Randai, Teater ala Rakyat Minangkabau


Randai adalah salah satu pertunjukan Minangkabau yang berupa aksi teater yang dimainkan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran dan menggabungkan beberapa unsur seni di dalamnya.

Sejarah Randai 


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, randai diartikan mengarungi. Dalam artian bahasa Minangkabau adalah jenis tarian yang dilakukan dalam formasi melingkar disertai nyanyian dan tepukan tangan.

Sebelum randai menjadi semacam teater yang berkembang pada saat ini, dahulunya randai adalah sebuah tarian yang bernama tarian randai.  Pada awalnya, randai adalah media untuk menyampaikan kaba atau cerita melalui gurindam yang didendangkan, serta diikuti tarian yang bersumber dari gerakan silat Minangkabau.

Sebagai kebudayaan yang bersifat dinamis, pada tahun 1932 tarian randai berkembang menjadi randai yang kita lihat pada saat sekarang, yaitu adanya unsur penokohan atau teater.

Pertunjukkan randai berkembang pesat di Luhak Lima Puluh Kota, dimana wilayah ini tradisi Minangkabau berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. Gerakan randai dengan formasi melingkar melambangkan kesatuan dan persatuan, terkadang ditampilkan di alam terbuka yang menggambarkan kesatuan hidup manusia dengan alam.

Unsur Pokok Randai

a) Cerita (Kaba)

Cerita yang disampaikan dalam randai berasal dari kaba, peristiwa, dan kejadian dalam kehidupan masyarakat Minangkabau baik itu nyata atau fiktif dan biasanya bertemakan budi pekerti, susila, pendidikan, dan menanamkan kesadaran berbangsa.

b) Dialog dan Akting

Dialog dan akting dalam randai memiliki kekhasan tersendiri. Dialog pada randai menggunakan bahasa Minangkabau dan cara penyampaianya mirip dengan cara berpantun yang diikuti dengan gerak. Dialog antar tokoh seperti berbalas pantun. Sedangkan dalam segi akting, randai menggunakan babaleh silek. Babaleh silek yaitu seni beladiri yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau berupa gerak tangkap dan lepas dalam pertarungan.

c) Gurindam (Dendang)

Dendang termasuk salah satu seni musik tradisi Minangkabau yang berbentuk vokal atau suara yang dihasilkan oleh manusia. Dendang digunakan sebagai transisi perubahan adegan, waktu, dan latar pada randai. Syair dendang menggunakan bahasa daerah Minangkabau.

Dendang yang digunakan pada pertunjukkan randai tergantung dari tema ceritanya, jika ceritanya sedih maka akan menggunakan dendang ratok (ratap) dan begitu sebaliknya. Dendang dinyanyikan oleh biduan yang disebut dengan padendang.

Biasanya padendang terdiri atas satu atau dua orang.  Mengenai aturan atau cara berdendang sebenarnya tidak memiliki aturan yang resmi. Melainkan setiap padendang memiliki cara dan gaya tersendiri dalam membawakan dendang. Ciri khas gaya dendang Minangkabau yaitu adanya garinyiek atau suara yang meliuk-liuk.

Ada 3 dendang yang wajib digunakan dalam randai:

1. Dayang Daini, merupakan dendang persembahan sebagai salam kepada penonton dan pertanda randai akan dimulai.

Ampun baribu kali ampun
Ampunkan kami niniak jo mamak 
Jari sapuluah nan kami susun
Maaf jo rila nan kami minta

2. Simarantang Randah, sebagai dendang untuk memulai legaran pertama.

Balai balai basimpang tigo 
Sasimpang jalan ka pacuan
Sungguah randai pamenan mato
Akhiraik usah dilupokan

3. Simarantang Tinggi, dendang yang disampaikan untuk menutup cerita.

Jikok ado jarum nan patah 
Usah disimpan dalam peti 
Latakan sajo di pamatang 
Jikok ado kato nan salah 
Usah disimpan dalam hati 
Buanglah sajo kabalakang sanak e


d) Gelombang 

Gelombang adalah gerakan melingkar yang disertai tepukan tangan, paha, dan tepukan pada celana galembong. Lingkaran gelombang disebut dengan legaran. Para pemain gelombang biasanya terdiri dari 14 sampai 25 orang.

Di antara pemain gelombang terdapat  janang dan satu atau dua tukang goreh. Janang bertugas untuk memberikan aba-aba pada semua gerakan randai. Sedangkan tukang goreh memimpin dan mengeluarkan kode berupa suara hep ta atau ais ta.

Kode yang diberikan oleh tukang goreh bertujuan untuk menentukan cepat atau lambatnya gerakan seiring dengan dendang atau gurindam. Hal ini agar para pemain gelombang terlihat kompak dan seirama. Gerakan yang digunakan berdasarkan pada gerak tradisi Minangkabau yaitu silek.

Unsur Tambahan Randai

Sebagai salah satu kesenian tradisional yang kompleks, di dalam randai terdapat berbagai cabang seni di dalamnya.

1. Seni Musik 
Musik di dalam randai terbagi atas dua yaitu:

  • Musik internal, yaitu musik yang berasal dan diciptakan oleh pemain. Seperti vokal dan dendang
  • Musik eksternal, yaitu musik yang berasal dari alat musik seperti talempong, pupuik, gandang, saluang, canang, dan bansi. 


2. Seni Tari

Dari cabang seni tari, dapat dilihat dari gerakan tari dalam randai yang berupa gerakan dasar pencak silat yang disertai dengan tepukan tangan, paha, dan tepukan pada celana galembong.

3. Seni Rupa

Dari cabang seni rupa, dapat dilihat dari penataan rias dan kostum. Wajah para pemain akan di rias sesuai dengan karakter yang dimainkan. Untuk kostum, menggunakan kostum khas Minangkabau dan sarawa galembong.

Hal yang menjadi salah satu keunikan dalam randai adalah pemakaian celana galembong oleh para pemain, yaitu celana berselaput terlihat seperti selaput bebek jika dilebarkan. Tujuan dari selaput itu untuk mengeluarkan bunyi yang keras saat gerakan pencak silat.

4. Seni Sastra

Dari segi seni sastra, dapat dilihat dari cerita dan dialog yang digunakan. Cerita yang dibawakan bersumber dari kaba atau cerita rakyat Minangkabau yang terkenal. Pada pertunjukkan randai, dialognya menggunakan bahasa Minangkabau, berbentuk pantun yang kadang-kadang menggunakan kiasan dan penyampaian dialog antar tokohnya seperti berbalas pantun.

5. Seni Teater 

Dari segi seni teater, dapat dilihat pada cara penyajian pertunjukkan randai dan gaya penokohan atau akting pemain.

Cerita (Kaba) yang Dipertunjukkan dalam Randai 

1. Kaba Cindua Mato

Kaba Cindua Mato mengisahkan cerita seorang pembantu utama Kerajaan Pagaruyung dalam membela kebenaran. Dalam kaba Cinduo Mato ini yang menjadi tokoh utama adalah Cinduo Mato. Tema pokok pada kaba Cindua Mato ini, yaitu mengenai perjuangan Cindua Mato yang mengagungkan Ratu Kerajaan Pagaruyung.

Tokoh yang ditonjolkan adalah Bundo Kanduang sebagai ratu dan Dang Tuanku sebagai raja alam Minangkabau, sedangkan Cindua Mato merupakan tokoh yang berusaha mengukuhkan kebesaran dan keagungan Ratu dan Raja Minangkabau dengan cara membasmi kezaliman dan menegakkan kebenaran.

itu, dalam kaba Cindua Mato juga memperlihatkan bagaimana citra perempuan, apakah sesuai dengan kedudukannya dalam adat Minangkabau. Amanat dari cerita ini adalah jangan suka menodai, membohongi, dan menipu raja yang baik.

2. Kaba Anggun Nan Tongga

Kaba Anggun Nan Tongga mengisahkan tentang seorang pemuda yang bernama Anggun Nan Tongga. Anggun Nan Tongga adalah seorang pemuda tampan dari Kampung Dalam, Pariaman. Sejak kecil ia telah ditinggalkan oleh ibu dan ayahnya, dan ia diasuh oleh saudara perempuan ibunya yang bernama Suto Suri.

Menurut cerita rakyat Sumatera Barat, Anggun Nan Tongga kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda tampan dan cerdas. Ia mahir bersilat, berkuda, dan pandai mengaji serta memiliki ilmu agama yang kuat.

Semenjak kecil, Anggun Nan Tongga telah dijodohkan dengan Gondan Gondoriah. Ia adalah anak dari saudara laki-laki ibundanya. Selain menceritakan kisah cinta Anggun Nan Tongga dengan Gondan Gondoriah, kaba ini juga menceritakan perjalanan Anggun Nan tonggga dalam mencari ketiga pamannya yang tidak pernah kembali saat merantau. Amanat dari cerita ini adalah agar kita selalu menjaga hubungan kekerabatan dengan saudara.

3. Kaba Rambun Pamenan

Kaba Rambun Pamenan menceritakan perjalanan Rambun Pamenan dan kakak perempuannya, Rono Pinang. Ketika Rambun Pamenan berusia lebih kurang dua bulan, ayahnya jatuh sakit dan meninggalkan ibunya yang bernama Puti Linduang Bulan. Linduang Bulan lalu dilamar oleh Rajo Angek Garang.

Meskipun Linduang Bulan menolak lamaran itu, ia tetap dipaksa meninggalkan anak-anaknya dan ikut dengan Rajo Angek Garang. Tinggallah Rambun yang masih dalam ayunan dijaga oleh kakaknya Rono Pinang.

Setelah Rambun berusia sekitar tujuh tahun, Rambun mendapat kabar yang dikirimkan ibunya melalui Alang Bangkeh, dalam surat itu Linduang Bulan menceritakan keadaannya dalam penjara Rajo Angek Garang.

Rambun bertekad mencari dan membebaskan ibunya. Perjuangan Rambun tidak sia-sia, ia berhasil membebaskan dan membawa ibunya kembali ke istananya dan hidup bersama kakaknya Rono Pinang. Amanat dari cerita ini adalah selalu berbakti kepada orang tua, tidak boleh berputus asa seberat apapun masalah yang kita hadapi, dan harus tetap menghadapi masalah sepahit apapun itu.

Fungsi Randai 

  1. Sebagai seni pertunjukan yang di dalamnya juga disampaikan pesan dan nasihat.
  2. Sebagai pertanda adanya upacara adat.
  3. Sebagai media penyampaian kaba atau cerita rakyat.


Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa randai merupakan salah satu contoh dari banyaknya kebudayaan yang ada di Indonesia. Sebagai negara yang multikultural, membuat Indonesia kaya akan budaya, bahasa, dan suku.

Akan tetapi, saat ini kebudayaan lokal menjadi suatu hal yang dilupakan oleh generasi penerus. Dengan perkembangan teknologi yang memadai, membuat budaya asing mudah berkembang sehingga membuat generasi penerus melupakan kebudayaan lokal.

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai generasi pewaris dan penerus bangsa agar dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya menjaga kebudayaan Indonesia.

Demikianlah serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Teater Randai. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Fania Mufti ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Randai, Teater ala Rakyat Minangkabau"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel