Tradisi Ingkung Suran


Bertempat di Masjid Banyumudal Kuwarisan, Panjer, Kebumen. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di wilayah Jawa Tengah. Konon masjid ini dibangun sebelum tahun 1401. Hingga kini, masjid tersebut masih  berdiri dengan kokohnya.

Ada tokoh agama yang bernama Syekh Ibrahim Asmorokondi, beliau meninggalkan sebuah tradisi yang bernama “Ingkung Suran”. Ingkung Suran merupakan sebuah tradisi Jawa yang dilaksanakan pada setiap bulan Sura (Muharam) tepatnya pada hari Jum’at Kliwon, namun apabila tidak pada Jum’at Kliwon akan digantikan pada hari Jum’at Pon dan dilakukan setelah shalat dzuhur.

Tradisi Ingkung Suran dilaksanakan untuk menghormati tradisi para leluhur, untuk mengetahui asal usul perjuangan Syekh Ibrahim Asmorokondi menyebar agam islam di Jawa, untuk mempererat dan menjalin silaturahim antar trah atau turunan dari dukuh Kuwarisan, untuk mengamalkan ibadah yakni berdoa tahlil, serta mengamalkan ibadah sodaqoh.

Media dari Ingkung Suran yakni ayam yang telah diingkung. Adapun syarat pembuatan ingkung ayam tersebut. Ayam yang diingkung merupakan ayam kampung jantan. Mengapa ayam kampung dan tidak ayam yang lain? Karena dahulu belum ada ayam selain ayam kampung dan disamping itu juga mengikuti petuah dari tradisi tersebut.

Ayam tersebuat benar benar halal. Ayam tersebut juga harus diolah dengan santan atau opor dalam keadaan utuh atau tidak terpotong potong.  Begitu pula saat sedang memasak ayam ingkung, ingkung ayam yang sedang dimasak tidak boleh dimakan atau dicecap sebelum didoakan di masjid, hal tersebuat agar kita menjaga etika.

Disamping itu bukan hanya ingkung ayam saja, namun disertakan pula nasi, lauk pauk, lalaban (timun, pete, kacang, dan lainnya), krupuk kulit dan masih banyak lagi. Semua itu dimasukan ke dalam wadah.

Adapun masyarakat yang mengikuti tradisi tersebut yaitu masyarakat yang merupakan trah atau keturunan desa itu dan yang sudah berkeluarga, misal dalam suatu rumah ada 5 keluarga dan masih dalam satu turunan maka membuat 5 ingkung ayam dan seterusnya. Ada pula pra acara tradisi Ingkung Suran. Pra acara tersebuat yakni:

  1. Kirab. Kirab atau iringan merupakan suatu hal yang dilakukan saat melakukan tradisi Ingkung Ayam dengan membawa wadah yang berisi ingkung ayam beserta isi lainnya dari balai desa Panjer menuju masjid Banyumudal.
  2. Sambutan. Sambutan tersebut terdiri dari sambutan panitia, sambutan muspika dan sambutan takmir masjid.
  3. Acara Inti. Pada acara inti terdapat hal hal yang dilakukan yakni membacakan asal usul tradisi suranan dan sejarah Syekh Ibrahim Asmorokondi, tahlil dan doa doa yang diimami oleh kyai atau ulama dan membuka tumpeng atau ingkung ayam untuk dimakan yang ingin atau dibawa pulang untuk makan bersama keluarga dan sebagian untuk sedekah dengan tetangganya
  4. Penutup. Itulah seputar tentang tradisi Ingkung Suran yang berada di Jawa dan yang dilaksanakan saat bulan Sura (Maharam). Dan tradisi tersebut berbeda cara prosesnya disetiap daerah Jawa.
Ya, demikian adalah serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tradisi Ingkung Suran. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Laili Ramadhani bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

1 Response to "Tradisi Ingkung Suran"

  1. artikelnya baguss, membuat pembaca bertambah wawasanya, terus berkarya 👍

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel