Selayang Pandang Tradisi Lomban Jepara

Jepara adalah sebuah kota tua di Pulau Jawa yang pada masa keeamasannya dahulu merupakan sebuah pelabuhan niaga yang terbesar karena berada pada sebuah teluk yang aman dan merupakan titik paling ujung untuk memasuki Pulau Jawa.

Kondisi tersebut memungkinkan Jepara disinggahi oleh saudagar-saudagar dari negeri lain yang ingin membeli rempah-rempah dari Pulau Jawa yang menawarkan dengan mereka.

Dikota kecil ini terdapat budaya daerah yang bernama Tradisi Lomban, dimana merupakan puncak acara dari pekan Syawalan yang diselenggarakan pada tanggal 8 Syawal atau 1 minggu setelah Hari Raya Idul Fitri.

Pesta lomban sering juga disebut dengan Bodo Kupat karena seluruh masyarakat Jepara mulai dari desa hingga perkotaan merayakannya dengan menikmati hidangan kupat lepet dan disertai opor serta sambel goreng.

Lomban sendiri diartikan “Lomba-Lomba” yang berarti masyarakat nelayan pada masa itu bersenang-senang melaksanakan lomba-lomba laut. Sejarah dari lomban sendiri berlangsung lebih dari satu (1) abad yang lampau, bersumber dari tulisan tentang lomban yang dimuat dalam Kalawarti/Majalah berbahasa Melayu bernama “Slompret Melayu” yang terbit di Semarang pada paruh kedua abad XIX edisi tanggal 12 dan 17 Agustus 1893 yang menceritakan tentang kondisi lomban pada masa itu yang tidak berbeda dengan lomban sekarang.

Pesta Lomban yang berlangsung sejak jam 06.00 pagi dimulai dengan upacara pelepasan sesaji di TPI Ujung Batu. Upacara pemberangkatan sesaji Kepala kerbau yang dipimpin oleh Bupati Jepara, sebelum diangkut ke perahu sesaji diberi do’a oleh pemuka agama dan kemudian diangkat nelayan ke perahu pengangkut diiringi Bupati Jepara bersama rombongan. Sementara sesaji dilarung ditengah lautan antara Pantai Kartini dan Pulau Panjang.

Konon, banyak yang mengatakan bahwa nelayan yang berhasil mendapatkan sesaji kepala kerbau yang dilarung akan mendapatkan keberuntungan berupa tangkapan hasil melaut yang melimpah ruah. Sedangkan, Tujuan diadakannya Pesta Lomban ini adalah sebagai bentuk nyata peran pemerintah Kabupaten Jepara dalam melestarikan Budaya Lokal Jepara sebagai salah satu bentuk kearifan lokal. Selain itu, juga merupakan event untuk mempromosikan potensi wisata Kabupaten Jepara khususnya wisata budaya yang dimiliki Kabupaten Jepara.
   
Nah itulah artikel yang menjelaskan tentang Tradisi Lomban Jepara. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Rif’ati Ihsan ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Selayang Pandang Tradisi Lomban Jepara"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel