Tentangnya yang Tak Tergantikan

Langit seolah terbata memangku bulan, bintang gemintang menyumpal seluruh keindahan atap alam, malam yang dingin mulai menyapa menelan keramaian, sunyi perlahan mendekap bumi, dan mata hanya mengedip bertahan menahan kantuk lelah, suara-suara denting mangkuk penjual bakso menyisir tepi jalan bersaing dengan derik jangkrik yang sesekali mengalahkan irama ilalang bergoyah di tanah liar.seperti sudah lumrah memang, ya inilah deskripsi tentang desaku, sebuah tempat kampung halaman yang jauh rincuh dari kebisingan kota, tempat yang terpencil memang, namun sangat hangat dengan belaian rasa sayang sesama antar keluarga maupun tetangga sebelah kanan dan kiri.

Yang pastinya akan memberikan rasa rindu yang amat sangat bagi mereka yang meninggalkan kota ini, baik untuk mengejar ilmu, maupun untuk bekerja mencari nafkah. Pasti ingin sekali pulang ke kampung halaman untuk kembali.

Tulungagung, Jawa timur, sebuah kabupaten kecil mungil yang terletak di pinggiran pulau Jawa timur, yang bertepatan dengan laut yang memisahkan pulau jawa dengan laut landas yang mengantarkan kepada Negara Australia.

Jikalau ada yang menyebut Tulungagung adalah kota yang tak ada apanya mungkin memang iya, ia tak memiliki gedung megah pencakar langit yang bisa menjadi hiasan perkotaan, pusat perbelanjaan yang bertingkat dan mewah pun mungkin akan jarang dijumpai, namun banyak pula yang hanya terdapat di kota mungil ini yang tak terdapat di kota lain.

Seperti Ponorogo yang mempunyai budaya khas “reog ponorogo” Tulungagung mempunyai budaya khas tentang perayaan hari kelahiran kabupaten. Mungkin tidak terlalu mencolok untuk dapat di jadikan budaya khas, namun keistimewaan di kota ini adalah tentang human interest yang mungkin bisa dibilang hanya terdapat disini, lagak yang ramah dan renyah mungkin menyelimuti semua penduduk kampung di semua penjuru Tulungaagung, baik di pelataran desa, maupun yang hidup di kota nya.

Yang menjadi lebih khas lagi adalah tentang marmernya. Kota “boyolangu” disanalah tempat marmer lahir dan berasal, pegunungan yang berjajar rapi seakan menjadi benteng dari kota kecil ini ternyata menyimpan kekayaan alam yang menjadikan kota ini sebagai penghasil marmer terbaik di Indonesia, disinilah marmer di olah dan resmi dijadikan perabotan rumah yang tak ternilai harganya, daya saingnya pun sudah sampai di kancah luar negeri.

Tentang alam yang tak terduga isinya, mungkin memang Tuhan telah menitipkan tempat indah yang belum terjamah oleh banyak telinga di dunia ini, namun di sinilah terdapat tempat yang mana dapat membuat semua orang tertegun olehnya, memanjakan mata sekaligus mengingat keagungan sang Ilahi yang telah menciptakan ini semua.


Salah satunya adalah “pantai coro” mungkin tak banyak yang telah mendengarnya, namun memang disanalah tempat dimana mata manusia dapat menjadi sangat terbuka lebar karena keindahan sang maha pencipta, yang sangat mencintai umat manusia-Nya.

Mungkin kota Tulungagung tak seberapa dikenalnya dari pada Bali, Malang, Bandung, Yogyakarta dan sebagainya, namun disinilah salah satu tempat yang mempunyai banyak potensi yang masih tertutup. Namun perlu diketahui bahwa tulungagung adalah kota pesisir pantai yang dikelilingi banyak pantai yang indah dan menawan, mungkin bisa dibilang tak jauh beda dengan pantai kute yang sangat membumi di telinga manusia di dunia ini.

Makanan khas yang terdapat di kota ini pula bukanlah makanan yang mewah yang terdapat di dalam gedung mewah menawan, namun “sego tiwul” adalah makanan khas yang dapat ditawarkan oleh kota ini. Berposisi sama seperti nasi, sego tiwul bukan berasal dari beras, namun berasal dari tepung singkong yang telah difermentasikan. Menjadi berwarna coklat bahkan sampai hampir ke-hitaman, mungkin tak layak bagi mereka yang belum pernah menjajalkannya di lidah mereka, namun akan terasa nikmat yang tiada tara setelah sego tiwul itu telah mendarat di lidah manusia.

Didampingi dengan “lodho, lalapan, sambel trasi, kembang turi” sego tiwul dapat menjadi salah satu makanan khas Tulungagung yang tidak akan dijumpai di daerah manapun.

Tulungagung erat kaitannya dengan Trenggalek dan Blitar, Trenggalek..tempat asal seorang pak Emil Dardak menjabat sebelum menjadi gubernur Jawa timur, beliau yang meninggalkan jejak yang sangat baik untuk kota Trenggalek ini. Selain bendungan yang sedang di bangun, Trenggalek adalah alam pemilik cengkeh yang banyak tertanam di daerah ini. Trenggalek kota wisata alam dan goa, berdiri dengan sejuta potensi di dalamnya.


Selanjutnya adalah kota Blitar. Inilah saudara kandung kota Tulungagung terakhir yang akan ditulis. Kota Blitar adalah kota pilihan presiden pertama Indonesia untuk dijadikan sebagai kota terakhir dalam hidupnya, menenangkan dirinya sebelum bertemu kasih dengan sang Ilahi robbi, menenggelamkan hatinya di kota yang temaram ini, tak megah untuk ukuran presiden Indonesia, namun nyatanya kota ini spesial baginya hingga menjadi tempat terakhir beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

Presiden Ir. Soekarno, siapa yang tak tahu dengan nama legendaris ini..presiden pertama Indonesia yang sebagai tokoh proklamator yang telah memerdekakan Indonesia di tahun 1945 di makamkan di kota ini. Blitar yang lebih sering disebut kota Patria, menjadi tanah dimana Ir.Soekarno beristirahat untuk terakhir kalinya. Blitar kota patria yang menjadi kota bersejarah bagi penduduk sekitarnya untuk selalu mengenang perjalanan berat Ir.Soekarno sebagai pahlawan yang mengantarkan Indonesia sebagai Negara yang merdeka.

Dan dengan kampung coklat sebagai salah satu penyokong kota ini. Disinilah adanya kampung coklat untuk pertama kalinya, menanaam, mengolah dan menjadikan coklat menjadi makanan yang tak akan dilupakan oleh semua manusia, karena siapa bahkan di dunia ini yang tak pernah mendengar nama “coklat?”pasti tak ada kan? maka disinilah kami menawarkan wisata edukasi yang tak ternilai harganya.

Dari bagaimana mulai menanam, memelihara, memanen, hingga proses mengolahnya yang menjadikan coklat sebagai barang yang sangat umum di lidah manusia, yang menjadi rasa di setiap makanan ataupun minuman. Semuanya ini  mendorong kota Blitar menjadi salah satu kota yang ingin disinggahi untuk wisata sejarah dan pelajaran yang tak terhingga.

Demikianlah apa yang dapat dipaparkan oleh penulis, tak banyak memang, namun kota Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek adalah tiga kota yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, menjadi pendorong antara satu dengan ketiganya. Mungkin biasa disebut BATAREA yang mana gabungan nama dari ketiganya.

Ya, Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek ketiganya tak besar memang, namun penulis sebagai penghuni asli kota ini, menyatakan ketiganya adalah kota dengan sejuta misteri didalamnya, siapapun yang dapat mengenali dan merasakan kota ini dengan baik, maka tak akan mampu untuk meninggalkanya, karena penulis sendiri sedang berada di ratusan kilometer jauhnya untuk mengejar mimpi, namun dalam hatinya BATAREA berdiri kokoh untuknya, menyimpan banyak harapan agar kota ini menjadi kota yang damai bagi siapapun yang pernah menginjakkan kakinya disini, menghirup nafas disini, dan menginjakkan kakinya di tiga kota ini.

Tentang BATAREA yang damainya temaram menjadi satu-satunya tempat untuk melepas rindu dan menghilangkan kepenatan hidup. Penulis artikel ini adalah Fitria Rahmandani

0 Response to "Tentangnya yang Tak Tergantikan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel