Tari Subali Senapatya dalam Balutan Festival Lima Gunung

Festival Lima Gunung

Pada tanggal 5-7 Juli 2019 yang lalu, diselenggarakan pesta seni tahunan di Desa Tutup Ngisor, Kabupaten Magelang. Festival ini terkenal dengan nama Festival Lima Gunung. Dan kali ini adalah festival yang ke-18.

Festival ini dinamakan demikian karena mengacu pada lima nama gunung yang terletak di sekitar Magelang yaitu Merapi, Merbabu, Menoreh, Sumbing dan Andong.  Festival Lima Gunung XVIII menghadirkan 79 penampil yang keseluruhannya disajikan dalam durasi 3 hari (5-7 Juli 2019) dengan rata-rata waktu tampil sekitar 20 menit untuk setiap penampilan.

Salah satu penampil dalam Festival Lima Gunung XVIII adalah Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul yang mementaskan tarian berjudul “Subali Senapatya”.

Tari “Subali Senopatya”


a. Makna Harfiah
Subali Senapatya” terdiri dari dua suku kata, yaitu “Subali”dan “Senapatya”. Lalu apakah makna keduanya? Subali merujuk pada nama raja wanara (kera) dalam wiracarita Ramayana. Subali dalam bahasa Sansekerta berasal dari kata dasar bala yang bermakna rambut. Karena konon Subali dilahirkan dari rambut ibunya.

Sedangkan “Senapatya” adalah bentuk lain dari kata Senapati. Senapati yang dalam bahasa Sansekerta terdiri dari kata sena yang bermakna tentara dan pati yang bermakna pemimpin. Jadi secara sederhana senapati berarti pemimpin para tentara. Sehingga dapat dikerucutkan bahwa secara harfiah “Subali Senapatya” menekankan pada “kisah kepemimpinan Subali dalam sebuah pertarungan atau peperangan”.

b. Bentuk dan Peran 
Tari yang berdurasi 23 menit ini selain bisa dibawakan dalam bentuk Tari Gambyong di Jawa Tengah, juga biasa dibawakan dalam bentuk Tari Jaipong di daerah Jawa Barat dan Tari Kecak di daerah Bali.
Tari “Subali Senapatya” kali ini dimainkan oleh 13 penari dengan peran masing-masing sebagai berikut:

1. Subali 
Subali adalah raja wanara berdarah putih yang tinggal di puncak gunung Sunyapringga. Dia dikenal sakti karena memiliki Aji Pancasona (hidup rangkap lima) yang membuatnya susah dikalahkan. Kelak ilmu ini diwariskan kepada Rahwana yang merupakan musuh besar Rama.

Subali adalah anak dari Resi Gotama dan Dewi Indradi (bidadari keturunan Bathara Asmara) dari Padepokan Agrastina. Subali memiliki saudara kembar bernama Sugriwa dan kakak perempuan bernama Anjani.

Anjani adalah ibu dari Hanoman setelah dibawa Bathara Guru ke kahyangan.
Kisah petualangan Subali, Sugriwa dan Anjani dimulai di saat mereka menjalani hukuman dari ayahnya untuk bertapa menyucikan diri akibat berebut Cupumanik Astagina yang dimiliki Ibunya.

Oleh karena Dewi Indradi menyimpan cupumanik pemberian Bathara Surya maka Resi Gotama marah besar karena merasa dikhianati. Kemudian Resi Gotama mengutuknya menjadi batu dan kemudian dilemparnya hingga perbatasan negara Alengka. Sementara cupumanik milik istrinya dibuang oleh Sang Resi hingga jatuh ke sebuah tanah kosong dan berubahlah tempat tersebut menjadi telaga.

Subali dan Sugriwa menceburkan diri kedalam telaga untuk mencari cupumanik tersebut dan kemudian air telaga merubahnya menjadi seekor kera. Sementara Anjani yang kepanasan begitu tiba di telaga, langsung mencuci muka dan tangannya dengan air telaga yang kemudian merubahnya menjadi perempuan bermuka dan berlengan kera.

Untuk mengembalikan tubuh mereka ke kondisi normal kembali maka atas perintah ayahnya, Anjani diwajibkan bertapa dalam keadaan telanjang dengan posisi bertapa seperti seekor katak di Telaga Madirda. Subali bertapa seperti seekor kelelawar dengan kaki disangkutkan pada sebuah dahan dan posisi kepala dibawah di gunung Sunyapringga. Sedangkan Subali bertapa layaknya seekor kijang dengan mengangkat sebelah kakinya di hutan Sunyapringga.

2. Mahesasura
Mahesasura adalah raja di hutan Kiskenda dengan tubuh yang besar dan berkepala kerbau. Dia memiliki pengawal sakti berkepala singa bernama Jatasura.

3. Lembusura
Lembusura adalah patih dari Mahesasura. Lembusura yang berkepala sapi (lembu) memiliki saudara seperguruan berkepala gajah bernama Diradasura.

4. Dewi Tara
Dewi Tara adalah anak pertama Dewa Indra Sang Penguasa Kahyangan Kaindran (tempat tinggal para bidadari) dan Dewi Wiyati. Dewi Tara di kemudian hari akan dinikahi Sugriwa (saudara kembar Subali) yang kemudian akan diambil paksa oleh Subali untuk diperistri olehnya.

Kejadian ini berawal dari kesalahpahaman antara Subali dan Sugriwa saat proses penyelamatan Dewi Tara yang diculik oleh Mahesasura dan Lembusura.

c. Latar Belakang Cerita

Cerita ini mengisahkan pertempuran antara Subali dengan Mahesasura dan Lembusura. Subali diutus para Dewa untuk mengambil Dewi Tara yang diculik Mahesasura dan Lembusura. Konflik dimulai ketika Lembusura dan Diradasura ditugaskan oleh Mahesasura menuju Suralaya untuk melamar Dewi Tara.

Karena lamaran tersebut ditolak oleh Bathara Guru maka Lembusura dan Diradasura mengamuk dan mampu mengalahkan para Dewa di Suralaya. Kemudian Bathara Guru mengutus Bathara Narada turun ke Arcapada (dunia bawah) untuk mencari sosok yang bisa diandalkan para Dewa.

Akhirnya mereka berdua bertemu dengan Subali dan Sugriwa yang sedang bertapa di Sunyapringga. Subali akan dihadiahi Dewi Tara jika mampu mengalahkan Mahesasura dan Lembusura. Tawaran tersebut diterima oleh Subali.

Kemudian bertempurlah Subali dan Sugriwa melawan Mahesasura dan Lembusura di Gua Kiskenda. Dan di akhir kisah, Subali berhasil memenangkan pertarungan tersebut.

d. Alur Tari

Tari “Subali Senopatya” dalam gelaran Komunitas Lima Gunung XVIII ini disutradari oleh Bapak Suyoto, penata tari oleh Bapak Bima Arya Putra dan penata iringan oleh Bapak Syahrul Yulianto. Adapun alur tarinya kurang lebih sebagai berikut:

Menit  ke-0 sampai dengan menit ke-2:
Empat anak buah Mahesasura dan Lembusura mengawali jalannya cerita dengan memasuki panggung tari.

Menit ke-2 sampai dengan menit ke-4
Mahesasura memasuki panggung tari dan menunjukkan kekuasaannya kepada keempat anak buahnya.

Menit ke-4 sampai dengan menit ke-8:
Lembusura bersama Dewi Tara memasuki panggung. Keempat anak buah Mahesasura turun meninggalkan panggung sehingga tersisa Dewi Tara yang melakukan perlawanan terhadap Mahesasura dan Lembusura. Dewi Tara akhirnya bisa ditaklukkan oleh Mahesasura dan diperistri olehnya.

Menit ke-8 sampai dengan menit ke-11:
Munculnya Subali ke atas panggung dengan latar belakang pepohonan. Ini menunjukkan bahwa Subali berasal dari hutan Sunyapringga yang menjadi tempat pertapaannya hingga Dia menjadi sosok yang sakti.

Menit ke-11 sampai dengan menit ke-13:
Terjadi pertarugan antara Subali dan anak buah Mahesasura.

Menit ke-13 sampai dengan menit ke-15:
Dewi Tara muncul kembali ke atas panggung tetapi kali ini diiringi oleh lima pendampingnya.

Gambar 1. Dewi Tara dan kelima pendampingnya

Menit ke-15 sampai dengan menit ke-17:
Dewi Tara dan Subali menari berdua diatas panggung

Menit ke-17 sampai dengan menit ke-19:
Terjadi pertarungan kembali antara Subali dan keempat anak buah Mahesasura

Menit ke-19 sampai dengan menit ke-22:
Perkelahian sengit terjadi antara Subali melawan Mahesasura dan Lembusura.


Gambar 2. Subali bertarung melawan Mahesasura dan Lembusura

Menit ke-22 sampai dengan menit ke-23:
Sesi penutup dengan menampilkan keseluruhan pemain.

e. Makna Tari 

Secara singkat Tari “Subali Senapatya” memiliki makna moral yang sering didengungkan dalam pepetah Jawa sebagai berikut:
Sapa nandur bakal ngunduh, sapa gawe bakal nganggo, Angkaro  yen den umbar ambabar dadi rubeda.
Yang memiliki arti sebagai berikut:

Siapa menanam bakal memetik hasilnya, siapa yang membuat bakal memakai hasilnya dan Kejahatan jika dibiarkan akan berkembang menjadi bencana.

Bahwa Mahesasura dan Lembusura yang menciptakan kekacauan di Suralaya ketika memaksakan kehendaknya untuk memperistri Dewi Tara akhirnya harus menerima ganjaran ketika dikalahkan oleh Subali yang diutus para Dewa untuk mengambil kembali Dewi Tara.

Pelajaran lain yang bisa dipetik dalam Tari “Subali Senapatya” adalah angkara atau kejahatan yang akan selalu berada dipihak yang kalah karena sesungguhnya angkara adalah sumber dari segala bencana.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tari Subali di Festival Lima Gunung. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Donny Suryanto ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

1 Response to "Tari Subali Senapatya dalam Balutan Festival Lima Gunung"

  1. Bagus ya Don, sudah berani mengangkat tema budaya di travel bloger nya. Tetep membumi ya

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel