Tradisi Ketika Bulan Ramadan dan Lebaran di Desa Alian

Bulan Ramadhan merupakan bulan suci yang penuh berkah dalam kepercayaan umat Islam. Maka dari itu, ketika bulan ini datang maka umat Islam bersuka cita dan menyambut bulan Ramadan, termasuk masyarakat di Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.

Masyarakat Indonesia mulai menyambut bulan Ramadan hingga merayakan Lebaran. Indonesia adalah Negara kepulauan yang tentunya terdiri dari ribuan pulau. Setiap daerah di Indonesia memiliki adat dan istiadatnya tersendiri, dan hal ini berlaku juga ketika masyarakat Indonesia di daerah tertentu menyambut bulan suci Ramadan dan merayakan hari Lebaran.

Ada beberapa tradisi khas yang biasa dilakukan di bulan Ramadan dan memiliki keunikan tersendiri. Tradisi khas ini biasa dilakukan di berbagai desa di seluruh pelosok Indonesia, termasuk warga desa Alian, kelurahan Kalirancang, kabupaten Kebumen. Ketika bulan Ramadan tiba, warga di desa ini beramai-ramai menyambut kedatangan bulan suci Ramadan.  Bahkan, sebelum bulan Ramadan sudah dilakukan kegiatan untuk menyambut bulan suci.

Kegiatan yang biasa dilakukan untuk menyambut bulan Ramadan ini dilakukan pada bulan Shaban. Kegiatan tersebut mewajibkan seluruh warga desa Alian baik yang mampu maupun kurang mampu untuk memberikan hasil panen mereka ke Balai Desa tanpa ada batasan minimum atau maksimum dari hasil panen yang akan diberikan.

Setelah sedekah hasil panen tersebut terkumpul, maka pemuka agama setempat akan membacakan serangkaian doa pada hasil panen. Kemudian , hasil panen yang telah dibacakan doa akan diambil kembali oleh warga desa secara berebut. Semakin banyak hasil panen yang dikumpulkan oleh seorang warga maka dipercaya akan semakin banyak berkah yang didapat orang tersebut.

Tradisi ini mencerminkan bahwa umat islam dalam melaksanakan bulan Ramadan, harus memanfaatkan keberkahan pelipat gandaan pahala yang ada pada bulan ini dengan melaksanaan sejumlah ibadah, berbuat kebaikan, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

Ketika memasuki bulan Ramadan, desa Alian melakukan tradisi yang bernama Munggahan yang dilaksanakan diawal Ramadan. Dalam tradisi ini, warga desa membuat tumpeng yang didalamnya berisikan ayam kampung utuh yang biasa disebut Mogana.

Yang membuat makanan ini unik tentu saja terletak di keadaan ayamnya yang diharuskan utuh. Selain tidak boleh dipotong menjadi beberapa bagian, kakinya pun tidak boleh dipotong bagian kukunya, hanya boleh dibersihkan saja demi menjaga keutuhan ayam tersebut.

Tumpeng ini dibuat untuk melambangkan doa yang diberikan oleh warga desa kepada para leluhur mereka. Setelah selesai, tumpeng akan dimakan oleh warga desa Alian bersama-sama. Jika diamati lebih dalam, Munggahan ini memiliki makna khusus ketika mengirimkan doa kepada leluhur mereka.

Warga desa Alian menganggap bahwa ayam kampung yang utuh adalah bentuk dari doa mereka yang sangat utuh dan tulus untuk para leluhurnya. Tentu saja bentuk doa kita kepada leluhur yang sangat utuh adalah makna tersendiri bagi kita semua untuk selalu mengingat para leluhur dan mendoakannya dengan baik dan tulus sehingga membentuk doa yang sangat kuat dan utuh.

Setelah menjalani puasa Ramadan dengan baik, akan tiba hari kemenangan. Dalam menyambut hari kemenangan , sebelumnya dilakukan malam takbiran. Pada malam takbiran ini ada satu kebiasaan yang dilakukan warga desa Alian, yaitu masyarakat harus membayar zakat pada malam takbir saja, batas waktu dimulai dari Maghrib hingga menjelang subuh. Selain malam takbiran, masyrakat tidak boleh membayar zakat meskipun Islam memperbolehkan hal ini.

Selain keunikan peraturan waktu zakat yang ditentukan, terdapat satu tradisi yang dilakukan oleh warga desa Alian yaitu Pawai Obor. Pawai Obor yang dilaksanakan oleh warga desa Alian berupa kegiatan arak-arakan untuk anak-anak maupun remaja yang telah Khataman Qur’an selama bulan Ramadan oleh teman teman mereka yang belum menyelesaikan Khatam Qur’an.


Gambar 1. Pawai Obor Khataman Qur’an

Ketika Lebaran tiba, tepatnya setelah dilaksanakannya sholat ied, warga desa Alian akan melakukan ziarah kubur dengan istilah mundak nang kuburan yaitu , ziarah , membersihkan kuburan , serta mendoakan keluarga yang telah meninggal tersebut. Setelah berziarah biasanya masing-masing keluarga desa melakukan Sungkeman, yang dimana anggota keluarga saling bermaaf-maafan di hari lebaran. 

Tradisi ini biasanya dilakukan oleh anak ke hadapan orang tua atau keluarga yang lebih tua (pinisepuh) untuk menunjukkan tanda bakti dan rasa terima kasih atas bimbingan dari lahir sampai dewasa. Sungkem dilakukan dengan jongkok sambil cium tangan (NU Online, 2019).

Setelah sungkeman berakhir, warga pun biasa bertemu atau menemui sanak saudara mereka di sekitaran desa Alian dengan tujuan untuk memperat tali silahturami dan saling bermaafan di hari Lebaran.

Seminggu setelah hari lebaran umum (tanggal 1 Shawwal), dilaksanakan acara bernama lebaran ketupat oleh warga desa Alian. Lebaran ketupat adalah acara dimana seluruh warga desa Alian berkumpul di Balai desa.

Kegiatan yang diselenggarakan adalah pesta rakyat dengan serangkaian pertunjukkan menonton wayang dan ebeg (kuda lumping). Dilaksanakannya lebaran ketupat , dimana seluruh warga desa berkumpul di balai desa dan menikmati acara, agar dapat mempererat ukhuwah antar sesama warga desa Alian.

Gambar 2. Ebeg

Setelah lebaran ketupat , warga desa melakukan ziarah untuk kedua kalinya yang disebut dengan turun. Indonesia merupakan Negara yang mayoritas penduduknya adalah Islam, oleh karena itu Indonesia yang memiliki banyak daerah dengan budaya dan ciri khasnya masing-masing, daerah di Indonesia juga memiliki berbagai tradisi maupun kebiasaan unik di bulan Ramadan. Tentu saja berbagai kegiatannya memiliki makna tersendiri, dan tentu saja mengarah pada kebaikan.

Demikian adalah artikel mengenai Tradisi Bulan Ramadhan yang ditulis oleh Daffa Azalia. Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang ingin mempelajari berbagai tradisi yang ada di Indonesia. Salam budaya!

0 Response to "Tradisi Ketika Bulan Ramadan dan Lebaran di Desa Alian"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel