Sepak Terjang Gudeg Yogyakarta Segabai Kuliner Warisan Kota Istimewa



"Jogja istimewa" begitulah sebutan yang melekat pada kota Yogyakarta, yang selama ini terkenal akan salah satu tempat legendaris yang membuat kota ini dijuluki kota istimewa, Malioboro. Orang Jogja mengatakan " jangan ngaku pernah ke jogja kalau belum pernah ke Malioboro "  karena itulah Malioboro tidak pernah sepi sepanjang hari bahkan hingga malam menjelang, bagaikan kota yang tak pernah tidur.

Malioboro kerap disebut – sebut sebagai surganya para pelancong, sebab Malioboro merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang terbilang lengkap, mulai dari pakaian, pernak pernik, sampai kuliner khasnya.

Berbicara mengenai Yogyakarta, orang – orang menyebutnya sebagai surganya kuliner. Tidak hanya terkenal karena bakpia atau kopi jossnya saja. Ketika mendengar kata Jogja pasti yang teringat adalah kuliner warisannya yang saat ini tengah mendunia yaitu gudeg.

Gudeg dalam pandangan masyarakat Jogja merupakan makanan turun temurun yang diwariskan leluhur mereka, sehingga keberadaannya sangat mendarah daging dengan masyarakat Jogja. Hingga tak aneh jika kuliner yang satu ini banyak ditemukan disetiap sudut kota Jogja, mulai dari gudeg emperan sampai gudeg di rumah makan. 

Cita rasa yang khas memang disesuaikan dengan lidah orang jawa yang pada dasarnya sangat gemar pada rasa manis, tetapi tidak hanya orang jawa saja bahkan digemari para wisatawan Indonesia maupun mancanegara yang data ke Yogyakarta.

Sejarah Perkembangan Gudeg

Sejak dinobatkan sebagai salah satu ikon kuliner Yogyakarta, gudeg memiliki sejarah yang panjang dalam perkembangannya. Dahulu gudeg kerap dijadikan sebagai makanan wajib bagi para keluarga keraton. Saking pentingnya gudeg Sri Sultan sering menghadirkan makanan yang satu ini disetiap perayaan – perayaan besar kerajaan.

Meskipun berasal dari kebudayaan kraton, tetapi gudeg telah ada bersamaan dengan berdidinya kerajaan Mataram islam di Yogyakarta pada abad ke – 15. Saat itu ketersediaan pohon nangka disekitar kerajaan yang sangat melimpah, dimanfaatkan oleh para prajurit untuk mengolahnya dalam jumlah yang tidak sedikit untuk mencukupi kebutuhan para prajurit.

Dengan alat seadanya mereka megaduk nangka yang jumlahnya cukup banyak dengan menggunakan alat semacam dayung, yang dalam bahas jawa yaitu  " hangudeg " hingga pada akhirnya disebutlah gudeg yang sangat terkenal hingga sekarang.

Perkembangan gudeg di Yogyakarta sangat begitu pesat, ditambah sejak kota ini dijuluki sebagai kota pelajar, banyak para pelajar yang memperkenalkan gudeg ke kampung halamannya masing – masing sehingga membuat gudeg sangat terkenal di seantero negeri.

Kuliner Nenek Moyang

Gudeg dan Jogja memang tidak bisa dipisahkan, salah satu buktinya adalah yang terdapat dijalan plengkung yang berada disekitaran kraton Jogja yang disulap menjadi sentranya kuliner legendaris ini.

Disepanjang jalan kita akan disuguhkan dengan berdirinya rumah – rumah makan yang menyediakan olahan bermacam – maca gudeg khas Jogja. Bahkan banyak sekali rumah makan yang masih berdiri hingga saat ini sejak gudeg mulai melekat sebagai identitas kota Jogja.

Tak hanya itu para pekerjanya pun biasanya masih tercatat sebagai anak atau cucu nenek moyang pembuat gudeg pada zamannya.  Dahulu awalnya hanya ada dua rumah makan saja yang menyediakn gudeg sebagai salah satu menunya.

Tetapi sekitar tahun 1942, barulah tempat ini ramai dengan para penjual gudeg. Dalam proses pembuatannya gudeg terbilang sangat pesat, tetapi hingga saat ini kebanyakan membuatnya dengan cara yang masih tradisional.

Sebab masyarakat Jogja percaya bahwa makanan tradisional itu sangat berperan penting dalam ketahanan dan kemandirian pangan. Selain itu pula, juga sebagai salah satu cara menjaga keaslian warisan kuliner yang turun temurun dari nenek moyang mereka sejak zaman dahulu.

Salah satu bahan utama pembuatan gudeng yaitu nangka muda atau dalam bahasa Jogja yaitu gori. Gori yang menjadi bahan utama gudeg haruslah memiliki kualitas yang terjamin serta memiliki tekstur yang tidak lembek dan kadar air yang tidak terlalu banyak. 

Selain bahan utama yang digunakan, gudeg pun biasanya disajikan bersama lauk pendamping seperti telur, tempe, dan daging ayam. Dengan campuran rempah -rempah lokal dari Jogja akan menambah cita rasa pada kuliner legendaris yang satu ini, sehingga tak aneh gudeg selalu menjadi buruan para wisatawan asing maupun lokal yang berkunjung ke Yogyakarta.

Kesan kesederhanaan yang melekat pada proses pembuataanya menjadikan gudeg salah satu kuliner yang sangat terkenang dimasyarakat jogja. Selain itu juga, gudeg termasuk masakan yang dalam proses pembuatannya memerlukan waktu yang lumayan lama dibandingkan dengan kuliner Indonesia lainnya.

Tetapi lewat masakan inilah kita dapat memahami arti dari sebuah proses. Sejauh apa proses yang kiat lalui, sebesar itulah hasil yang kita dapatkan.

Menikmati kelezatan Gudeg Manggar

Dalam perkembangannya masyarakat Jogja tidak hanya menggunakan gori atau nangka muda sebagai bahan utama pembuatan gudeg. Masyarakat Jogja yang cenderung kreatif memanfaatkan manggar atau putik buah kelapa menjadi bahan utam pembuatan gudeg ini, yang diberi nama gudeng manggar.

Sentra pembutan gudeg manggar yang terkenal di Jogja berada di daerah Bantul. Tidak jauh berbeda dengan gudeg gori, gudeg manggar ini pun sudah ada sejak zaman dahulu. Menurut sejarahnya gudeg manggar sudah ada sejak lima ratus tahun silam.

Salah satu mitos yang beredar dimasyarakat pula, gudeg manggar adalah makanan kesukaan para puteri karena dapat membuat wajah menjadi lebih cantik. Dahulu gudeg ini hanya disajikan dalam acara acara tertentu saja, seperti perayaan hari agama, pesta pernikahan, atau acara khusus lainnya. Berbeda dengan cita rasa gudeg gori yang cenderung manis, gudeg manggar ini memiliki cita rasa yang gurih khas dari manggarnya.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Gudeg Yogyakarta. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Ruslan Abdul Munir ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Sepak Terjang Gudeg Yogyakarta Segabai Kuliner Warisan Kota Istimewa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel