Tradisi Larung Sembonyo di Kota Gaplek


Trenggalek merupakan kota kecil loh jonawi yang berada dibagian selatan dari wilayah Propinsi Jawa Timur yakni terletak pada koordinat 111˚ 24` hingga 112 ˚ 11` bujur timur dan 7 ˚ 63` hingga 8˚ 34` lintang selatan.

Kota kecil yang sering disebut sebagai kota gaplek karena produksi gaplek atau ketela pohon yang berlimpah ini memiliki destinasi wisata yang menabjukan dan membuat mata terpesona, sehingga Trenggalek sering disebut sebagai surga yang tersembunyi di Propinsi Jawa Timur.

Beberapa wisata terbaik yang mampu memikat para wisatawan berkunjung ke kota gaplek ini antara lain goa lowo, pantai prigi, pantai blado, pantai pasir putih, pantai taman kili-kili dan masih banyak lagi.

Panorama pantai yang belum tersentuh tangan menyajikan keindahan yang mampu menggugah hati setiap pengunjungnya. Pun masyarakat yang terbuka dan berlandas tut wuri handayani memberikan kelegawaan bagi para wisatawan untuk ikut berbaur dalam ragam dan budaya mereka.

Di pesisir pantai Prigi Desa Tasikmadu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek kultur masyarakatnya masih sangat kental.  Hal ini dibuktikan dengan adanya Tradisi Labuh Larung Sembonyo yang dilakukan setiap tahun.

Tradisi ini dilaksanakan sebagai rasa syukur atas hasil yang diperoleh nelayan dari menangkap hasil laut serta berharap tangkapannya selalu melimpah dan diberi keselamatan ketika bekerja. Tradisi yang menjarah dikehidupan masyarakat pesisir pantai ini sudah dilaksanakan sejak puluhan tahun silam.

Labuh Larung sembonyo adalah upacara adat atau kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat nelayan dan petani utamanya bagi nelayan yang menggantungkan hidupnya di Teluk Prigi dalam penghormatan pada leluhur yang telah membuka atau babad alas.

Larung berasal dari bahasa Jawa yang berarti “menghanyutkan” lebih khususnya menghanyutkan makanan dalam bentuk sesaji (tumpeng) ke laut. Sedangkan Sembonyo berasal dari nama mempelai tiruan, yang berupa boneka kecil dari tepung beras ketan.

Adonan tepung ini dibentuk seperti layaknya sepasang mempelai yang sedang bersanding. Tradisi Larung Sembonyo dilakukan pada Senin Kliwon bulan Selo penanggalan jawa dan dilakukan setahun sekali sebagai ungkapan rasa syukur kepada tuhan serta sebagai peringatan pernikahan Raden Tumenggung Yudha Negara dengan Putri Gambar Inten.

Peringatan Sembonyo sudah menjadi agenda tradisi budaya masyarakat Kabupaten Trenggalek yang rutin digelar. Masyarakat pesisir teluk prigi meyakini bahwa jika upacara tersebut ditinggalkan ditakutkan akan ada gangguan dalam berlayar, kesulitan menangkap ikan, gagal panen, wabah, bencana alam dan musibah lainnya.

Prosesi pelaksanaan Labuh Larung Sembonyo ini dilakukan dengan beberapa tahap yakni persiapan, pelaksanaan, dan penutupan. Pada tahap persiapan, yang dilakukan yaitu pembuatan sesaji Ubo Ranpe yang terdiri dari kemenyan, rokok klobot, minyak wangi (lengo wangi), upet (mancung pohon kelapa), dan candu.

Sesaji berupa makanan dan minuman yaitu sepasang tiruan mempelai pengantin (sembonyo) yang terbuat dari tepung beras ketan yang dibentuk menyerupai pengantin, lodho sego gurih, mule metri,  nasi punar, buceng kuwat, buceng towo, buceng robyong, buceng kendit dan masih banyak lagi. Pada malam hari sebelum pelarungan atau penghanyutan terdapat agenda yang disebut dengan malam Tirakatan atau melekan.

Tahap pelaksanaan dimulai dengan membawa/ mengarak tumpeng disertai pembacaan doa-doa. Setelah selesai pembacaan doa, tumpeng dan segala sesajinya dibawa ke tepi pantai untuk dinaikkan ke atas perahu. Setelah berada di perahu, tumpeng dan sesaji dibawa ketengah laut untuk dihanyutkan sembari diiringi bunyi-bunyian gamelan dan gending.

Pelarungan atau penghanyutan tumpeng menjadi acara inti yang disambung dengan adanya pagelaran wayang kulit dan tayuban yaitu kesenian masyarakat Jawa berupa nyanyian dan jogetan yang dilakukan oleh para sinden  diiringi musik dari gamelan Jawa. Pada tahap penutupan dilakukan acara doa bersama yang dipimpin oleh pemuka agama.

Hal ini bertujuan agar serangkaian ritual yang dilakukan diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa supaya memberi berkah bagi masyarakat yang mencari nafkah di laut.

Tradisi Larung Sembonyo selain mampu menumbuhkan rasa gotong royong, pelestarian budaya daerah dan mempererat tali persauadaraan juga sebagai ajang promosi pemerintah daerah sebagai salah satu daya tarik wisatawan lokal maupun asing.

Demikian adalah artikel yang membahas mengenai Tradisi Larung Sembonyo yang ditulis oleh Wahdini Amalia Khasanah. Salam Budaya!

0 Response to "Tradisi Larung Sembonyo di Kota Gaplek"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel