Tengkuluk Permata Elok dari Jambi

Busana atau biasa di sebut Pakaian merupakan salah satu kebutuhan wajib bagi manusia. Pengertian busana menurut kamus Umum Bahasa Indonesia adalah pakaian (yang indah-indah), perhiasan. Dengan demikian busana adalah segala sesuatu yang dikenakan oleh seseorang yang terdiri dari pakaian itu sendiri, ataupun beserta pelengkap pendukungnya mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Menurut Arifah A. Riyanto dalam bukunya Teori Busana, mengatakan bahwa kata busana diambil dari bahasa sanskerta yaitu “bhusana”. Dalam Bahasa Indonesia “busana” dapat diartikan “pakaian”. Meskipun demikian pengertian busana dan pakaian terdapat sedikit perbedaan, dimana busana mempunyai konotasi ”pakaian yang bagus atau indah” yaitu, pakaian yang serasi, harmonis, selaras, enak dipandang, nyaman melihatnya, cocok dengan pemakai serta sesuai dengan kesempatan pemakaian”.

Pakaian juga Termaksud sebagai kebutuhan primer selain pangan dan tempat tinggal. Biasanya pakaian di pakai sesuai fungsi misalnya penduduk suku Es Kimo mereka mengunakan pakaian tebal berbahan bulu Beruang fungsinya untuk menghangatkan tubuh mereka di daerah yang memang beriklim winter. Bisa di lihat pula pengunaan pakaian oleh masyarakat yang berada di dataran padang Gurun.

Mereka cenderung mengunakan pakaian yang hampir menutupi seluruh tubuh, termaksud pada bagian hidung agar terhindar dari panasnya terik matahari dan terbangan pada debu pasir Gurun. Biasanya cenderung berwarna gelap dengan bahan yang tebal tapi cukup hangat bagi penguna nya.

Tengkuluk merupakan ikat kepala bagi kaum perempuan khas Jambi bagian dari salah satu tinggalan pada zaman melayu dan Konon dulu di pakai oleh para bangsawan dan menjadi salah satu pakaian di zaman itu. Bagian dari pakaian para bangsawan Perempuan layak nya kain yang di bentuk sedemikian rupa dan di jadikan sebagai tutup kepala. Bahan dasar nya dulu biasa nya kain songket, batik, maupun kain percak yang cukup tebal.

Sumber: Dokumen Pribadi (Replika, Koleksi Museum Siginjai), 2018
Meskipun telah berganti zaman hingga ke generasi abad 20, pengunaan tengkuluk terus dipakai dan dilestarikan meskipun dengan bergesernya fungsi awal tengkuluk itu sendiri. Sekarang tengkuluk menjadi pakaian wajib bagi anak sekolah dan mahasiswa pada hari kamis. Bahkan sering juga digunakan pada pesta perayaan tertentu salah satu nya pesta adat dan pernikahan.

Tengkuluk pun sudah semakin modern, dengan bentuk dan cara pengunaan nya tidak seperti dulu. hanya sebuah kain utuh yang harus di bentuk sedemikian rupa dan sedikit membutuhkan waktu untuk menatanta.

Sekarang ada tengkuluk yang langsung pakai dengan bentuk tak kalah bagus dari bentuk asli nya. Motif pada tengkuluk pun beragam rata-rata berbentuk flora dan Fauna biasanya berwarna cenderung mencolok dengan tekstur mirip kain batik. Salah satu nya corak “Angso Duo”

Soraya (2018) yang merupakan salah satu pengurus Balai Kerajinan Rakyat Selaras Pinang Masak mengatakan bahwa motif “Angso Duo” merupakan motif yang paling banyak diproduksi dan diminati, namun penerapan motif ini masih sebatas busana formal saja, seperti kemeja, busana seragam kerja atau instansi berbahan batik, dan para perempuan Seberang Kota Jambi menjadikannya sebagai hiasan kepala, yang disebut ‘tengkuluk’ dan hiasan di kepala lakilaki yang disebut ‘lacak’.  

Motif “Angso Duo” juga memiliki nilai filosofis yang sangat mendalam. Berdasarkan legenda ragam hias motif “Angso Duo”, filosofi yang terkandung ialah nilai kerukunan dan kesetaraaan jender, kegigihan dan kesabaran dalam berusaha, serta nilai keselarasan antara sesama manusia sebagai mahluk yang dimuliakan. Dimana makna yang ingin disampaikan dalam motif ini yaitu tentang keserasian dan rasa saling membutuhkan antar sesama makhluk hidup dalam menata kehidupan (Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Jambi, 2014).  

Tengkluk juga menjadi bagian dari potensi budaya daerah Jambi. menurut Yoeti (1982), “Potensi budaya adalah semua hasil cipta, rasa, dan karsa manusia baik berupa adat istiadat, kerajinan tangan, kesenian, peninggalan bersejarah nenek moyang berupa bangunan, monument. Dimana bisa di lihat berkembang nya beberapa sentral pusat kerajian di daerah Jambi di tambah dengan didukungnya oleh pemerintah terkait seperti Dekranasda Provinsi Jambi dan Balai Kerajinan Rakyat Selaras Pinang Masak. Sebagai pihak prantara dan media promosi itu sendiri.

Provinsi Jambi meraih Penghargaan Bidang Industri Tahun 2017 dari Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Penghargaan diberikan oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto kepada Hj.Ratu Munawwaroh Zulkifli, mantan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jambi, bertempat di Ruang Garuda Kantor Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (2/8/2017) siang.( Nuansa Jambi 2017)

Sumber: Sheerin Tharia Zola, Ketua Dekranasda Provinsi Jambi (Foto : Humas) 2017
Nah, itulah tadi serangkain artikel yang sudah dituliskan secara lengkap oleh Septi Kasiningsih T.Gea terkait dengan "Tengkuluk Permata Elok dari Jambi". Semoga bermanfaat, trimakasih.

2 Responses to "Tengkuluk Permata Elok dari Jambi"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel