Tarian Ahoi Kota Medan, Refleksi dari Semangat Persatuan Indonesia

Gelombang globalisasi melahirkan budaya global. Didukung oleh teknologi komunikasi dan informasi maka unsur-unsur budaya global akan memasuki dunia lokal dengan sangat cepat dan intensif.

Globalisasi yang membawa misi homogenisasi, westernisasi, dan uniformitas budaya ini amat bertentangan dengan multikulturalisme yang berplatform pluralis, humanis, dan menjaga heterogenitas budaya sebagai sesuatu yang alami.

Proses globalisasi budaya dikhawatirkan akan merupakan ancaman terhadap budaya suatu bangsa. Sebagaimana dikatakan oleh ahli ilmu sosial Anthony Giddens (dalam bukunya The Consequences of Modernization, 1992) tentang dampak modernisasi dan globalisasi dalam masyarakat, yang dapat melumpuhkan fungsi-fungsi dari lembaga sosial dalam masyarakat, sehingga menyebabkan tercerabutnya budaya lokal.

Sejalan dengan lahirnya budaya global ialah kemungkinan lunturnya identitas suatu bangsa. Kita lihat saja misalnya bahaya yang dapat muncul terhadap kesadaran wawasan nusantara atau terhadap eksistensi dari budaya etnik kita. Bahaya tersebut dapat menghilangkan kebanggaan kita sebagai bangsa yang mempunyai identitas diri, suatu bangsa yang mempunyai satu bahasa, satu nusa dan satu bangsa. Lunturnya identitas bangsa berarti lunturnya kesadaran kita terhadap wawasan nusantara.

Dilain hal, realitas bangsa Indonesia adalah sebuah negara yang majemuk, adalah tidak mudah untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Kemajemukan selain bisa menjadi kekuatan bangsa, juga berpotensi menjadi kelemahan yang laten.

Dua kekuatan besar yang sangat menentukan di dalam pemanfaatan konsep etnisitas dalam kehidupan, yakni agama dan budaya merupakan energi yang dapat dijadikan pengikat bahkan pemicu konflik di dalam masalah etnisitas.

Oleh karenanya, diperlukan upaya sungguh-sungguh dari berbagai pihak untuk menjaga harmoni dan kerukunan yang selama ini telah terbangun, sehingga terhindar dari munculnya konflik dan perpecahan bangsa.

Pemerintah pusat dan daerah saat ini tengah gencar dalam upaya pemajuan kebudayaan Indonesia. Kebudayaan Indonesia dinilai semakin hilang arah, yang terlihat dari semakin lunturnya nilai-nilai karakter bangsa. Strategi pemajuan kebudayaan diharapkan mampu mengaktualisasikan potensi kebudayaan menjadi suatu sumberdaya permanen yang dapat dikelola setiap saat.

Strategi pemajuan kebudayaan juga diarahkan untuk menguatkan pijakan kebudayaan bangsa melalui upaya ketahanan budaya. Ketahanan budaya sangat diperlukan untuk menghindari sentimen negatif maupun yang destruktif dari etnisitas di dalam pembangunan masyarakat.

Memajukan kebudayaan juga berarti memajukan bangsa karena sesungguhnya kebudayaan itu adalah investasi, pemberdayaan masyarakat dan akhirnya menghasilkan banyak keuntungan, baik secara ekonomi maupun sikap mental berbudaya berkelanjutan dari generasi muda bangsa.

Seperti halnya Pemerintah Kota Medan yang terus berkomitmen untuk mengembangkan serta melestarikan kebudayaan yang ada di kota Medan di tengah globalisasi. Salah satunya dilakukan dengan menyuguhkan Tari Ahoi yang saat ini lagi booming dan ditargetkan akan menjadi ikon kota Medan.

Ahoi merupakan salam dari suku Melayu yang notabene merupakan suku asli di kota Medan ini. Pemerintah kota Medan menganggap eksistensi terhadap kesenian tradisional perlu dipacu dan diberi ruang serta terus dipromosikan untuk meredam berbagai tantangan, tekanan maupun pengaruh negatif budaya asing yang berpotensi mengikis budaya asli etnis Kota Medan.


Apalagi kota Medan dikenal sebagai kota multikultural, miniaturnya Indonesia, karena memiliki suku etnis dan budaya yang beragam sehingga memberikan warna terhadap aneka seni dan budaya. Keunikan ini semestinya dapat menjadi sumber keunggulan, bukan menjadi potensi lahirnya ketegangan, konflik sosial dan disintegrasi NKRI.

Tarian khas kota Medan, Ahoi merupakan hasil kreasi Dinas Pariwisata kota Medan. Tarian ini sebelumnya sudah ada di Kota Medan, namun pihaknya membuat format baru sehingga tarian yang tadinya hanya menggunakan musik dan lagu Melayu, kini berubah lebih meriah dengan mengkolaborasikan sejumlah tarian daerah di Sumatera Utara seperti musik dan lagu dari tarian Toba, Tapanuli selatan (Tapsel) dan Karo.

Tarian ini nantinya bisa menjadi daya tarik, ikon Kota Medan dan sejajar dengan Tari Poco-Poco dan Gemu Famire yang sifatnya sudah menusantara. Tarian ini juga diciptakan sedemikian rupa sehingga bisa ditarikan oleh anak-anak sampai orang tua. Gerakannya pun sangat mudah, kita harapkan ini bisa ditarikan oleh semua unsur dan kalangan. 

Pemko Medan pun optimis tarian Ahoi ini dapat menjadi kebanggaan Kota Medan dan menjadi daya tarik wisatawan saat mengunjungi Kota Medan. Untuk mewujudkan tarian Ahoi menjadi tarian setara tarian Poco-Poco pihak Pemko Medan akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Medan agar tarian ini wajib digelar saat senam pagi di sekolah-sekolah negeri maupun swasta. Selain itu pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Stakeholder terkait.


Tari Ahoi awalnya adalah salah satu jenis tarian khas yang dimiliki oleh suku Melayu di Kabupaten Langkat. Tari Ahoi ini tidak terlalu dikenal oleh masyarakat layaknya tari-tari Melayu yang ada. Tari Ahoi juga mendapat pengaruh dari Aceh. Tari ini juga disebut Mengirik Padi. Tari ini menceritakan tentang kegiatan mengirik padi para petani saat masa panen tiba.

Mengirik adalah menginjak atau menebah tanaman padi agar bulir-bulir padi yang masih melekat pada tangkainya terlepas, dikarenakan pada zaman itu belum ada mesin perontok padi seperti yang dapat ditemukan dimasa sekarang.

Tari mengirik padi pada masyarakat Melayu merupakan hasil kegiatan budaya yang diwujudkan dalam imitasi gerak-gerak kegiatan bertani ketika panen. Para petani mengirik padinya sendiri atau melakukannya secara berkelompok. Zaman dahulu sifat gotong royong itu masih sangat diutamakan dalam masyarakat, saling membantu satu sama lain agar pekerjaan mengirik padi cepat selesai. 

Di Langkat, budaya mengirik padi dilakukan kaum pria secara bersama-sama. Seorang petani memanggil petani-petani lainnya untuk datang membantu proses pengirikan padi. Mereka melakukan pekerjaan mengirik padi sambil melantunkan dedeng dan sambil menggerakkan tubuh secara berirama.

Setiap gerakan tersebut yang kemudian dijadikan tari memiliki makna. Dedeng adalah nyanyian khas masyarakat setempat yang liriknya berisikan kata-kata kebahagiaan dan bersyukur kepada Tuhan atas hasil panen yang mereka dapatkan.

Para petani yang mengirik padi sambil diiringi oleh dedeng mengakibatkan tubuh merekapun terbawa oleh irama dedeng secara tidak sadar. Proses pengirikan tersebut menginspirasi para petani untuk membuat gerakan rampak yang merupakan awal terciptanya Tari Ahoi. 

Disebut Tari Ahoi, karena biasanya para petani akan memanggil petani lainnya sambil mengalu-alukan kata ahoi sebagai isyarat untuk segera berkumpul. Dalam lirik lagu dedeng, kata ahoi dinyanyikan secara berulang-ulang. 

Dengan hadirnya tarian Ahoi dalam format baru di Sumatera Utara diharapkan menjadi “ikon baru” dalam khazanah tarian adat yang ada di Sumatera Utara yang juga dikenal sebagai provinsi multietnik dan merupakan miniaturnya Indonesia.

Tarian Ahoi melambangkan keberagaman yang identik dengan Bhinneka Tunggal Ika, serta implementasi dari semangat patriotisme dan nasionalisme. Persembahan tarian Ahoi ini merupakan refleksi dari semangat perjuangan yang menjadi suasana kebatinan dan pelajaran moral bagi kita semua, yakni semangat persatuan Indonesia.

Itulah tadi artikel yang berjudul "Tarian Ahoi Kota Medan, Refleksi dari Semangat Persatuan Indonesia" diulas secara lengkap oleh Dewi Ayu Larasati, SS, M. Hum. Semoga bisa menjadi referensi bagi pembaca sekalian. Trimakasih, 

0 Response to "Tarian Ahoi Kota Medan, Refleksi dari Semangat Persatuan Indonesia "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel