasem) Eka Dasa Rudra pernah dilaksanakan pada tahun Saka 11 (89 masehi) oleh Yogi Markandya dan tahun Saka 111 (189 masehi) oleh Batara Puta Jaya. Ritual Eka Dasa Rudra terakhir dilaksanakan pada bulan Maret tahun 1979.

Berdasarkan penelusuran cerita, bahwa sebelum tahun 1979, ritual Eka Dasa Rudra pernah dilaksanakan pada tahun 1963. Singkat cerita, ritual Eka Dasa Rudra pernah diadakan pada bulan Maret 1963 tetapi waktu dan ritualnya tidak tepat dan keliru menurut perhitungan penanggalan tahun Saka (kalender penanggalan syamsiah-kamariah (candra-surya) atau kalender luni-solar).

Gunung Agung mengalami erupsi saat persiapan ritual Eka Dasa Rudra, yakni tanggal 18 Maret 1963, gempa bumi tektonik terjadi tanggal 18 Mei 1963. Adanya bencana gempa bumi dan erupsi Gunung Agung saat ritual menjadi pesan pertanda buruk bagi masyarakat.

Bali kembali diguncang gempa tanggal 14 Juli 1976 berpusat di Seririt, Buleleng. Kosekuensi dari kekeliruan perhitungan tanggal ritual membawa malapetaka selain erupsi Gunung dan gempa bumi, terjadi peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965 yang menelan banyak korban jiwa, bencana alam yang menyerang Tejakula pada Februari 1969, jatuhnya pesawat Pan Am pada tahun 1974 yang menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat, hama wereng menyerang sawah ladang berulang kali, hama tikus dan belalang, banjir, tanah longsor, bayi terlahir aneh dan keresahan yang berturut-turut.

Semua itu menyebabkan para rohaniawan dan masyarakat umum menyatakan kepada Parisada Hindu Dharma (oragnisasi masyarakat Hindu), bahwa sudah saatnya diadakan ritual besar dan menghitung tanggal yang tepat. Tanggal 27 Februari sampai 23 Maret 1979 jatuh sebagai momentum pelaksanaan ritual Eka Dasa Rudra oleh seluruh umat Hindu di Indonesia. (Wirahaji, 2012)

Tujuan utama dari ritual Eka Dasa Rudra yakni memohon keseimbangan alam semesta (Bhuana Agung) dan manusia (Bhuana Alit) agar mengalami keharmonisan serta menjauhkan manusia dari bencana dan memberikan kesejahteraan.

Upacara ini dipersembahkan kepada Tri Murti (Tuhan) yang berwujud Dewa Brahma, Wisnu dan Siwa, dimana dalam rangkaian upacara adanya pemberian sesajen dengan pertimbangan sebagai pembayaran utang (penregteg) untuk memperingati pergantian abad.

Persembahan sesajen pada upacara keagaman di Bali disebut Yadnya, artinya kurban suci yang dimaksudnya kurban suci adalah hasil panen, hasil ternak, hasil tani. Hal tersebut dilakukan mengingat bagaimana alam telah menyediakan hasil bumi untuk umat manusia, alangkah baiknya manusia membalas rasa syukur dari hasil nikmat tersebut dengan mengembalikannya kembali dalam wujud upacara atau ritual suci diiringi oleh doa-doa.

Niscaya kurban suci (hasil tani dan ternak) melalui upacara tersebut dapat memberikan petuah yang benar untuk masyarakat dalam menjaga keharmonisan unsur alam, dan terhindar dari bencana alam.
Pemakaian hewan dan tumbuhan sebagai sarana upacara Yadnya telah disebutkan dalam kitab Manawa Dharmasastra V.40 menyatakan bahwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang digunakan sebagai sarana upacara Yadnya itu akan meningkat kualitasnya dalam penjelmaan berikutnya.

Manusia yang memberikan kesempatan kepada tumbuh-tumbuhan dan hewan tersebut juga akan mendapatkan pahala yang utama. Karena setiap perbuatan yang membuat mahluk lain meningkat kualitasnya adalah perbuatan yang sangat mulia.

Karena itu penggunaan hewan sebagai sarana pokok upacara bertujuan untuk meninggalkan sifat-sifat kebinatangan atau keraksasaan menuju sifat-sifat kemanusiaan, dan terus meningkat menuju ke sifat-sifat kedewataan (Budaarsa dan Budiasa, 2013)

Berdasarkan hasil penelusuran karya tulis media online menyebutkan bahwa hewan dan tumbuhan yang digunakan saat upacara Eka Dasa Rudra dikelompokkan didasarkan atas jumlah kaki dan habitat hidup dari hewan tersebut.

Pengelompokan tersebut yaitu: hewan berkaki empat, jenis burung/aves/unggas), berhabitat di hutan, berhabitat di air, berhabitat di sungai, berhabitat di laut dan hewan-hewan kecil. Berikut beberapa contoh kurban suci yadnya upacara Eka Dasa Rudra hewan kaki empat : sapi, kebo, kerbau ; unggas : angsa belang, ayam, bebek, elang, gagak ; habitat hutan : badak, babi hutan, kijang, rusa, macan, monyet, landak, trenggiling, ular, kukang, musang, rubah, luwak ; habitat sungai : udang, sidat, bulus, lele, mujair, ikan gabus ; habitat sawah : belalang, katak, belut, keong ; habitat laut : kerapu, teri, penyu ; hewan serangga (insekta) : tawon, lebah madu, larva kumbang, kalajengking, ulat bulu ; hewan langka : cendrawasih, harimau, elang jawa, penyu, jalak bali (Widnyana dkk, 2017).

Berdasarkan informasi terdapat beberapa hewan langka atau dilindungi yang menjadi bagian dari kategori upacara yadnya Eka Dasa Rudra. Apabila hewan langka tersebut termasuk dalam apendix hewan yang terancam punah lantas apakah syarat kurban suci upacara yadnya melanggar peraturan hewan langka yang dilindungi ?

Kurban suci yang termasuk daftar hewan langka bukan menjadi penghalang jalannya upacara Eka Dasa Rudra, sebab hewan langka tersebut hadir secara tiba-tiba di lokasi upacara. Apakah mungkin pertanda bahwa hewan tersebut mendapat titah sebagai syarat kurban suci yang tulus ikhlas? Bagi pelaksanaan ritual atau upacara yang bertujuan baik pasti akan selalu diberikan kemudahan dan menemukan titik terang saat saat sulit sekalipun.

Namun sekarang ini syarat kurban suci dari kategori hewan langka akan menjadi diskusi yang panjang. Untuk memastikan bahwa upacara atau ritual ini akan berlangsung di tahun tahun berikutnya, memberikan pesan kepada masyarakat untuk menciptakan ruang konservasi pelestarian dan mencetuskan peraturan daerah (awig-awig) untuk melakukan tindaklanjut konservasi seperti konservasi hewan langka dimana nantinya hewan langka tersebut berkembangbiak sehingga syarat kurban suci hewan langka tetap menjadi ritual yang secara hukum boleh dilaksanakan.

Upacara Eka Dasa Rudra secara tidak langsung memberikan makna dan pesan hubungan hakiki antara Tuhan, manusia dan alam merupakan kesatuan utuh yang harus dijaga, diberikan ruang untuk hidup.

Harapannya suatu adat, budaya, kepercayaan dan filosofi yang dianut makna dan nilai yang luhur dan merupakan aset budaya yang harus dijaga dipelihara agar tidak luntur. Melestarikan kebudayaan sama dengan melestarikan keanekaragaman hayati, karena upacara kebudayaan membutuhkan keanekaragaman hayati sebagai syarat agar proses ritual tetap berlangsung.

Demikian tulisan mengenai ritual Ritual 100 Tahun di Bali

Referensi : 

  • Budaarsa, K., K. M. Budiasa. 2013. Jenis Hewan Upakara dan Upaya Pelestariannya. Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Denpasar
  • Widnyana, I.K., D. N. Raka, C. Javandira. 2017. Caru Kearifan Lokal Bali “Tinjauan Manfaat dalam Kesuburan dan Biodiversitas Tanah”. Universitas Mahasaraswati press, Denpasar
  • Wirahaji, I.B. 2012. Pengertian Eka Dasa Rudra.











0 Response to "Ritual 100 Tahun : Budaya untuk Melestarikan Hewan Langka"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel