Sasi Teripang : Konservasi Berbalut Kebudayaan Lokal di Kepulauan Tanimbar Maluku



Komoditas laut seperti ikan, kepiting, dan teripang merupakan sumber daya laut yang dapat memperbaruhi dirinya sendiri. Komoditas ini dapat bereproduksi atau memperbanyak diri. Berbeda halnya dengan batu bara, minyak, dan gas yang tidak dapat bereproduksi dan memakan waktu yang sangat lama untuk memperbanyak.

Jadi, jika kita memenfaatkan sumber daya yang dapat terbarui dengan laju yang lebih lambat daripada laju reproduksinya, maka komoditas tersebut akan dapat tetap lestari. Jika tidak demikian, maka komoditas tersebut menjadi langka dan menuju kepada kepunahan.

Sumber daya hayati yang dapat diperbaruhi adalah termasuk makhluk hidup, oleh karena itu sumber daya tersebut merupakan bagian dari suatu ekosistem. Jika terjadi eksploitasi, laju pemanfaatannya lebih cepat dibanding perbanyakannya, maka dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem. Selain tentunya berdampak terhadap mata pencaharian masayarakat sekitar.

Laut bukan lah barang kepemilikan individu, melainkan barang kepemilikan bersama. Semua penduduk diperbolehkan menangkap ikan di laut. Hal ini memunculkan kondisi yang disebut dengan “tragedi kepemilikan bersama”, yaitu kondisi di mana semua individu maupun kelompok berhak memanfaatkan barang yang dimiliki bersama dan semua tindakan yang dilakukan oleh individu, baik yang menguntungkan maupun merugikan, akan ditanggung secara kolektif.

Jika kita melakukan tindakan baik, hasilnya akan diterima oleh semua orang dan jika kita melakukan tindakatan buruk, hasilnya juga akan ditanggung oleh semua orang. Oleh sebab itu, orang cenderung akan memanfaatkan laut, atau bahkan mengeksploitasinya, dibanding dengan memeliharanya.

Orang yang mengerem jumlah tangkapan hasil lautnya, demi kelestarian, akan “merugi” karena jumlah tangkapannya lebih sedikit daripada orang lain. Dan hasil dari niat baiknya untuk kelestarian juga akan diterima orang yang mengeksploitasi laut.

Maka, tindakan yang rasional yang dilakukan individu, jika tidak ada regulasi, dalam tragedi kepemilikan bersama adalah memanfaatkan secara optimal sebelum diambil orang lain dan meminimalkan tindakan yang tidak menguntungkan seperti perawatan.

Tanimbar bukan saja terkenal oleh burung Kakatuanya saja. Akan tetapi, daerah kepulauan yang memiliki nama resmi Kabupaten Maluku Tenggara Barat juga terkenal sebagai penghasil komoditas teripang  utama di Indonesia.

Kepulauan Tanimbar memiliki banyak pulau dengan pulau utama sebagai pusat pemerintahan adalah Yamdena. Kabupaten ini terletak di sebelah tenggara Ambon dan sebelah barat Papua. Pulau Selaru yang termasuk dalam Kepulauan Tanimbar merupakan pulau terluar Indonesia yang paling dekat dengan Australia bagian utara.

Mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan. Sebagaimana pada daerah lain di indonesia, Tanimbar juga memiliki berbagai macam budaya lokal yang muncul dalam penduduknya serta berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Tanimbar.

Masyarakat tradisional Indonesia memunculkan kesepakatan bersama yang umumnya berbalut dalam kebudayaan lokal untuk meregulasi pemanfaatan sumber daya hayati. Kesepakatan ini akan mendukung kehidupan masyarakat secara kolektif karena terhindar dari kerusakan ekosistem atau kelangkaan sumber daya hayati.

Salah satu konservasi sumber daya hayati yang berbalut kebudayan lokal adalah Sasi teripang yang ada di masyarakat lokal Kepulauan Tanimbar. Teripang merupakan komoditas yang memiliki nilai jual yang tinggi dan sangat penting perannya dalam ekosistem laut.

Nilai jual teripang gosok (Holothuria atra) basah di pengepul dapat mencapai 1-3 juta/kg tergantung ukurannya. Jika sudah diproses atau sudah dikeringkan, dapat mencapai 5 juta/kg. Bahkan menurut Purcell et al. (2012), dalam pasar internasional harga teripang ini mencapai 1668 dolar AS/kg.

Sasi teripang memberlakukan pelarangan pengambilan teripang dalam periode waktu tertentu dan pada tempat tertentu. Periode pelarangan pengambilan teripang dapat sampai 1-5 tahun. Lama waktu sasi ditentukan oleh tokoh masyarakat atau ketua adat dan permerintah desa yang dimusyawarahkan dengan semua warga desa.

Lama waktu sasi teripang dipertimbangkan berdasarkan jenis teripang sendiri dan kebutuhan masyarakat yang mendesak seperti kenaikan sekolah atau kebetuhan lainnya. Sementara itu, waktu buka sasi atau kerja hasil sasi atau waktu diperbolehkan menangkap teripang biasanya hanya berlangsung 4 hari saja.

Saat waktu kerja hasil sasi, sanak keluarga yang merantau ke Jawa, Ternate, Ambon, dan tempat lain pulang kampung untuk menangkap dan menjual teripang. Jadi lah waktu buka sasi menjadi seperti hari raya atau setara dengan pesta adat yang meriah.

Saat malam tiba, laut mencapai surut terendah dan teripang mulai keluar (sebagian besar teripang adalah nokturnal), semua warga desa turun ke laut. Biasanya ada dua jalur rombongan, yaitu dari arah daratan dan dari arah laut.

Yang dari arah laut, mereka saat sore mulai menuju ke laut menggunakan perahu, kemudian menurunkan jangkar menunggu laut surut. Kaki turun ke laut saat kondisi sudah surut yang diberi aba-aba bakar obor oleh juru “meti”.

Meti dalam bahasa Tanimbar artinya surut. Kondisi perkampungan sangat sepi. Laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak, memegang senter, semua turun mengambil bagian dari hasil kerja teripang setalah bertahun-tahun tidak boleh ditangkap.

Hasil kerja teripang dapat sangat melimpah, setiap berjalan satu meter menemui teripang, tergantung pada lama waktu sasi dan jenis teripang yang dibuka sasinya. Semalam satu keluarga dapat mendapatkan hasil 5 juta.

Pada saat siang, orang sibuk memasak teripang, mengantre kepada pengepul untuk menjualnya, mempersiapkan alat dan bekal untuk kerja hasil nanti malamnya. Pengepul biasanya berasal dari Surabaya, Jakarta, atau ada juga yang dari luar negeri seperti Perancis dan Tiongkok.

Sasi berasal dari kata “sanksi”. Sasi harus dipatuhi oleh semua masyarakat sekitar dan bahkan oleh pendatang. Jika ada yang melanggarnya, maka orang tersebut akan terkena hukuman atau sanksi. Hukumannya bukan berasal dari ketua adat atau penduduk lainnya secara langsung.

Masyarakat Tanimbar percaya, jika ada yang melanggar, maka hukumannya berasal dari Tuhan, bencana akan menimpa orang tersebut. Seperti tenggelam saat sedang melaut, terkena bisa ular laut, atau terkena sengat ekor Pari.

Saat melakukan kerja hasil, masyarakat hanya boleh mengambil spesies teripang yang sasinya dibuka saja. Misal, yang dibuka sasinya hanya teripang gosok, maka warga tidak boleh mengambil teripang namat (Stichopus spp.).

Selain itu, hanya orang asli desa tersebut lah yang dapat mengambil teripang hasil kerja atau yang berhubungan dengannya. Jika wanita memiliki suami dari lain desa dan ingin mengambil bagian, maka biasanya akan dikenakan biaya oleh ketua adat atau pemerintah desa.

Akan tetapi, jika laki-laki memiliki istri dari lain desa dan ingin mengambil bagian, maka tidak dikenai biaya. s memberi kesempatan teripang untuk memperbanyak diri. Teripang tidak dieksploitasi secara berlebihan.

Teripang dapat tetap lestari dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Menurut berbagai penelitian dari Rumahrupete et al (1990; Selanno et al. (2014); Natan, et al. (2015), kondisi keragaman jenis dan kerpadatan teripang di di daerah Maluku relatif lebih tinggi dibanding dengan daerah lain di Indonesia.

Sasi muncul dari kehendak politik pendekatan bawah-atas (bottom-up), bukan dari pemerintah kabupaten atau pemerintah pusat, melainkan regulasi yang muncul dari masyarakat sekitar dan berlaku terbatas lokasi.

Kesuluruhan penduduk pada lingkungan tersebut sudah akrab dengan lingkungannya, dipengaruhi olehnya, dan memiliki kesamaan rasa serta identitas dengan penghuni lain. Oleh karena itu, semua orang menyadari bahwa mereka akan memperoleh manfaat dari tindakan-tindakan yang baik yang mereka dan tetangganya lakukan terhadap lingkungannya.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tradisi Sasi Teripang. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh A. Dimas Cahyaning Furqon ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Sasi Teripang : Konservasi Berbalut Kebudayaan Lokal di Kepulauan Tanimbar Maluku"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel