Memata-Matai Musuh Melalui Ronggeng Bugis


Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya. Hal ini dibuktikan karena Indonesia memiliki 17.504 pulau yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Dikutip dari Statistik Budaya tahun 2018 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah menetapkan 225 Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

Data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki banyak warisan budaya yag masih terus berkembang sampai sekarang. Selain WBTb, dikutip dari Mediaindonesia.com, pada bulan Februari 2019, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Budaya Dadang Sunendar mengatakan, terdapat 668 bahasa dari 2.468 daerah pengamatan yang baru terindentifikasi.

Data-data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia kaya akan keberagaman budaya dan bahasa yang tetap bersatu dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu.

Dari semboyan itu telah terlihat banyaknya suatu daerah menunjukkan bermacam-macam ragam budaya yang tersebar di Indonesia. Mulai dari legenda suatu daerah, bahasa daerah, lagu daerah, pakaian adat,  rumah adat, senjata adat, dan tarian adat.

Dari bermacam - macam jenis tarian adat ada satu dari beberapa yang menarik perhatian penulis untuk menjelaskan unsur-unsur yg tertanam didalamnya. Maka, penulis mulai mencari tahu makna-makna tersembunyi dalam tarian adat ini dengan sejuta cerita dibalik gerakannya.

Penulis dapat mengenali suatu daerah melalui budaya yang dimilikinya. Maka, keberadaan budaya bisa disebut sebagai identitas suatu daerah. Tentu dalam lahirnya suatu budaya daerah tidak terlepas dari sejarah yang melatarbelakanginya. Misalnya tari Ronggeng Bugis yang lahir dari sejarah Kerajaan Cirebon.

Ronggeng Bugis merupakan salah satu tarian tradisional Indonesia. Tari tradisional ini merupakan salah satu kesenian yang berasal dari Jawa Barat. Sekilas namanya terdengar dari daerah Sulawesi, nyatanya Ronggeng Bugis berasal dari daerah Cirebon. Tidak banyak orang yang mengetahui tentang tari Ronggeng Bugis.

Termasuk masyarakat Cirebon sendiri. Kurangnya informasi mengenai tari Ronggeng Bugis menyebabkan tidak seluruh masyarakat tahu tentang eksistensi kesenian ini. Padahal tari Ronggeng Bugis cukup erat kaitannya dengan sejarah Kerajaan Cirebon.

Dalam sejarahnya, tari ini pernah digunakan sebagai alat untuk memata-matai musuh pada masa Kerajaan Cirebon. Tari Ronggeng Bugis lahir pada tahun 1482 M saat Sunan Gunung Djati ingin membuat Kerajaan Cirebon dijadikan pusat pemerintahan dan pengkajian agama Islam.

Pada saat itu sedang terjadi pemberontakan dari Kerajaan Galuh Pajajaran terhadap Kerajaan Cirebon. Mereka menganggap bahwa Sunan Gunung Djati lebih membela Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi).

Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) adalah pemimpin Kerajaan Galuh Pajajaran yang hartanya diperebutkan oleh para pemberontak. Untuk mengakali para pemberontak, Prabu Siliwangi sengaja membuat kerajaan-kerajaan kecil dalam Pajajaran.

Dengan tujuan untuk memperkuat persekutuan dalam melawan pemberontakan sehingga Kerajaan Pajajaran berhasil direbut kembali olehnya. Berbekal rencana Prabu Siliwangi ini, Sunan Gunung Djati akhirnya memberi mandat kepada pasukan Kerajaan Cirebon untuk melihat strategi dan rencana selanjutnya yang dirancang oleh Kerajaan Galuh Pajajaran.


Ronggeng Bugis sebagai Strategi Pasukan 

Kerajaan Cirebon memiliki pasukan mata-mata yang diberi nama Pasukan Telik Sandi. Pasukan ini terdiri dari orang-orang yang berasal dari Bugis. Orang-orang dalam Pasukan Telik Sandi dikenal dengan kegagahan, mental yang kuat, serta kepandaiannya dalam menyamar.

Pasukan inilah yang ditugaskan Sunan Gunung Djati untuk menyelidiki secara rahasia tentang rencana selanjutnya yang akan dilakukan Kerajaan Galuh Pajajaran. Karena kepandaiannya dalam menyamar, pasukan ini memiliki strategi yang mampu mengelabui masyarakat dan pihak kerajaan.

Strategi tersebut berupa seni pertunjukkan tari yang melibatkan anak angkat Sunan Gunung Djati bernama Nyi Mas Gandasari. Nyi Mas Gandasari adalah seseorang panglima wanita sekaligus pelatih tari ini. Karena tari ini lahir dari ide orang-orang Bugis, maka mereka sepakat menamakan tari tradisional ini dengan nama Tari Ronggeng Bugis. Dari sinilah tari Ronggeng Bugis dilahirkan.

Pasukan Telik Sandi menampilkan tari ini dengan ciri khas yang lucu. Terbukti dengan penggunaan kostum dan dandanan yang mecolok sebagai penari tari Ronggeng Bugis. Pasukan ini bersama Nyi Mas Gandasari memperlihatkan gerakan-gerakan (diiringi gamelan) yang mengundang gelak tawa dari masyarakat di sepanjang jalan.

Penyamaran mereka berhasil karena sepanjang perjalanan menuju Kerajaan Galuh Pajajaran, tidak ada satu orang pun yang mencurigai pasukan ini. Bahkan, saking lihainya mereka dalam menarikan tari tradisional ini, sang raja pun meminta mereka untuk memperlihatkan seni tari ini di Keraton Pajajaran. Akhirnya penyamaran ini berhasil membuat mereka masuk ke wilayah kerajaan dengan mulus.

Ketika pementasan di keraton kerajaan, sang raja memperhatikan para penari dengan saksama. Salah satu penarinya yaitu Nyi Mas Gandasari yang berperan sebagai Ronggeng Bugis, mampu membuat sang raja tertarik dan jatuh cinta padanya.

Mendengar hal ini muncul ide dari Nyi Mas Gandasari untuk terus membuat sang raja jatuh cinta pada dirinya. Nyi Mas Gandasari memanfaatkan rasa cinta sang raja untuk dijadikan kesempatan dalam memperoleh informasi yang menjadi tujuan utama rombongannya.

Karena sang raja sangat mencintai Nyi Mas Gandasari, tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun ia rela memberikan segalanya. Selain informasi kerajaan, sang raja rela memberikan benda pusaka yang telah dijaga olehnya kepada Nyi Mas Gandasari sebagai pembuktian cintanya.

Dengan begitu, Pasukan Telik Sandi berhasil menjalankan mandat dari Sunan Gunung Djati. Dan membawa hasil yang sangat memuaskan untuk Kerajaan Cirebon. Sebagai balasan budi atas jasa Pasukan Telik Sandi, maka Sunan Gunung Djati mengangkat tari Ronggeng Bugis hasil karya orang-orang Bugis ini menjadi salah satu seni keraton.

Tari Ronggeng Bugis mulai diperkenalkan pada masyarakat Cirebon di tahun 1990-an. Awalnya masyarakat merasa asing dengan kesenian ini. Namun, lama-lama Tari Ronggeng Bugis mampu menarik minat rakyat untuk melestarikan tari tradisional ini.

Handoyo merupakan tokoh yang berpengaruh terhadap pelestarian tari tradisional ini. Berkat beliau Tari Ronggeng Bugis dapat dipentaskan pada acara Festival Keraton Nusantara tahun 1994. Dari sinilah Tari Ronggeng Bugis diakui dan dilestarikan hingga saat ini oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (DISBUDPARPORA) Kabupaten Cirebon.

Urgensi gerak Ronggeng Bugis

Tari Ronggeng Bugis dikenal dengan gerakannya yang mengundang gelak tawa penonton. Namun, sebenarnya setiap gerakan Tari Ronggeng Bugis memiliki makna tersendiri. Pada awalnya tari tradisional ini memiliki pola dan gerakan yang sederhana. Namun, seiring berjalannya waktu Tari Ronggeng Bugis memiliki perkembangan dalam gerakannya. Di antaranya:


  1. Incek panimbal (gerakan ini diartikan ketika pasukan Kerajaan Cirebon yang pergi menyamar dengan menari untuk melaksanakan tugas dari Sunan Gunung Djati)
  2. Longok (makna gerakan ini adalah ungkapan rasa ingin tahu pasukan Telik Sandi terhadap prajurit Kerajaan Galuh Pajajaran)
  3. Incek iliran (diartikan sebagai upaya pasukan Telik Sandi yang berusaha tetap menari agar tidak dicurigai musuh)
  4. Lenggang (ragam yang dimaknai pada saat para penari sedang merayu para prajurit Kerajaan Galuh Pajajaran)
  5. Injen (dimaknai sebagai ekspresi dari para penari yang sedang mengintai gerak gerik lawan)
  6. Uiliran (menggambarkan para penari yang menggoda pasukan Kerajaan Galuh Pajajaran)
  7. Blubuk nyungkur (merupakan ekspresi gerak yang dilakukan para penari  dalam memanfaatkan kesempatan demi memenuhi tugas mereka)
  8. Dedengulan (menggambarkan para penari yang berhasil mendekati pasukan Kerajaan Galuh Pajajaran)
  9. Napak gili (dilambangkan sebagai kewaspadaan para penari dalam menjalankan mandat kerajaan)
  10. Grubugan (diartikan seolah mengejek musuh)
  11. Incek biarak sengke
  12. Sirig injen (gambaran para penari yang memata-matai musuh dari berbagai arah)
  13. Gepak-gepak
  14. Lembean (upaya para penari untuk menggoda prajurit musuh dengan keluwesannya)
  15. Silir (salah satu ragam yang bersifat hiburan karena berhasil mengelabui penonton)
  16. Napak galeng (ekspresi percaya diri dari penari saat menyamar sebagai wanita)
  17. Bubungahan (penutup Tari Ronggeng Bugis, biasanya dilakukan berdasarkan improvisasi para penari)


Manfaat Tarian Ronggeng Bugis

Sebagai informasi tambahan sekaligus penutup artikel ini. Berikut beberapa fakta tentang Tari Ronggeng Bugis yang belum banyak diketahui masyarakat:


  1. Nama Tari Ronggeng Bugis lebih akrab di telinga masyarakat Cirebon kota dan Cirebon Barat.
  2. Tari Ronggeng Bugis pernah  digunakan  untuk memata-matai  aktivitas  DI/TII.
  3. Tari Ronggeng Bugis pernah vakum, hingga akhirnya pada tahun 1990 Tari Ronggeng Bugis mulai diperkenalkan kepada masyarakat Cirebon sebagai kesenian pertunjukan.
  4. Tari Ronggeng Bugis pernah dipentaskan ketika Festival Keraton Nusantara (1994).
  5. Tari Ronggeng Bugis kini dilestarikan di sanggar-sanggar tari yang ada di Cirebon.
  6. Pelestarian tari tradisional ini dilakukan oleh para penari Ronggeng Bugis dari sanggar yang mengajarkan tari Ronggeng Bugis kepada siswa melalui ekstrakurikuler tari yang ada di beberapa sekolah, yaitu SMKN 1 Mundu, SMKN 1 Kedawung, dan SMAN 1 Sumber.


Setelah penjelasan singkat mengenai Tari Ronggeng Bugis, dapat diketahui bahwa tari tradisional ini berasal dari Cirebon. Tari tradisional ini merupakan strategi pasukan Telik Sandi untuk memata-matai musuh sesuai mandat dari Sunan Gunung Djati.

Strategi yang direncanakan pasukan tersebut membuahkan hasil, mereka membawa pulang informasi yang lengkap mengenai Kerajaan Galuh Pajajaran. Sebagai bentuk ucapan terima kasih sekaligus balasan jasa untuk pasukan Telik Sandi, maka Sunan Gunung Djati mengangkat Tari Ronggeng Bugis sebagai kesenian keraton yang terus dilestarsikan hingga sekarang. 

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Ronggeng Bugis. Semoga tulisan yang ditulis Sri Muthiara Ningrum ini bmampu memberikan sumbangan pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

3 Responses to "Memata-Matai Musuh Melalui Ronggeng Bugis"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel