SELEPAS DUHA (Selayang Pandang Sejarah Desa Unggulan Daerah Lamongan)


Potret Desa

Balun merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan dari 19 desa yang ada. Jarak ke kecamatan sekitar 6 km, sedangkan ke ibukota kabupaten kurang lebih 5 km. Wilayah ini berbatasan langsung sebelah Utara Desa Ngujungrejo, sebelah Timur Desa Gedongboyonguntung, sebelah Selatan Kelurahan Sukorejo, dan sebelah Barat Desa Tambak Ploso.

Seperti desa-desa lainnya yang ada di wilayah Kecamatan Turi, penduduk desanya secara umum adalah bertani yaitu tani sawah tambak  yang didukung oleh iklim yang baik dengan curah hujan 250 mm. Sistem pertanian sawah tambak ini mulai dikenal sekitar tahun 1970-an dengan sistem musim hujan tanam ikan, sedangkan menjelang musim kemarau tanam padi.

Dengan sistem ini secara tidak langsung pendapatan masyarakat desa bertambah, sehingga kesejahteraanpun meningkat. Adapun ikan yang ditanam, antara lain; bandeng, ikan mas, nila, mujaer, sombro, dan udang fanami. 

Desa dengan penduduk sekitar  4.744 orang (laki-laki= 2.323 orang, perempuan= 2.421 orang) dengan luas wilayah 624.103 ha, maka kepadatan penduduk sekitar 7.638/km. Secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap Sumber Daya Alamnya akan mengalami eksploitasi.

Namun tidak demikian, dikarenakan penduduk Desa Balun sangat terkenal etos kerjanya sangat tinggi. Hal ini dibuktikan disamping bertani masyarakatnya juga mempunyai profesi lain seperti; PNS, TNI, Polisi, wiraswasta, montir, karyawan, buruh tani, buruh pabrik, kuli manol, jasa angkutan, dan pedagang keliling.

Dalam hal Sumber Daya Manusia, kualitas penduduk desa sangat baik. Di mana kesadaran menuntut ilmu  masyarakatnya sangat besar. Adanya bangunan SD Balun I dan SD Balun II, MI, TK kecil dan TK besar, RA, Paud, dan Diniyah (Ponpes Al Jamhar) adalah bukti bahwa pendidikan itu dianggap penting bagi masyarakat Balun.

Demikian juga kegiatan pemuda dan pemudinya, baik di tingkat desa (Karang Taruna) dan dalam bidang agama (Remaja Masjid, Pemuda Gereja, dan Pemuda Hindu). Karakter masyarakat baik dari anak-anak, pemuda, maupun orang tua tampak dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pantas desa ini menjadi percontohan desa-desa lain yang ada di wilayah Kabupaten Lamongan.

Desa Potensial

Mengapa Desa Balun menjadi salah satu desa unggulan di Kabupaten Lamongan? Penulis akan mengungkap dari tiga sisi/sudut pandang:

Pertama. Sejarah Desa Balun. Secara etimologi kata Balun berasal dari kata “Mbah Alun”, yang artinya ombak yang mengalun. Sedangkan secara terminologi yaitu nama Raja Blambangan “Bedande Sakte Bhreau Arih” yang bergelar Raja Tawang Alun I”. Beliau adalah keturunan Raja Brawijaya V dari Kerajaan Mojopahit. Pada waktu menjadi Raja Blambangan beliau bergelar “Sunan Tawang Alun I”, karena beliau juga seorang ulama dan guru ngaji (murid dari Sunan Giri IV).

Pada masa pemerintahannya mendapat serangan dari Kerajaan Mataram dan Bangsa Belanda keratonnya dibakar, sehingga beliau harus melarikan diri ke Brondong minta perlindungan ke anaknya Sunan Brondong. Dari situ beliau diberi tanah Bonorowo sebagai tempat persembunyiannya (yang kini dikenal menjadi nama Desa Balun). Di sini beliau berdakwa dan mengajar ngaji hingga wafat pada tahun 1654.

Kedua. Makam Mbah Alun. Menurut folklore, bahwa sosok ulama yang dimakamkan di desa dalam cungkup yang sederhana terbuat dari kayu jati itu adalah Sunan Tawang Alun I atau Mbah Alun yang sering juga disebut Mbah Sin Arih.Dalam cerita rakyat Lamongan, bahwa Sunan Tawang Alun I (Raden Alun I) dalam berdakwa datang ke desa ini dengan naik perahu dari arah Utara (Bonorowo) dan mendarat di sekitar desa ini, karena terdampar oleh hempasan ombak. 

Makam ini terletak ditengah-tengah desa dan menjadi ikon Kabupaten Lamongan yang setiap hari Jum’at Kliwon ramai dikunjungi orang untuk berziarah, karena diyakini sebagai Waliyullah. Di samping itu, setiap Hari Jadi Lamongan yang diperingati pada tanggal 26 Mei selalu diadakan napak tilas sejarah Lamongan dan acara ziarah ke makam Mbah Alun (Mbah Sin Arih) yang merupakan pelaku sejarah kabupaten  Lamongan.

Ketiga. Kebudayaan. Menurut Selo Soemardjan dan Soerjono Soekanto, kebudayaan adalah hasil cipta rasa karsa manusia. Unsur kebudayaan (seven cultural Universal) meliputi: sistem agama/religi, mata pencaharian, kesenian, tehnologi, ilmu pengetahuan, bahasa, dan sistem kemasyarakatan. Adapun wujud kebudayaan secara garis besar ada dua, yaitu wujud materiil (berupa benda) dan wujud non materiil (berupa ide/gagasan).

Ditinjau dari unsur kebudayaan dari sistem agama/religi,  Desa Balun adalah mayarakat yang multikultur dalam bidang agama. Inilah salah satu keunikan desa ini, karena dari 19 desa yang ada di wilayah Turi hanya Balun yang mempunyai tiga agama yaitu Islam, Kristen Protestan, dan Hindu.

Miskipun dengan keberagaman agama, namun kerukunan, kebersamaan, serta toleransi antar umat beragama sangat dijunjung tinggi, sehingga desa ini mendapat sebutan “Desa Pancasila”. Slogan itu tampak pada gapura masuk Desa Balun.

Wujud toleransi tidak hanya bentuk nonfisik (nilai-nilai sosial) dalam kehidupan sehari-hari seperti adanya kebersamaan dalam hajatan sunatan/perkawinan, kendurian kematian, gotong royong membangun rumah, jalan, jembatan atau bersih desa, upacara-upacara keagamaan, tetapi juga dalam bentuk fisik, yaitu adanya bangunan tempat ibadah yang sangat berdekatan antara Masjid, Gereja, dan Pura. Sehingga “Tri Kerukunan Antar Umat Beragama” sangat nampak di desa ini.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi secara tidak langsung akan mengangkat nama Desa Balun menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ada di wilayah Kabupaten Lamongan. Oleh karena itu tradisi, adat istiadat, serta nilai-nilai sosial dan budaya adi luhung yang berkembang di Desa Balun adalah merupakan warisan para leluhur desa yang harus tetap dijaga dan dilestarikan oleh generasi penerusnya/pemuda, miskipun kita berada di era modern, sehingga kekayaan budaya daerah atau bangsa tidak akan hilang atau punah oleh arus globalisasi budaya.


Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Sejarah Desa Balun Lamongan. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh H. Dono Nurkusen ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

2 Responses to "SELEPAS DUHA (Selayang Pandang Sejarah Desa Unggulan Daerah Lamongan)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel